MEMBUDAYAKAN MEMBUAT HURUF DAN ANGKA DI KALANGAN GURU
Sunday, 26 July 2009 (21:26) | 667 views | 5 komentar
Oleh Bernadeth Budi Banowati
I.PENDAHULUAN
Membudayakan menulis di kalangan guru, sebuah kalimat yang perlu dicermati dengan sungguh-sungguh oleh para guru. Dalam kalimat tersebut tersirat suatu makna yang dalam dan merupakan suatu tantangan bagi kita para guru, khususnya bapak dan ibu guru yang banyak memiliki ide tentang hal-hal yang bersifat ilmiah, namun masih kurang punya kesempatan dan kemauan untuk menuangkan dalam suatu wujud tulisan. Semoga dengan adanya peluang yang telah dibuka oleh AGUPENA ( Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia ) Wilayah Propinsi Jawa Tengah melalui Lomba Penulisan Artikel sebagai ajang penuangan ide dan gagasan, dalam suatu tantangan yang bersifat dilombakan akan banyak menelurkan para penulis seperti munculnya cendawan dimusim penghujan atau lintang ing wayah wengi.
II.MENULIS
Menulis merupakan membuat huruf, angka dan lain sebagainya dengan menggunakan pena, pensil, kapur, mata pen, dan lain sebagainya. Menulis juga dapat berarti melahirkan pikiran, gagasan atau perasaan seperti mengarang, membuat surat. Menulis juga bisa berwujud menggambar atau melukis, jika menulis pada media kain berarti membatik. (Kamus Besar Indonesia, Depdikbud RI, 1988: 968)
Kata menulis, bagi sebagian kelompok orang, merupakan kata yang biasa-biasa saja, tidak ada kesan istimewanya. Namun disaat kata menulis itu mendapatkan tambahan kata yang lain dan apalagi dalam wujud suatu kalimat, kata menulis tersebut mulai berkesan dan bernilai, dan kesan yang pertama dan utama adalah apa yang akan ditulis dan bagaimana cara merangkai kata agar menjadi suatu bentuk tulisan yang sungguh dapat dimaknai oleh para pembacanya. Nah, dengan tulisan yang penulis paparkan ini, semoga akan dapat membuka cakrawala pandangan para pembaca yang budiman yang mempunyai angan-angan untuk menulis namun belum tertuangkan dalam wujud tulisan karena terkendala oleh sesuatu hal yang melatarbelakangi sehingga gagasan-gagasan atau ide-ide kurang terwujudnyatakan dalam suatu tulisan indah dan bermanfaat bagi orang lain, hal-hal tersebut antara lain; bagaimana cara mengawali membuat tulisan, bagaimana cara menulis yang benar dan akhirnya dapat memupus rasa-rasa tersebut dengan layakkah tulisan yang kutulis ini dibaca orang lain, lucu tidak ya tulisan ini, benar tidak ejaan-ejaan dalam penulisan ini, terkena sanksi atau tidak isi yang dituliskan, dan lain-lain alasan yang masih ada.
Nampaknya hal-hal tersebut kurang lebih yang membuat para guru enggan untuk mencoba menulis. Tidak jauh dengan yang dirasakan oleh penulis kali ini. Namun terdorong oleh tuntutan, agar para guru mampu menuliskan gagasan-gagasannya dalam bentuk sebuah artikel, atau tulisan ilmiah, karya tulis ilmiah, ataupun laporan penelitian tindakan kelas, maka penulis mencoba untuk yang pertama kali mengawali kegiatan menulis sebagai jawaban akan tantangan seperti tema lomba menulis artikel kali ini yang AGUPENA pilih dengan tema “Membudayakan Menulis di Kalangan Guru”, sebagai ajakan mulia dan luhur dalam suatu wadah lomba menulis bagi kalangan guru se Jawa Tengah.
