Pergulatan Budaya Dalam Pendidikan

Saturday, 25 July 2009 (04:41) | 1,118 views | 2 komentar

Oleh Roto
100_03581KECENDERUNGAN yang berkembang tentang pemahaman masyarakat terhadap budaya selalu dikaitkan dengan kesenian. Eskalasi generasi kita berasumsi bahwa seni tradisional adalah kuno. Maka, secara berangsur-angsur seni tradisi kita lepas tanpa bekas. Contoh kita baru kebakaran jenggot setelah seni Reog Ponorogo dicaplok sebagai seni tradisi Malaysia. Ilustrasi berikutnya, coba kita tanya putra-putri kita: “Siapakah Gatutkoco itu?” Maka, jawaban sebagian besar pasti tidak tahu.

Sebaliknya, begitu ditanya siapa Naruto? Maka, ia akan bercerita panjang lebar tentang Naruto tersebut. Ironis sekali. Mau dibawa kemana generasi kita dalam memahami seni budaya? Itulah persoalan mendasar yang tidak hanya menggelititik ranah kalbu untuk diperbincangkan, melainkan harus diperdebatkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, agar mampu menyeleksi nilai-nilai budaya luhur untuk dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi bangsa.

Namun sayang wacana dalam debat calon kandidat Presiden RI 1 pada bulan Juni, Juli 2009 tidak begitu dominan membahas persoalan besar yaitu tentang pentingkah pemahaman: “Pergulatan Budaya Dalam Pendidikan?”
Kita layak mengapresiasi positf terhadap UMS (Universitas Muhamadiyah Surakarta), telah berkenan melaksanakan seminar Internasional yang dibuka oleh ketua Umum PP Muhamadiyah Prof. Dr. Din Syamsudin tentang: International Interdisciplinnary sharing ke 104, Kerjasama Antara Pascasarjana, FKI Pusat Studi Kawasan UMS: “Keraton-Keraton Nusantara Dalam Era Reformasi.” Pembicara: Prof. Dr. Siti Chamamah (UGM), Prof. Dr. Farish A. Noor (NTU Singapura), Dr. KP. Wirabumi (Keraton Surakarta), Dr. Nurhadiantomo (UMS), 11 Juli 2009.

Simpulan penulis dari para narasumber diantaranya mendapat pencerahan dari Prof. Dr. Siti Chamamah, bahwa pemahaman tentang budaya tidak hanya terpaku pada kesenian (seni budaya), melainkan memahami sesuatu kebiasaan yang tumbuh dan berkembang di suatu bangsa untuk diakui nilai-nilai kebenarannya.

Sehingga kita dapat menafsirkan bahwa, budaya itu bisa berbicara & membahas tentang seni, adat istiadat, iptek (ilmu pengetahuan & teknologi), imtaq (iman & taqwa) budipekerti, bahasa dan seterusnya. Seni, bisa dikaitkan dengan seni klasik meliputi tari gambyong, tari golek manis, tari Reog Ponorogo, gamelan, keroncong, angklung, wayang orang, wayang kulit, wayang suket, drama ludruk, ketoprak dan lain-lain.

Seni modern meliputi musik pop, rock, jaz, rege, drama, film, dan lain-lain. Iptek meliputi penggunaan telephone, handphone, komputer, internet, transportasi, kereta api, motor, mobil, kapal laut, pesawat terbang dan lain-lain. Adat istiadat meliputi rumah gaya Minangkabau, Padang, Betawi, Jawa, Bali, Lombok, Dayak, Goa, Ambon, Irian, Asmat dan lain-lain.

Budaya Adiluhung
Budaya dalam kamus besar bahasa Indonesia artinya pikiran; akal budi: hasil; menyelidiki bahasa dan yang sudah berkembang (beradab, maju). Berbudaya artinya mempunyai pikiran dan akal budi yang sudah maju. Kebudayaan 1) hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat; 2) keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya yang menjadi pedoman tingkah lakunya; 3) hasil akal budi dari alam sekelilingnya dan dipergunakan bagi kesejahteraan hidupnya.

Berkaca pada budaya makro ternyata sangat luas persoalan yang dapat di angkat kepermukaan. Pada kesempatan ini, penulis ingin menekankan pentingnya bagaimana memahami nilai-nilai budaya adiluhung yang harus di lindungi eksistensinya. Sehingga mampu berkembang sejalan/seiring dengan budaya yang berkembang di era global.

