Cara Mudah Membuat Majalah Sekolah
Sunday, 5 July 2009 (00:22) | 14,517 views | 35 komentar
Oleh Hery Nugroho
Membuat majalah sekolah? ”Ah susah!” Begitu pernyataan yang sering diutarakan siswa ketika ditanya masalah pembuatan majalah sekolah. Sebenarnya ada cara yang relatif mudah untuk membuat majalah sekolah. Bagaimana?
JAWABAN ”Ah susah!” dari para siswa itu tidak bisa disalahkan. Gurunya pun belum tentu bisa membuat majalah sekolah. Ini dapat dipahami, karena tidak ada mata pelajaran secara khusus mengenai pembuatan majalah sekolah.
Hal ini kontras dengan sekolah di Amerika Serikat, yang mana penulis pernah mengunjunginya beberapa waktu yang lalu. Semuanya mempunyai majalah sekolah yang dibuat sendiri. Di sana juga ada mata pelajaran jurnalistik, bahkan ada kelas khusus jurnalistik.
Tidak hanya tulis-menulis yang diajarkan, tetapi juga pembuatan buletin atau majalah. Hal ini tentu didukung dengan sarana-prasarana untuk menunjang mata pelajaran jurnalistik di sekolah.
Last but not least! Tiada kata terlambat untuk kemajuan pendidikan di Indonesia, termasuk dalam pembuatan majalah sekolah. Dalam 10 tahun terakhir ini, banyak sekolah yang menyadari arti penting majalah sekolah. Bahkan untuk meningkatkan kualitas majalah sekolah, dibukalah ekstrakulikuler (ekskul) jurnalistik di sekolah, juga digelar berbagai pelatihan jurnalistik dengan menggandeng praktisi pers.
Meski tidak berupa mata pelajaran jurnalistik secara khusus, setidaknya dengan ekskul jurnalistik ini bisa mengejar ketertinggalannya dari negara maju. Banyak sekali manfaat ekskul jurnalistik. Hery Nugroho (2006) mengatakan ada empat hal, yakni a) sebagai media penyaluran bakat siswa dalam bidang penulisan, b) penyaluran minat dalam bidang yang sama, b) membantu anak memahami dan mempraktikkan teori-teori dalam pelajaran bahasa, dan d) melatih anak tampil lebih berani dan kritis terhadap berbagai kondisi.
Dengan adanya ekskul jurnalistik, diharapankan dapat menelurkan produknya: majalah sekolah. Karenanya, sekolah yang mempunyai ekskul jurnalistik akan lebih mudah membuat majalah sekolah daripada sekolah yang tidak mempunyai ekskul tersebut. Secara teori, sekolah yang mempunyai ekskul jurnalistik sudah siap dengan infrastruktur dalam pembuatan majalah sekolah.
Sebenarnya sekolah yang tidak mempunyai ekskul jurnalistik tidak berarti harus menutup pintu untuk memiliki majalah sekolah. Sebab secara substansi juga diajarkan dalam setiap mata pelajaran, baik bahasa Indonesia, bahasa Jawa, maupun bahasa Inggris. Yang terpenting, adakah kemauan sekolah untuk membuatnya. Tentunya kemauan ini tidak hanya dari guru bahasa Indonesia saja, tetapi harus didukung berbagai komponen sekolah, mulai dari kepala sekolah, seluruh guru, karyawan, komite sekolah, orang tua siswa, dan siswa itu sendiri.
Merasakan Manfaat
Dukungan ini dapat dengan cepat diperoleh kalau masing-masing pihak mengetahui dan merasakan manfaat adanya majalah sekolah. Menurut Mulyoto (2007), ada tujuh manfaat adanya majalah sekolah. Pertama, sebagai media penyalur potensi menulis. Siswa dapat menyalurkan bakat serta minat menulis. Banyak sekali penulis terkenal memulai belajar menulis sejak bangku sekolah. Pendek kata, majalah sekolah dapat berfungsi sebagai kawah ”candradimuka” bagi calon-calon penulis masa depan.
Kedua, penyalur aspirasi. Seringkali banyak siswa ketika mempunyai masalah hanya diungkapkan dengan coretan di atas meja, atau di dinding sekolah. Pengungkapan perasaan seperti ini jelas merugikan sekolah, karena akan terkesan kumuh dan kotor. Daripada seperti itu, lebih baik siswa mengungkapkan perasaannya dengan tulisan, baik berupa gambar, cerpen, artikel, atau puisi yang nantinya akan dimuat di majalah sekolah.