III.RENDAHNYA BUDAYA MENULIS DIKALANGAN GURU
Seperti penulis ungkapkan di depan, kegiatan menulis memang memerlukan skill khusus, artinya si penulis mestinya mampu dan jeli mengangkat permasalahan untuk diteliti, memerlukan kesempatan dan kemauan, memerlukan ketelatenan terlebih bagi yang tidak suka menulis, bagi yang tidak suka, dipaksa untuk menulis pastilah akan merupakan tantangan dengan seribu kerikil tajam yang harus dilaluinya, walaupun ide, gagasan ada dalam benak pikirannya. Dari beberapa relasi guru yang penulis ajak untuk berdialog tentang kegiatan menulis, baik menulis fiksi, maupun non fiksi ataupun menulis tentang apa saja, pada umumnya mengatakan, bingung sehingga kurang tertarik. Jika akan menulis, topiknya apa, bagaimana caranya menulis dan masih banyak hal-hal yang memberikan kesan bahwa memang sungguh tidak tahu apa yang harus ditulis, bagaimana cara menulis, untuk menulis aturannya bagaimana dan lain sebagainya. Karena menulis ilmiah ada aturan yang membatasinya. Antara lain yang sering merupakan momok bagi para guru sehingga enggan untuk menulis. Banyak alasan yang dikemukan oleh guru jika ada tantangan atau tugas untuk menulis. Sehingga terkesan para guru tidak memiliki minat untuk menulis. Sebenarnya hal-hal tersebut diatas yang menyebabkan muncul kesan rendahnya budaya menulis di kalangan guru.
Memang menulis itu tidak harus selalu menulis dalam bentuk buku, resensi, novel atau opini atau karangan yang panjang dan lebar, tetapi menulis dapat dimulai dari bentuk kecil, sederhana misalnya seperti puisi, geguritan atau mungkin semacam semboyan, agar tidak ada kesan menulis itu sulit, ataupun tidak bisa menulis, dan lain sebagainya. Memang untuk membudayakan menulis di kalangan guru ini masih rendah sekali. Hal ini mungkin juga disebabkan keterbatasan pengetahuan tentang menulis yang dimiliki oleh guru sehingga perlu adanya kesempatan pelatihan menulis bagi guru khususnya terkait dengan kebutuhan mereka untuk promosi kenaikan pangkat dan jabatan khususnya bagi para guru yang telah lama menduduki jabatan Guru Pembina dengan pangkat Pembina dan golongan ruang IV/a agar dengan segala keberadaannya, kemampuannya serta antusiasnya dapat untuk mengikuti pelatihan menulis agar mulai terbuka gairahnya dan cakrawalanya untuk menulis. Kompetensi profesional guru antara lain yaitu kemampuan melakukan penelitian sederhana dalam rangka meningkatkan kualitas profesional guru, khususnya kualitas pembelajaran, yang tidak lepas juga dari kegiatan menulis.
Bimbingan penulisan sesungguhnya masih dibutuhkan sekali bagi para guru, terlebih bagi guru-guru yang berkarya di daerah jauh dari fasilitas elektronik dan perpustakaan yang kurang memadai, mengingat informasi atau kajian-kajian pustaka dapat diambil dari internet misalnya, atau juga informasi menulis dapat dipelajari dari buku-buku tentang tulis menulis yang mestinya dapat dihimpun sebagai kekayaan untuk menulis dari buku-buku perpustakaan. Namun pada kenyataan perpustakaan di sekolah masih belum banyak berisi buku-buku yang dapat digunakan sebagai referensi dalam kegiatan menulis. Disamping kurangnya sarana referensi sebagai bahan kajian yang membantu dalam kegiatan menulis, rendahnya budaya menulis di kalangan guru juga disebabkan dari unsur guru itu sendiri kurang senang membaca, artinya membaca selain buku pelajaran yang akan digunakan untuk pembelajaran esok hari. Misalnya membaca surat kabar atau mungkin bacaan-bacaan dari buku-buku pelajaran yang lain selain dari buku mata pelajaran yang diampu. Untuk menulis sementara dibutuhkan banyak sumber informasi, selain dari buku, siaran eletronik, media masa cetak, juga dapat berasal dari pengalaman teman yang telah mampu menulis dengan baik dan telah teruji kehandalan hasil karyanya dan sudah dipublikasikan dalam media-media masa. Rendahnya budaya menulis di kalangan guru semoga saja akan mengecil prosentasenya setelah AGUPENA berada ditengah-tengah kalangan para guru, sebagai ajang yang selalu siap membantu dan melayani para guru dalam memecahkan kesulitan menulis, dan mendukung kiat-kiat serta niat para guru yang selalu berusaha untuk mau menulis demi kemajuan di bidang pendidikan.
