Friday, 17 July 2009 (02:23) | 601 views | 12 komentar
Oleh Widi Purwanto
Bahasa Banyumas atau yang lebih dikenal sebagai dialek Banyumas keadaannya kini cukup memprihatinkan. Ada kecenderungan, orang-orang yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap (termasuk juga Kebumen) sebagai komunitas terbesar pengguna bahasa Banyumas; mulai “meninggalkan” bahasa ngapak-ngapak. Mulai “melupakan” bahasa yang sudah lama hidup dan berkembang di tlatah Banyumas. Terlebih-lebih mereka yang hidup di perumahan dengan warga yang heterogen yang tidak hanya berasal dari wilayah Banyumas, tetapi bisa berasal dari berbagai suku. Mereka dalam berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia yang dianggap lebih afdol, lebih mudah untuk berkomunikasi, dan dapat dipahami oleh semua golongan. Berbagai alasan dapat dikemukakan: Bahasa Banyumas dianggap tidak gaul, perasaan malu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Banyumas, tidak pede ketika menggunakan bahasa Banyumas, bahasa Banyumas terasa “kasar” karena tidak “bandhek”, tidak seperti bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Solo.
Masa depan bahasa Banyumas dalam keadaan gawat. Keadaannya mungkin sudah kritis. Jika tidak ada usaha yang nyata untuk mempertahankan keberadaan bahasa Banyumas, dikhawatirkan lambat laun bahasa Banyumas akan musnah. Musnahnya suatu bahasa, termasuk bahasa Banyumas, bisa saja terjadi. Menurut catatan Unesco, lebih dari 50 % dari 6.000 bahasa di dunia dalam keadaan bahaya, 96 % dari 6.000 bahasa diucapkan oleh 4 % populasi dunia. 90 % dari bahasa dunia tidak ditunjukkan di internet. Rata-rata satu bahasa lenyap setiap dua minggu. (majalah Talenta Volume 2 No. 11 November 2005). Musnahnya suatu bahasa terjadi jika bahasa itu sudah tidak digunakan lagi oleh para pengguna bahasa.
Jika bahasa Banyumas sampai musnah karena sudah tidak ada yang menggunakannya untuk berkomunikasi, tentu saja sangat merugikan kita. Bagaimanapun juga, bahasa Banyumas sebagai bahasa daerah, akan memperkaya budaya bangsa Indonesia. Merupakan salah satu kekayaan bahasa dari sekian banyak bahasa yang ada dan berkembang di Indonesia.
Sebagai Muatan Lokal
Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bahasa Banyumas adalah dengan dimasukkannya bahasa Banyumas sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah mulai dari tingkat SD/MI hingga SMA/Madrasah Aliyah. Mungkin saja gagasan ini dianggap sebagai gagasan yang ngayawara. Gagasan yang mengada-ada. Akan tetapi, gagasan ini bisa dipertanggungjawabkan dan masuk akal. Selama ini, yang termasuk muatan lokal dalam kurikulum di sekolah-sekolah adalah bahasa Jawa dialek Yogyakarta atau Solo yang dianggap lebih “baku” dan “standar”. Jadi, “kiblat” pengajaran bahasa Jawa, sebagai muatan lokal, adalah dialek Yogyakarta karena dianggap lebih “halus”. Sementara bahasa Banyumas tidak diajarkan di sekolah-sekolah di wilayah Banyumas. Padahal, dalam keseharian, para siswa di wilayah Banyumas berkomunikasi dengan dialek Banyumasan bukan dialek Yogyakarta. Maka, yang terjadi kemudian adalah hal-hal yang menggelikan. Karena mereka terbiasa mengucapkan “a” untuk huruf a yang bila dibaca dengan bahasa Jawa yang standar diucapkan “o”, maka akan tetap mengucapkan “a”. Kata “lara” (sakit) yang mestinya diucapkan “loro” akan tetap diucapkan “lara” oleh siswa yang berada di wilayah Banyumas. Sehingga ada guyonan, ketika mengucapkan kenthang menjadi kenthong.
Bahasa Banyumas bisa dijadikan sebagai “pendamping” bahasa Jawa yang berkiblat pada dialek Yogyakarta. Bisa saja dalam satu minggu ada 4 jam pelajaran bahasa Jawa: masing-masing 2 jam untuk dialek Banyumasan dan Yogyakarta. Sehingga anak didik yang berada di wilayah eks Karesidenan Banyumas (dan mungkin juga Kebumen) tidak tercerabut dari akar budaya Banyumas. Mereka akan lebih mengenal bahasa sendiri. Mereka tidak akan merasa asing dengan bahasa Banyumas. Kosa kata yang berasal dari bahasa Banyumas akan dapat mereka pahami dengan benar.
Agar bahasa Banyumas dapat dimasukkan sebagai muatan lokal di sekolah, perlu adanya standardisasi bahasa Banyumas. Sebab, tidak jarang, ada kosa kata yang mempunyai makna yang berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain meskipun masih dalam wilayah Banyumas. Untuk standardisasi itu, perlu pembicaraan yang serius di kalangan pemerhati, budayawan, pakar bahasa didukung oleh pihak eksekutif dan legislatif dan pihak-pihak yang berkompeten di bidang pengambilan keputusan di wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen). Pemerhati, budayawan, dan pakar bahasa untuk merumuskan bahasa Banyumas yang baku, mungkin juga ucapan dalam bahasa Banyumas, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kebahasaan. Pihak eksekutif dan legislatif dan pihak-pihak terkait bertugas untuk mengeluarkan kebijaksanaan berkaitan dengan pemberlakuan bahasa Banyumas sebagai muatan lokal di sekolah termasuk anggaran yang diperlukan. Dengan dukungan dari berbagai pihak, maka keinginan untuk memasukkan bahasa Banyumas sebagai muatan lokal akan dapat terlaksana dengan baik. Akan berjalan dengan optimal. Sementara ini, sudah ada kamus dialek Banyumas-Indonesia yang dapat dijadikan sebagai rujukan pengambilan keputusan.
Budaya
Di samping melalui jalur pendidikan, yang tidak kalah pentingnya adalah jalur kebudayaan. Sekarang ini, ada kecenderungan seni budaya yang menjadi “primadona” di wilayah Banyumas, seperti calung mulai meninggalkan “cita rasa” Banyumas. Ketika manggung, calung dengan reognya lebih banyak mendendangkan lagu-lagu campursari atau dangdut dibandingkan dengan tembang-tembang Banyumasan. Mungkin itu tuntutan masyarakat atau usaha mereka agar dapat tetap bertahan hidup di tengah-tengah serbuan berbagai jenis hiburan populer yang berkembang di masyarakat.
Pada tahun 70—80-an, Banyumas pernah mempunyai grup dagelan yang sangat populer, yaitu Peang Penjol. Grup dagelan itu selalu menyajikan cerita dengan bahasa Banyumas. Ternyata menarik. Mereka pun laris manggung di mana-mana. Sehingga Peang Penjol cukup legendaris. Kini belum muncul grup dagelan yang sepopuler Peang Penjol.
Saat ini muncul penyanyi (baik solo maupun grup) seperti grup Sopsan yang membawakan lagu-lagu dengan bahasa Banyumas. Ternyata lagu-lagu itu mendapat hati di masyarakat.
Usaha untuk mengembangkan bahasa Banyumas yang merupakan upaya penyelamatan bahasa Banyumas itu bukan untuk membangkitkan primordialisme atau kebanggaan terhadap bahasa daerah secara sempit dan berlebihan. Bukan. Itu semua demi keberlangsungan bahasa Banyumas.
Drs. Widi Purwanto
________________
Guru SMP N 3 Punggelan Banjarnegara, Pengurus Agupena Jawa Tengah.
Tulisan lain yang berkaitan:



tulisan ora mutu.
Reply
admin Reply:
September 16th, 2009 at 1:57 am
@sirun, Makasih atas masukan Pak Sirun. Kalau berkenan bapak mengirim karya tulis untuk memberi contoh yang bermutu itu. Kami dari Agupena Jateng sangat senang.
Reply
Maaf, Pak Sirun!
Tulisan yang bermutu,itu seperti apa, Pak? Tolong dikasih definisinya, agar Pak Widi tahu. Tank…..
Reply
admin Reply:
September 16th, 2009 at 1:57 am
@Sardono Syarief, Setuju dengan Pak Sardono.
Reply
Bagaimana pun tulisan ini dapat berlaku sebagai ‘aide memory’ bagi kita semua bahwa di pundak kitalah bahasa harus dilestarikan. Thank’s Pak Widi.
Reply
admin Reply:
September 16th, 2009 at 1:58 am
@Sustin, Setuju dengan bu Sustin.
Reply
dimana saya dapat menemukan silabus/rpp
Reply
admin Reply:
September 16th, 2009 at 1:59 am
@bagol, silabus dan rpp apa ya?
Reply
dimana saya dapat menemukan silabus/rpp bahasa jawa klas 1 2 3 smp
Reply
admin Reply:
September 16th, 2009 at 2:00 am
@bagol, maaf kami belum mengetahuinya. Makasih
Reply
terima kasih pak widi atas referensinya. saya membuat skripsi tentang dialek banyumasan. saya mau tau Menurut catatan Unesco, lebih dari 50 % dari 6.000 bahasa di dunia dalam keadaan bahaya, 96 % dari 6.000 bahasa diucapkan oleh 4 % populasi dunia. 90 % dari bahasa dunia tidak ditunjukkan di internet. Rata-rata satu bahasa lenyap setiap dua minggu (majalah Talenta Volume 2 No. 11 November 2005). dapatnya dari mana.referensinya dari mana???
rencana saya pengen bikin website tetang dialek banyumasan???? kalo bisa referensi2 tentang dialek banyumasan dikirim ke email saya y pak..
terima kasih
Reply
Suramnya masa depan bahasa Banyumasan, menurut saya disebabkan oleh beberapa faktor. Yang pertama, masyarakat Banyumas sendiri, tidak ‘pede’ menggunakan bahasa Banyumas (baca: ngapak), tidak hanya dalam forum resmi, bahkan dalam forum tidak resmi, seperti interaksi jual-beli, dll. masyarakat merasa lebih pede kalau bisa berbicara bahasa Jogja-Solo (baca: bandhek). Sekarang, coba perhatikan, dalam acara resmi, kita belum pernah ada ‘pranatacara’ yang menggunakan bahasa Banyumas, yang sering dipakai ya bahasa bandhek itu, meskipun tidak jarang peserta upacara tidak mengerti sama sekali.
Yang kedua, dunia pendidikan di wilayah Banyumas, saat ini didominasi oleh guru-guru ‘impor’ dari Jogja-Solo-Klaten dan sekitarnya (terutama SD). Akibatnya murid-murid kita justru sangat akrab dengan dialek bandhek dan merasa aneh dengan bahasa ngapak, yang notabene bahasa mereka sendiri.
Reply