Ketiga, media komunikasi. Tulisan yang dimuat —baik dari siswa, guru atau karyawan— akan dibaca seluruh keluarga besar sekolah. Hal ini secara tidak langsung akan terjadi komunikasi antarpembaca. Keempat, media pembelajaran berbasis baca-tulis. Belajar tidak cukup dengan hanya mendengarkan penjelasan guru, mencatat, dan menghafalkan. Tetapi juga mau membaca masalah-masalah di sekitarnya dan menuangkan dalam bentuk tulisan. Keberadaan majalah sekolah memberi ruang kepada siswa untuk mempublikasikan idenya.
Kelima, media belajar organisasi. Dalam pembuatan majalah sekolah diperlukan pengelola majalah, mulai dari pemimpin redaksi, sekretaris, bendahara, redaktur, wartawan, fotografer, dan lain-lain. Secara langsung, siswa belajar bagaimana membagi pekerjaan untuk membuat majalah sekolah.
Keenam, penyemai demokrasi. Dengan adanya majalah sekolah, siswa bisa menuliskan uneg-unegnya dalam bentuk tulisan. Uneg-uneg bisa berbentuk masukan untuk perbaikan sekolah. Sehingga siswa dapat merasakan pengalaman nyata tentang bagaimana menyampaikan pikiran dalam sistem yang demokratis, dengan cara yang bermartabat.
Ketujuh, media promosi. Tulisan yang ada dalam majalah sekolah sekaligus dapat diketahui orang lain. Selagi majalah itu masih ada, sampai kapan pun orang lain akan dapat membacanya. Dengan kata lain, penerbitan majalah sekaligus bisa menjadi media promosi sekolah tersebut.
Ya, ketujuh manfaat itu sangat bermanfaat. Atau dalam bahasa penulis (Hery Nugroho, 2008), kemanfaatanya sama seperti pohon kelapa. Mulai dari akar sampai batangnya bermannfaat. Setelah mengetahui manfaat dan bersepakat untuk membuat majalah sekolah, langkah berikutnya adalah action (pembuatan majalah sekolah).
Cara Praktis
Menurut pengalaman penulis selaku pembimbing, pembuatan majalah sekolah dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut. Yang pertama, masa persiapan. Pengelola majalah menyiapkan penerbitan majalah sekolah, yakni membuat proposal. Proposal hendaknya dibuat dan dibahas oleh seluruh pengelola. Mulai dari soal nama majalah, visi-misi, rencana rubrikasi, jumlah halaman, hingga rencana pemasukan dan pengeluaran dalam pembuatannya.
Kedua, masa penulisan dan pengeditan. Penulisan naskah bisa berasal dari siswa, guru, dan karyawan. Untuk memfokuskan isi, sebaiknya dilakukan rapat redaksi terlebih dulu. Jangan lupa, dalam redaksi itu harus ada kesepakatan bersama kapan batas akhir (dead line) pengumpulan naskah.
Setelah semua tulisan masuk ke meja redaksi, langkah berikutnya adalah menyeleksi naskah layak muat dan mengeditnya. Editing dilakukan oleh editor, dan tugas itu bisa dilakukan oleh guru bahasa, khususnya bahasa Indonesia.
Ketiga, lay out. Pada masa ini, naskah yang telah dimuat ditata (lay out). Kalau pengelola majalah bisa me-lay out sendiri, itu lebih baik. Kalau tidak, minta bantuan orang lain yang ahli. Meski yang me-layout orang lain, alangkah baiknya ada salah seorang redaksi yang ikut mendampingi, untuk memudahkan lay outer manata sesuai dengan keinginan redaksi.
Hasil lay out bisa diprint, untuk diedit ulang. Mungkin ada yang masih salah, kurang foto, atau yang lain. Langkah ini bertujuan untuk meminimalisasi kesalahan isi majalah. Keempat, pracetak. Pada masa ini, pembuatan majalah 75 persen hampir jadi. Ibarat foto, tinggal membuat filmnya. Dalam tahap ini, pengelola dihadapkan pilihan apakah menggunakan film atau kalkir. Film pun ada dua pilihan: separasi atau hitam putih.