Mengutif pendapat Prof. Dr. Siti Chamamah untuk mewujudkan semua itu diperlukan komitmen semua elemen bangsa, lebih khusus dari pribadi masing-masing individu, meliputi 3 unsur, yaitu: 1) terbuka; 2) siap berubah; dan 3) kompetitif.

Berdasarkan 3 unsur tersebut penulis tafsirkan pertama, kita mau mengubah persepsi atau pola pikir kita dalam menghadapi persoalan hidup dari tertutup menjadi terbuka. Dengan cara melindungi dan memfilter/menyaring budaya dari luar (eksternal) untuk disesuaikan dengan budaya kita. Artinya harus mau membuka diri untuk mengerti budaya orang lain dan bangsa lain.

Kita bisa membayangkan apa jadinya jika kita tetap bertahan di tengah hutan seperti suku Badui, suku Asmat dan suku-suku yang lain. Tentu kita akan menjadi orang terbelakang, suku terbelakang bahkan bangsa & negara terbelakang. Maka, kita akan selalu terkungkung, terkoyak, tertindas dan terampas kemerdekaannya.

Kedua, siap berubah. Setelah kita berkenan menanamkan pola pikir terbuka, langkah selanjutnya adalah siap berubah. Artinya, kita mau membuka diri dan mau berubah untuk belajar tentang: 1) seni orang lain, seni suku lain, dan seni bangsa lain. Dengan catatan mempelajari seni kita terlebih dahulu. Contoh kita sebagai orang Jawa seharusnya berkewajiban terlebih dahulu mempelajari seni Jawa. Baik tentang seni tari gambyong, tari reog, gamelan, wayang, ketoprak dan lain-lainnya.

Namun apa yang terjadi generasi kita tidak mau tahu tentang seni Jawa (daerahnya), mereka menganggap tradisional, bahkan kuno. Maka, mereka langsung menerima mentah-mentah tari modern, lagu-lagu barat, film barat yang disertai budaya pakain serba minim (tanpa menutup aurot) bahkan situs pornografi dan lain-lain; 2) mau untuk belajar tentang bahasa orang lain, suku lain, dan bangsa lain. Kita bisa bayangkan apa jadinya jika kita tidak mau belajar bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Perancis, dan lain-lain. Maka, sekali lagi kita akan selalu terkungkung dan terkoyak dengan tradisi kuno yang ketinggalan jaman.

Ketiga, kompetitif artinya dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara kita secara individu mampu berkompetisi dalam aspek kehidupan baik antar sesama bangsa dan terlebih dengan bangsa lain. Dengan tujuan mulia mampu mengangkat harkat dan martabat budaya bangsa menuju Indonesia sejahtera lahir maupun batin.

Jika dikaitkan dengan era reformasi, dalam era teknologi dan era global apa jadinya jika kita hanya mempertahankan: 1) belajar dengan sabak, tanpa mau merubah dengan budaya penggunaan kertas, buku, sampai pada mesin ketik, foto kopi, komputer, LCD, laktop, internet dan lain-lian; 2) transportasi dengan jalan kaki, sepeda, dokar, tanpa mau merubah dengan kereta api, sepeda motor, mobil, kapal laut, sampai pada pesawat terbang; 3) percakapan dari mulut ke mulut, tanpa mau berubah menggunakan telephone, hand phone, televisi, internet dan lain-lain.

Simpulan yang dapat di petik berdasarkan fakta “Pergulatan Budaya Dalam Pendidikan” adalah kita mampu mempertahankan, melindungi dan mengembangkan budaya lokal, nasional dengan menyerap budaya asing, tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya adi luhung, yang tersohor di negeri ini. Yaitu pentingnya mengerti tentang budaya keraton-keraton yang ada di Indonesia. Agar berkembang seiring perkembangan era global yang mampu menghasilkan devisa negara. Contoh, budaya Bali tetap eksis di era global dan sangat membanggakan bagi bangsa Indonesia.

Pertanyaan yang mencuat akankah kita mampu memahami, melindungi dan mengembangkan kekayaan budaya lokal, menjadi budaya nasional yang sangat kaya akan pesan-pesan moral dan nilai-nilai budi pekerti yang adi luhung, serta nilai-nilai agama yang sangat hakiki?

Semua itu terpulang kepada pribadi dan stakholder kita. Dengan prinsip pola pikir harus: 1) terbuka; 2) siap berubah; dan 3) kompetitif. Semoga!

DAFTAR PUSTAKA
Farish A. Noor. 2009. Makalah. From Kings to Citizens.
Siti Chamamah. 2009. Makalah. Peran Keraton Dalam Era Revolusi.
Nurhadiantomo. 2009. Makalah. Menuju Rekonstruksi Kebenaran Sejarah Keraton Surakarta Hadiningrat.
KP. Wirabumi (Keraton Surakarta). Ceramah.
Julianto Ibrahim. 2008. Kraton Surakarta & Gerakan Anti Swapraja. Malioboro Press.