Seperti yang tertulis dalam buku Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit, 1994/1995: 56, jelaslah bahwa sebenarnya bagi guru menulis itu sekarang merupakan kebutuhan dan tuntutan minimal, jika menghendaki kenaikan jabatan guru. Dan menurut kabar burung yang beterbangan akan diberlakukan untuk kenaikan pangkat dan golongan, guru harus mampu mengembangkan profesinya dengan pencapaian sekurang-kurangnya 12 angka kredit. 12 Angka kredit bukanlah angka yang kecil ataupun angka yang mudah dicapai atau diperoleh jika tidak dirintis sejak dini pada posisi pangkat yang terakhir. Pencapaian angka 12 tersebut antara lain melalui penulisan-penulisan ilmiah yang terakui kehandalannya. Dengan tersedianya wadah menulis bagi kalangan guru melalui AGUPENA, maka akan membuka wahana bagi kalangan guru untuk gemar menulis demi peningkatan kualitas guru secara profesional. Untuk itu marilah kita cintai bersama dan kita sambut bersama kebiasaan menulis.
IV.MANFAAT MENULIS
Membuat huruf ataupun membuat angka dan juga melahirkan pikiran, gagasan atau ide-ide serta perasaan dalam bentuk seperti mengarang, membuat surat, jika kita mau lakukan sangat membantu dalam kehidupan antara lain yang sangat besar dan manis rasanya, adalah kita dapat menuangkan isi pikiran, keganjalan-keganjalan perasaan, kegembiraan hati, kepedihan hati, kekecewaan kita pada selembar kertas, yang ketika kita menuangkannya dalam rangkaian huruf-huruf yang terikat dalam kemasan kalimat penuh dengan emosi saat itu, telah membuat lega di hati kita, dan kita buka kembali kemasan tulisan itu di saat kita telah teduh, ternyata sungguh luar biasa makna tulisan itu, mungkin dapat membuat kita tertawa sendiri atau bahkan menjadi tantangan bagi kita untuk berrefleksi diri akan gagasan atau perasaan kita diwaktu itu. Menulis adalah pekerjaan yang mulia. Terlebih jika tulisan itu dapat bermanfaat bagi orang lain, misalnya dapat menggugah minat orang lain untuk membacanya bahkan membuat orang lain tertarik untuk mengikuti jejak untuk menulis. Makin banyak yang berminat untuk menulis berarti makin meningkat pengetahuan umum orang lain tersebut, yang berarti semakin besar keinginan orang lain itu untuk membaca dan mendalami kegiatan menulis. Mulailah menulis dari yang kecil untuk menggali model penulisan lain seperti yang dimaksudkan penulis dari makna kalimat diatas, untuk dapat melangkah ke menulis yang bersifat ilmiah. Menulis merupakan sebuah pekerjaan yang tanpa jabatan, walaupun tidak menjamin mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidup, tetapi setidaknya dapat mengurangi penderitaan yang ada dalam kehidupan. Maka mari mulai mencoba menghidupi kegiatan menulis. Mulai dari yang ringan-ringan lebih dulu, untuk menuju kepenulisan yang agak luas, seperti artikel ilmiah, tulisan ilmiah populer, dan akhirnya classroom action research sesuai tugas kita sebagai guru.