Pilihan ini tergantung dari kemampuan pengelola majalah sekolah. Kalau ingin bagus, bisa berbentuk film yang separasi. Tetapi kalau dananya minim, bisa menggunakan kalkir. Dalam pengamatan penulis, banyak pengelola majalah sekolah menggunakan film separasi untuk cover, sedangkan halaman isi menggunakan kalkir. Hal ini ditempuh dengan pertimbangan penghematan pengeluaran dana dan kualitasnya tidak begitu jelek.
Kelima, pencetakan. Ini adalah tahapan terakhir, dan sangat menentukan kualitas cetak majalah. Karenanya, redaksi harus hati-hati memilih percetakan yang betul-betul berpengalaman. Selain itu, perlu diperjelas waktu selesai pencetakan. Jangan sampai waktunya meleset dari keinginan pengelola.
Setelah kelima hal itu dilakukan, bukan berarti pekerjaan pengelola majalah selesai. Ada hal yang tidak kalah penting, yakni membagi majalah ke tangan pembaca. Bagaimana, mudah bukan membuat majalah sekolah? Selamat mencoba! ***
Hery Nugroho, S.Pd.I
Guru SMP Negeri 7 Semarang, juara III Sayembara Penulisan Buku Pengayaan Tingkat Nasional Tahun 2008 yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Depdiknas, Pengurus Agupena Jawa Tengah.
Tulisan lain yang berkaitan:


ROTO | Sunday, 5 July 2009 @ 6:18 am
MAS HERY…
LANGKAH MAS HERY LUAR BIASA, AKAN KUCOBA
MAS ….SEKSES SELALU
Reply
nur Reply:
February 8th, 2011 at 8:24 pm
i lovew u tu
Reply
Sardono Syarief | Sunday, 5 July 2009 @ 9:02 am
Saya sependapat dengan Mas Hery. Membuat majalah sekolah memang banyak manfaatnya baik bagi guru, karyawan, lebih-lebih bagi siswa pada sekolah yang bersangkutan. Apalagi sekarang banyak ditunjang dengan sarana dan prasarana yang lebih komplit lagi modern. Tentu usaha membuat majalah sekolah hasilnya akan lebih cepat lagi mampu menarik minat pembaca.
Tentang pengalaman membuat majalah sekolah ini telah pernah saya dan kawan-kawan kerjakan (1980-1982), Mas Hery. Tepatnya saat kami duduk di bangku SPG Negeri Pekalongan. Bisa Mas Hery bayangkan! Saat itu kami kerja lembur setiap pulang sekolah (jam 14.00-17.00) hanya untuk menyiapkan majalah yang harus terbit tiap bulan sekali.Kami berbagi tugas untuk dapat menerbitkan majalah yang baru bisa kami wujudkan dengan kertas buram, warna hitam putih, ketik manual, dan foto copy putar (mesin roneo). Meski demikian, tiap kali terbit,teman-teman pembaca menyambutnya dengan amat antusias, Mas. Sehingga karena terbiasa berkecimpung di dalam menulis, membaca, mengedit tulisan, dan menerbitkan majalah sekolah selama kurang lebih tiga tahun, maka dari SPG Negeri Pekalongan (sekarang SMA 3 Pekalongan)banyak lahir generasi penulis untuk media massa lokal maupun nasional hingga sekarang.Salut untuk tulisan Mas Hery!
Reply
Lanang Reply:
September 18th, 2009 at 1:32 am
aku lulusan spgn PKL bontot (gurunya masih Bu Sri, Bu LAtifah, Pak Gozali, Bu win wah lupa,.. lulus PGSD IKIP Jakarta cuma sekarang kerja di offset printing sebagai OPR Design Graphic CTP di jakarta kalo ada yang kenal lulusan bontot kontek2 dong 0813 8228 7015
.-= Lanang´s last blog ..Channels Photoshop untuk Proses Cetak =-.
Reply
Hery | Thursday, 9 July 2009 @ 8:05 am
untuk Pak Roto dan Pak Sardono…
Terimakasih. Semoga tulisan saya bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Amiin. Sukses juga.
Untuk Pak Sardono juga luar biasa. Karena pada saat itu –tahun 1980– saya baru lahir. Pastinya, Pak Sardono banyak pengalaman dong. Seharusnya, saya juga harus belajar dengan bapak.
