Penguasaan ICT: Bekal Guru Profesional Menghadapi Era Global

Thursday, 23 July 2009 (07:39) | 604 views | 4 komentar

Oleh Mampuono Rasyidin Tomoredjo
4265_1131730943907_1546278454_306719_6127746_nPerubahan menuju kemajuan yang dialami oleh suatu bangsa amat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Kita bisa mengambil contoh mudah dari apa yang dialami bangsa Jepang ketika mereka bangkit dari keterpurukan akibat perang dunia II. Jepang kini bisa kembali berjaya dan menjadi raksasa Industri yang sangat diperhitungkan oleh dunia karena keberhasilan pemerintahnya dalam mengelola pendidikan. Pendidikan berkualitas dengan sokongan dana yang memadai telah menjadikan Jepang sebagaimana kita lihat dewasa ini.

Walaupun terlambat, kesadaran akan pentingnya mengedepankan pengelolaan pendidikan yang berkualitas sebagaimana di Jepang kini juga sudah mulai bisa kita rasakan di sini. Selain melakukan pembaharuan dan perombakan kurikulum secara kontinyu, pemerintah juga sudah mengupayakan pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20% dari total RAPBN sesuai amanah UUD 1945. Seiring dengan upaya tersebut, DPR RI juga sudah mensyahkan RUU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang ini di antaranya mengatur bagaimana sertifikasi guru dan dosen profesional di laksanakan. Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi di lapangan, ide besar dari disyahkannya RUU tersebut adalah pendidikan di Indonesia akan mengalami lonjakan kualitas jika para guru dan dosennya sejahtera, kompeten, dan profesional.

Menurut penulis yang juga sebagai guru dan ketua komunitas Klub Guru Indonesia Jawa Tengah, untuk menjadi seorang guru profesional yang diperlukan tidak cukup hanya selembar kertas bukti lolos sertifikasi. Tidak cukup juga hanya dengan setumpuk kertas portofolio bukti mengikuti seminar, pelatihan atau kejuaraan ini dan itu. Guru adalah narasumber, manakala dia harus berhadapan dengan siswa atau masyarakat yang membutuhkan ilmu yang sesuai dengan core competency (bidang)-nya maka seorang guru profesional haruslah bisa terandalkan (reliable). Hal tersebut juga disebutkan di dalam UU No. 14 tahun 2005 pasal 8 dan 10 ayat 1.

Apa dan bagaimana menjadi guru profesional yang memenuhi tuntutan jaman? Agar guru menjadi profesional yang sesuai dengan era global dan digital ini hendaknya ia kurang lebih memiliki Sembilan Kriteria Guru Profesional sebagai berikut:
1. Mahir pada core competency-nya
2. Mengerti dan memahami kurikulum beserta aplikasi dan pengembangannya
3. Menguasai pedagogik secara teoritis dan praktis beserta pengembangannya
4. Menjadi pendengar yang baik dan emphatic
5. Menguasai public speaking, terampil memotivasi dan menginspirasi
6. Menjadi pembaca yang efektif dan broad minded
7. Biasa melakukan research dan penulisan
8. Bisa mengaplikasikan ICT based learning
9. Menguasai bahasa internasional

Guru profesional adalah ujung tombak peningkatan kualitas pendidikan, oleh karenanya usaha-usaha pemerintah dimaksud tentu saja tidak akan berjalan normal jika guru sebagai komponen terpenting dari pendidikan itu sendiri tidak mendukung sepenuhnya kebijakan peningkatan kualitas pendidikan yang sudah digulirkan. Sebagai contoh, pemerintah sudah sejak jauh-jauh hari telah mengisyaratkan akan pentingnya migrasi dari guru konvensional menjadi guru yang real profesional, tetapi yang terlihat di lapangan, para guru cenderung “adem-ayem” saja. Ini tentu sangat memprihatinkan. Guru perlu lebih dimotivasi lagi agar berubah menjadi profesional dan berkompeten seiring denga perubahan jaman di dunia yang kini sudah menjadi datar (flat) ini. Sebab guru adalah agen perubahan. Mau dibawa kemana negeri ini jika agen perubahannya saja cenderung stagnan dan cukup berpuas diri dengan embel-embel profesional karena sudah memiliki selembar kertas tanda lolos sertifikasi.

Keprihatinan inilah yang menjadikan penulis bergabung dengan Klub Guru Indonesia dan akhirnya bersama-sama para guru di Jawa Tengah serta didukung oleh berbagai pihak yang peduli berhasil me-launching Klub Guru Indonesia Wilayah Jawa Tengah pada tanggal 7 Pebruari 2009 di kampus Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Launching tersebut disertai dengan sebuah seminar internasional yang memanfaatkan video conference ke Inggris dan Kanada. Perbedaan waktu 7 dan 11 jam tidak terlalu menjadi masalah manakala ICT dimanfaatkan secara optimal pada kegiatan tersebut. Even tersebut cukup membuka mata para guru dan menginspirasi mereka bahwa penggunaan ICT sudah sedemikain besar pengaruhnya pada kemajuan pendidikan. Tidak berlebihan kiranya jika melalui organisasi KGI yang memiliki misi meningkatkan kompetensi dan profesionalitas guru ini para guru berharap akan terjadi migrasi besar-besaran dari guru konvensional menjadi guru profesional. Melalui komunitas yang mengusung slogan “Sharing and Growing Together” inilah para guru akan berbagi dan tumbuh bersama untuk menjadi lebih berkompeten dan profesional.

Dalam tahun 2009 ini KGI Jateng lebih memprioritaskan kegiatan pada peningkatan penguasaan ICT bagi para guru. Selain untuk mendukung program pemerintah dalam mempercepat ICT-literate di Indonesia, kegiatan-kegiatan tersebut juga sesuai dengan jalannya roda organisasi yang banyak disupport oleh penggunaan ICT. Penyebaran informasi dan komunikasi antara sesama anggota KGI lebih bertumpu pada penggunaan media internet daripada melalui media yang lain. Di samping itu, KGI Jateng menyadari bahwa untuk menjadi seorang guru yang profesional diperlukan penguasaan ICT yang memadai. Masyarakat juga tampaknya sudah sepakat bahwa hal tersebut sudah menjadi tuntutan jaman yang serba berbasiskan teknologi dan informasi ini. Jadi tidak salah kiranya jika KGI Jateng bertekad untuk ikut berperan serta mempercepat transformasi ICT kepada para guru di Jateng.

Tekad ini sejalan dengan langkah yang ditempuh oleh KGI pusat yang telah menggulirkan program SAGUSALA (Satu Guru Satu Laptop). Program ini digulirkan untuk memberikan layanan pembelian laptop dengan harga lebih murah dengan akses internet, konten dan pelatihan yang dipersiapkan khusus untuk menjadi bekal bagi guru yang profesional. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara KGI dengan Intel, HP, Zyrex, Axioo, Ion, Asus, Acer, Bamboo Media, Pesona Edu, Telkom dan lain-lain. Sebagai dukungan KGI Jateng pada program SAGUSALA maka pada tanggal 1- 2 Agustus nanti KGI Jateng akan menyelenggarakan Seminar dan IT-EDU & SAGUSALA FAIR yang bertema THE WORLD IS MY CLASS. Pembicaranya adalah Prof. Dr. Eko Indrajid, Dr. Ir. Edy Noersasongko, M.Kom, M. Ihsan, S.Pd. , James Tomasouw, M.Kom., dan Mampuno, S.Pd. Informasi selengkapnya dapat dilihat pada http://www.jatengklubguru.com/ atau hubungi Sukirno, S.Pd. guru SMP 11 Semarang di nomor HP. 0815426020.

Mampuono Rasyidin Tomoredjo, S.Pd., M.Kom
_____________________________________
Guru SMP N 18 Semarang, Dosen UDINUS Semarang, Ketua Klub Guru Indonesia Jawa Tengah dan Anggota Agupena Jawa Tengah.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

4 komentar terhadap “Penguasaan ICT: Bekal Guru Profesional Menghadapi Era Global”

  1. Puspita W | Sunday, 26 July 2009 @ 8:27 am

    Seharusnya guru di era global ini sangat bahagia dapat melakukan pelayanan ke siswa dari jarak jauh. Namun sayang masih banyak guru yang gaptek (gagap tehnologi). Guru yang memiliki blog masih dikatakan dapat dihitung dengan jari. Padahal banyak yang dapat dilakukan guru di dalam blognya. Sudah waktunya guru-guru di Indonesia punya keinginan menduniakan karya siswanya meskipun sebatas di dunia maya(diblognya) pribadinya.

    Selamat berjuang Bapak. Hidup guru Indonesia.

    Reply

  2. TRI MAKNO HARTANTO | Wednesday, 30 December 2009 @ 8:00 pm

    Satu Guru satu Laptop, hal yang sangat urgen.Yang penting pelatihan tentang ICT harus terus-menerus diupayakan.Termasuk didanai oleh APBD/APBN, kalau dana sertifikasi turunnya sudah rutin dan bisa diandalkan…mosok sich guru-guru yang benar-benar mencintai profesinya tidak mau maju.Begitu ya…usul saya.

    Reply

  3. alysuwarto | Sunday, 17 January 2010 @ 10:12 am

    Terima kasih Mas Mampuono Rasyidin Tomoredjo, kami di Majalengka punya program yang mirip dengan anda

    Reply

  4. SiLLy Luthfiyani | Sunday, 21 February 2010 @ 7:41 am

    wah………
    malu juga ni ,saya termasuk guru yang gaptek :oops:
    tapi……….

    Reply

Komentar Anda?

CommentLuv Enabled

«
»
Subscribe IP