Dari ulasan seperti penulis paparkan di atas, maka dapatlah penulis simpulkan manfaat menulis secara umum sebagai (a) wadah luapan perasaan, dan hati, serta pikiran dengan baik dan akan terkemas rapi jika itu luapan yang bersifat privacy, (b) dan membuat kebiasaan bagi kita untuk menghargai waktu, waktu luang betul-betul diisi dengan kegiatan membaca buku-buku referensi sebagai pengayaan diri dengan sejuta pengetahuan, untuk menyiasati waktu kosong kita terbuang sia-sia. Dari sisi ekonomi, (c) dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi yang mau menulis walaupun lapangan kerja yang tidak kentara jika dipandang oleh khalayak ramai dan tidak berjabatan, karena kerjanya tidak harus membuat otot tubuh kita varises dan dapat dilihat oleh banyak orang melainkan sebagai pekerjaan sampingan, yang penyelesaiannya membutuhkan ketenangan untuk dapat konsentrasi penuh. Manfaat menulis bagi guru, (1) dapat membantu usaha rumah tangga jika hasil menulis dapat dipublikasikan bahkan merupakan tambahan penghasilan yang tidak disangka-sangka dari kemauan menulis, hanya dengan modal mau mencari topik, merumuskan masalah, studi literature dan pengamatan kenyataan, merumuskan hipotesis dan menguji kebenarannya, serta menuliskannya yang tentunya dengan melibatkan pikiran dan tenaga dana , waktu serta mau. (2) Untuk menambahkan nilai/angka kredit unsur pengembangan profesi yang merupakan salah satu unsur harus ada dalam Usulan Penetapan Angka Kredit jika akan mengusulkan kenaikkan pangkat setelah batas waktu kenaikan pangkat tiba. (3) Mendapatkan pengalaman dari menulis jika hasil karya menulis terakui sehingga dapat dijadikan sebagai dasar untuk menggali model penulisan yang lain yang lebih ilmiah populer.
V.TRIK TRIK MENULIS
Persiapan penyusunan tulisan ilmiah populer harus mencari literature yang berkaitan dengan topik yang hendak dituliskan, kemudian mengkaji kebenarannya dulu, sebelum ditulis menjadi tulisan yang dapat dinikmati sebagai bacaan. Telaah dulu tema yang akan ditulis. Sebab, sebuah tulisan harus jelas temanya, agar tidak salah tafsir. Memilih tema jangan yang terlalu luas, karena akan mempersulit dalam penulisannya. Kemudian membuat ikhtisar atau garis besar dari yang akan ditulis. Ikhtisar disusun menjadi tiga bagian, yaitu (a) Menentukan temanya. (b) Menentukaan apa yang dibicarakan sesuai dengan temanya. (c) Memilih hal-hal yang perlu ditulis dalam ikhtisar. Melalui ketiga tahap tersebut penulis baru akan dapat membuat ikhtisar yang baik serta dapat bekerja penuh daya guna.
Penulisan tema yang diuaraikan menjadi tulisan diusahakan si pembaca seolah-olah dalam membacanya sedang berbicara langsung atau sedang berkomunikasi langsung dengan penulisnya, sehingga bahasa komunikasi sangat diharapkan ada dan terjadi dalam menulis. Dalam penulisan terbagi menjadi empat faktor, yaitu (a) Logika, maksudnya kenalkan jalan pikiran penulis ke pembaca dengan cara sajikan uraian dengan susunan rapi, sistematik, urut alur berpikirnya sehingga proses berpikir pembaca tidak akan terganggu. (b) Panjang kalimat. Kalimat yang dipakai jangan terlalu panjang tetapi juga bukan kalimat pendek-pendek, yang baik bervariasi, sehingga tidak berkesan membosankan. (c) Pemilihan kata-kata. Pilihlah kata yang mudah dipahami pembaca, jika menurut penulis ada kata yang diragukan, berilah penjelasannya. (d) Tata susunan atau lay-out. Bentuk karangan, apakah akan dicetak atau distensile. Diusahakan agar kata-kata penting digaris bawahi atau dicetak miring, jika akan disajikan daftar tuliskan nomor daftar, jika ada kutipan dari penulis lain maka kalimat yang dikutip itu ditulis dalam tanda buka dan tanda tutup. Kemudian jelaskan asal kutipan tersebut serta tahun penerbitannya.
Untuk penyusunan tulisan, ada beberapa pola; (1) Pola pemecahan topik . (2) Pola masalah dan pemecahannya. (3) Pola kronologi. (4) Pola pendapat dan alasan pemikiran. (5) Pola pembandingan. Dari kelima pola tersebut, “pemecahan topik” dan “pola masalah dan pemecahannya” dapat menghasilkan tulisan yang paling enak dibaca. Pola pemecahan topik maksudnya memecahkan topik yang masih berada dalam lingkup pembicaraan yang ditemakan, sedangkan pola masalah dan pemecahannya, dalam pola ini mengemukakan masalah yang masih dalam lingkup pokok bahasan yang ditemakan, kemudian menganalisa pemecahan masalah yang dikemukakan oleh para ahli di bidang keilmuan yang bersangkutan. (Slamet Soeseno, 1989: 28). Penting diperhatikan penulis.
Karena menulis ilmiah ada aturan yang membatasinya. Antara lain yang sering merupakan momok bagi para guru sehingga enggan untuk menulis, salah satunya, dalam penyusunan kalimat yang disederhanakan, itu sering kali ada keinginan untuk memakai istilah yang populer, tetapi kurang tepat menegaskan maksud sebenarnya. Istilah itu kemudian menimbulkan salah paham, sehingga memberi kesan seolah-olah tulisan itu disusun dengan ceroboh. Dalam menulis memang hendaknya dicermati masalah bahasa yang digunakan, agar terkesan tulisan tidak asal-asalan atau ceroboh. Memang untuk populer sering digunakan istilah dan pengertian yang kerakyat-rakyatan untuk mempermudah pemahaman, namun untuk keanggunan tulisan ilmiah itu, sebaiknya kita tidak mengorbankan santun bahasa (Slamet Soeseno, 1989: 5) Pengumpulan informasi yang akan ditulis atau sumber informasi keilmuan yang paling dapat untuk dipakai sebagai landasan penulisan adalah sumber literature atau bahan bacaan yang biasanya disimpan diperpustakaan, yang dapat berupa dokumen Surat Keputusan, artikel dalam majalah atau tulisan dalam buku, yang asli dan dapat dipercaya. Barulah siap untuk menuliskan tema.
Dalam menulis ada beberapa prinsip dalam menggunakan bahasa; (a) memilih kata-kata yang populer ketimbang yang dibuat-buat, (b) memilih kata-kata yang konkrit, bukan yang abstrak, (c) memilih kata tunggal ketimbang kata yang berlebihan, (d) memilih kata yang pendek ketimbang yang panjang. ( anjuran H.W. Fowler, yang dikutip John E. Sussams, 1989: 53).
Dengan trik-trik yang penulis sajikan tersebut, penulis sadar masih ada banyak trik penulisan artikel yang jauh lebih baik dan lebih sistematik untuk dijadikan acuan penulisan khususnya bagi penulis-penulis pemula. Penulis berharap, dengan kemauan yang didukung oleh niatan hati untuk berlatih menulis, diawali dari menulis ringan seperti puisi atau geguritan, atau mungkin prosa akan dapat digunakan sebagai dasar untuk menulis artikel, opini atau tulisan ilmiah yang lain, untuk menggali bentuk penulisan yang lain seperti laporan penelitian tindakan kelas, karya tulis ilmiah dan buku-buku ilmiah. Karena sesungguhnya menulis itu mengasyikkan. Apalagi manfaatnya begitu banyak, untuk itu mari menulis. ***
DAFTAR PUSTAKA
W. James Popham, Eva L. Baker, 1981. Bagaimana Mengajar Secara Sistematis, Yayasan Kanisius,.
Departemen Pendidikan Dan kebudayaan Republik Indonesia, 1988, Kamus Besar Indonesia,
Slamet Soeseno, 1989. Tehnik Penulisan Ilmiah Populer, Jakarta: PT Gramedia .
John E. Sussams, 1989. Menulis Laporan Yang Efektif, Gower-Binarupa Aksara.
Ad. Rooijakkers, 1991. Mengajar Dengan Sukses, Jakarta: PT Grasindo .
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 025/O/1995 tentang Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsioanal Guru Dan Angka
Kreditnya.
Prof. Dr. Rochiati Wiriaatmadja, 2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas, PT Remaja Rosdakarya,
Prof. Suharsimi Arikunto, Prof. Suhardjono, Prof. Supardi, 2008. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PT Bumi Aksara
Bambang Purnomo, S.Pd. 2009. Menulis Laporan Keberhasilan Pembelajaran Untuk Menunjukkan Tingkat Profesionalisme Guru,. Kebumen: Perpustakaan Citra SMP N 4 Gombong.
BERNADETH BUDI BANOWATI, S.Pd.
_____________________________
Guru SMP Negeri 4 Gombong, Wakil Bendahara Agupena Cabang Kabupaten Kebumen.
Peserta Lomba Penulisan Artikel Agupena Wilayah Provinsi Jawa Tengah, 25 Juli 2009 di LPMP Jawa Tengah.
Tulisan lain yang berkaitan:


Chosmas Chaerul Ch. | Monday, 27 July 2009 @ 2:32 am
Selamat dan sukses atas dimuatnya artikel tersebut diatas yang cukup bagus dan menarik. Semoga pahlawan tanpa tanda jasa lainnya mau mengembangkan dirinya dan berbagi wawasan melalui peningkatan budaya menulis bagi guru-guru kita, agar mutu pendidikan tercurahkan pula kepada anak-anak didiknya. Matur nuwun.
Ch.Chaerul Ch (Auditor)
Reply
budi banowati | Monday, 27 July 2009 @ 8:35 pm
Terima kasih atas komentarnya, semoga menjadikan penyemangat untuk berbuat yang lebih baik bagi dunia pendidikan, khususnya bagi anak didik. Masih kutunggu komentar yang membangun laainnya.
Reply
Maria Mulat May Morinda | Sunday, 2 August 2009 @ 7:30 am
Bu…… Selamat yee akhirnya perjuangan ibu selama ini tidak sia-sia, tulisannya dimuat ooooy. Btw bagi-bagi honornya dunkz bu buat ganti hape hehehe…

Lanjutkan perjuangannya ya supaya anak-anak Indonesia lebih maju di tangan guru kaya ibu
Oke SMANGAT ditunggu Hape baru untuk ananda yang imoetz ini
Reply
Etyk Nurhayati | Friday, 5 February 2010 @ 8:58 pm
Menarik sekali tulisan ibu. saya baru akan memulai woro – woro untuk membudayakan menulis dan meneliti dikalangan guru sebagai upaya meningkatkan profesionalisme guru. Namun belum menemukan format yang pas karena hanya berbekal pengalaman menang lomba karya ilmiah dan PTK. Mungkin ibu bisa bantu?
Reply
BASIR | Sunday, 27 June 2010 @ 9:18 pm
I very agree with your writing abouth“MEMBUDAYAKAN MEMBUAT HURUF DAN ANGKA DI KALANGAN GURU”. I thing every body specially the teacher, need a skill to write. Because with writing teacher can be explored their competence, skill and total personality to the student.
I hope on the futute, the writing culture wiil give meaningfull for us. Good luck for my good friend.
Reply