ROTO, S.Pd.
__________
Guru SMP NEGERI 1 Sumowono Semarang, Mahasiswa Pascasarjana UMS, Anggota Agupena Jawa Tengah

Karya Tulis
1. Penantian Panjang Kesejahteraan Guru, Kompas, 12 Maret 2007.
2. Aroma Program Sertifikasi, Derap Guru, April 2007.
3. Problem Fakta Kualitas Guru, Derap Guru, April 2008.
4. Bias Dampak Arus Informasi & Telekomunikasi, Jawa Pos Radar Kudus, 8 Mei 2008.
5. Susahnya Guru Memulai Menulis Artikel, Jawa Pos Radar Kudus, 19 Mei 2008.
6. Kekerasan Gank Nero Mencoreng Dunia Pendidikan, Jawa Pos Radar Semarang, 18 Juni 2008.
7. Problem Budaya Menulis, Derap Guru, Juli 2008.
8. Bali Deso Mbangun Deso Mampukah Menyejahterakan Masyarakat?, Jawa Pos Radar Semarang, 7 Juli 2008.
9. Kriteria Penentuan Peringkat Kelulusan Oleng?, Jawa Pos Radar Semarang, 14 Juli 2008.
10. Merombak Total Paradigma Study Tour, Jawa Pos Radar Semarang, 19 Juli 2008.
11. Mengejar Kemajuan Dalam Kemiskinan?, Jawa Pos Radar Semarang, 21 Juli 2008.
12. Sulitnya Menghentikan Uang SPI, Jawa Pos Radar Semarang, 25 Juli 2008.
13. Tingkatkan Kualitas Lulusan dengan Kelas Unggulan, Jawa Pos Radar Semarang, 27 Juli 2008.
14. Gonjang-Ganjing Pelaksanaan PPD 2008/2009, Derap Guru, Agustus 2008.
15. Mengadopsi Budaya Asing untuk Sekolah Kita, Jawa Pos Radar Semarang, 2 Agustus 2008.
16. Penyaji Makalah Dalam Seminar Nasional Mendongkrak Kualitas Pendidikan: “Mengadopsi Budaya Asing Untuk Kualitas Pendidikan,” Hotel Telo Moyo Semarang, Mutiara Wacana, 3 Agustus 2008.
17. Sepuluh Penyakit Guru Membudaya, Jawa Pos Radar Semarang, 13 Agustus 2008.
18. Memaknai Anggaran Pendidikan 20 Persen dari RAPBN, Jawa Pos Radar Semarang, 19 Agustus 2008.
19. Anggaran Pendidikan 20 Persen Bagai Bola Liar, Jawa Pos Radar Semarang, 26 Agustus 2008.
20. Perjuangan Menembus Kokohnya Tembok Pangkat IV/b, Jawa Pos Radar Semarang, 14 September 2008.
21. Mendidik Kebersihan Melalui Lomba Lukis, Jawa Pos Radar Semarang, 17 September 2008.
22. Menghidupkan Ekskul Demi Talenta Siswa, Jawa Pos Radar Semarang, 16 Oktober 2008.
23. Mencegah Merebaknya Budaya Jalan Pintas, Jawa Pos Radar Semarang, 23 Oktober 2008.
24. Penyaji Makalah: Menggali Bakat Seni Lukis Siswa SMP/MTs Melalui Lomba Dalam Seminar MGMP Mapel Seni Budaya di SMP 2 Ungaran 3 Juni 2009.
25. Peserta lomba Membudayakan Menulis Di Kalangan Guru, 25 Juni 2009, Agupena Jawa Tengah.
26. Perlukah Menggapai Pangkat IV/b Dengan Selingkuh?, Agupena Jawa Tengah, 28 Juni 2009.
27. Menjebak Rakyat Dengan Program Pro Pendidikan, http://ispi.or.id, 10 Juli 2009.

Tulisan lain yang berkaitan:

2 Responses to “Pergulatan Budaya Dalam Pendidikan”

  1. tyas on Sunday, 11 October 2009 (pukul 6:44 am)

    :grin: q snng bgt lo . . . kt sebagai bangsa indo mau menjaga kelestarian budaya kita . ya kan ? ? ? ? harus kan ? ? ? ?

    Reply

  2. tyas on Sunday, 11 October 2009 (pukul 6:50 am)

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP