Saturday, 25 July 2009 (19:14) | 105 views | 0 komentar
Oleh Umu Sulaimah
Membaca biografi orang-orang besar dan mereka yang berhasil mencetak sejarah dalam hidupnya, mengajak kita kembali merenungi hakikat kehidupan ini. Panjang ataupun pendeknya usia biologis seseorang tidak menjadi jaminan keberartian dan kebermanfaatan atas kehadirannya di dunia ini.
Ada orang yang diberikan karunia umur yang sangat panjang namun jika dihitung usia efektifnya jauh lebih pendek dari usia biologisnya. Hal ini dapat saja terjadi karena ia tidak memanfaatkan kesempatan hidup dengan sebaik-baiknya. Menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sia-sia dan sama sekali tak berguna tak ada hal besar yang berhasil di karyakan dalam hidupnya. Bahkan bisa dikatakan dia adalah orang yang paling merugi.
Sementara ada juga yang diberikan jatah umur biologis yang pendek, namun selama hidupnya ia berjuang dengan keras untuk menjadi orang-orang yang jauh melampaui jatah usia biologisnya. Artinya ia mampu mencari makna dan keberartian dalam hidup sehingga akan memanfaatkan seluruh potensi dan karunia yang diberikan oleh Allah Swt dengan sebaik-baiknya karena menyadari suatu saatnya nanti pasti akan di mintai pertanggung jawabannya oleh Allah Swt atas semua yang pernah dilakukan di dunia ini.
Memang tidak ada seorang pun tahu berapakah jatah usia yang diberikan Allah di dunia ini. Umur seseorang adalah sebuah misteri, satu hal yang akan tetap dipertahankan oleh Allah Swt sebagai rahasia dari sekian banyak rahasiaNya. Yang dapat kita pahami atas hal ini adalah, bahwa Allah Swt menciptakan kehidupan dan kematian seseorang merupakan ujian untuk memilih siapakah diantara para makhluqnya yang paling baik amalannya. Dan setelah seluruh kehidupan ini berakhir tentunya Allah Swt berhak meminta pertanggung jawaban atas seluruh kenikmatan dan fasilitas kehidupan yang telah di berikan Allah Swt kepada setiap makhluqnya.
Dalam Alqur’an Allah Swt berfirman :
Artinya : Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Q.s Al Mulk : 2 )
Dengan hal inilah, kembali mengingatkan kepada kita semua bahwa selama hayat masih dikandung badan, masih ada kesempatan untuk senantiasa berbuat dan beramal dan menjadikan kehidupan ini benar-benar memberikan kemanfaatan. Baik bagi diri sendiri, orang lain dan sesamanya. Dengan hal apapun yang kita mampu dan kita bisa.
Bukankah Allah swt telah memberikan kita potensi dan bekal yang teramat banyak kepada umat manusia. Hanya saja, kita menyadarinya atau tidak. Kita mampu atau tidak menghimpun potensi-potensi unggulan yang diberikan Allah Swt untuk menjadi modal sehingga dapat secara cerdas menjalani kehidupan ini.
Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.s An Nahl :78 )
Allah menyediakan piranti-piranti intelektual kepada manusia berupa pendengaran, penglihatan dan hati ini agar menjadi modal dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Dengan hal tersebut memungkinkan bagi setiap manusia mampu dengan mudah memahami ilmu-ilmu Allah yang terbentang di jagad raya ini.
Tujuan Allah memberikan piranti-piranti ini tentunya agar setiap manusia mampu bersyukur. Sehingga dengan kesyukurannya itu menjadikannya tersadar untuk memanfaatkan seluruh karunia yang diberikan Allah dengan sebaik-baiknya. Termasuk jatah usia dan umur di dunia ini. Sehingga pantaslah jika suatu saat kelak Allah Swt berhak meminta pertanggungjawaban amal-amal manusia selama hidup di dunia.
WaAllahu ‘alam
Umu Sulaim
Pekalongan, 7 Juli 2009
Umu Sulaimah, S.Pd.I
__________________
Guru SDIT SDIT Ulul Albab kota Pekalongan, Anggota Agupena Jawa Tengah




0 komentar terhadap “Mensyukuri Nikmat Usia”
Komentar Anda?