Reply
Sardono Syarief | Friday, 10 July 2009 @ 10:52 am
Buat Mas Hery.
Pengalaman biasanya memang membawa kematangan. Namun dalam hal menulis via majalah sekolah, mari kita saling belajar dan mengisi mas!
Reply
Admin/Deni | Friday, 10 July 2009 @ 10:53 pm
Aku senang, ada komunikasi dan diskusi antarpengurus seperti ini tentang kepenulisan, organisasi atau yang lainnya seputar dunia pendidikan.
Aku yakin bahwa Agupena akan semakin eksis dan dikelola dengan baik oleh segenap pengurus, baik di wilayah maupun daerah.
Kita telah dua kali audiensi, pertama, dengan Dinas Pendidikan Prov dan kedua, dengan Sesditjen PMPTK. Semua menyambut baik kehadiran Agupena. Mohon kepada semua pengurus baik wilayah maupun daerah untuk betul-betul komitmen merawat organisasi ini dengan baik.
Terima kasih semuanya.
.-= Admin/Deni´s last blog ..Hasil Audiensi Agupena, Sekretaris Ditjen PMPTK, dan SEAMOLEC =-.
Reply
Lanang | Friday, 18 September 2009 @ 1:35 am
untuk lay out majalah sampai pracetak Insya Allah aku sedikit bisa,…..
.-= Lanang´s last blog ..Channels Photoshop untuk Proses Cetak =-.
Reply
Rosek | Sunday, 21 March 2010 @ 7:05 am
kebetulan nieh mas di sekolah q ada majalah sekolah..tapi kami ada kendala..yang pertama adalah ketika semua artikel tersebut telah terkumpul dan siap di cetak artikel tersebut menjadi kadaluarsa gara2 masalah biaya dan lama di percetakan
..bagaimana cara mengatasinya?
dan yang kedua…masalah minat para siswa…bagaimana cara menarik minta siswa agar mau bergabung menjadi anggota majalah?
tolong di jawab
thank you…
Reply
Hery Reply:
June 10th, 2010 at 8:45 pm
cara mengatasi artikel yang kadaluarsa disebabkan masalah biaya dan lama percetakan adalah matangkan perencanaan sebelum membuat majalah.
Mulai dari pengumpulan naskah, editing, lay out sampai lay out harus benar-benar harus direncanakan dengan matang, khususnya waktu deadline.Biasanya majalah sekolah terbitnya persemester atau pertahun, sehingga isinya pun menyesuaiakan. Begitu pun dalam hal tulisan artikel, juga menyesuaikan. Karenanya, pastikan artikel yang ditulis siswa atau guru tidak basi ketika nanti majalahnya terbit.
Cara menarik siswa bergabung dengan majalah, pengalaman saya:
1. memberitahu kepada siswa manfaat menjadi pengelola majalah sekarang dan masa datang. Manfaat saat ini, misalnya: dapat bertemu dengan orang-orang penting. pengalaman saya, anak bisa wawancara dengan artis ibu kota, wali kota, dan lain-lain. Manfaat yang akan datang, misalnya,menjadi penulis terkenal, menjadi pemilik media, dan lain-lain.Apalagi setiap siswa setelah lulus sampai nanti kuliah tidak bisa lepas dari menulis.
2. untuk pengelola yang aktif, saat majalah terbit, siswa tersebut mendapat penghargaan “uang saku.”
3. dapat menjuarai berbagai lomba, khususnya dalam menulis. Bagi yang menjuarai lomba, nanti menjadi nilai plus untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan, nanti waktu kerja dapat menjadi tambahan sendiri.
Semoga bermanfaat.
Reply
didik m. riyadi | Saturday, 5 June 2010 @ 9:23 pm
saya, kebetulan sekali diberi kemudahan menjadi wartawan sejak 1988. Saat ini, saya mempunyai lembaga pelatihan pengembangan bakat (LP2B) yang siap membagi ilmu jurnalistik dengan gratis kepada semua yang membutuhkan. Saya juga siap memberi pelatihan kepada sekolah yang tertarik ingin membuat media sekolah (buletin, tabloid, majalah), mula i dari pembelajaran mencari dan menulis berita hingga lay out nya. Ada juga trik dan tip membuat media sekolah tanpa harus membebani keuangan sekolah. Kalau anda ada di Semarang dan sekitarnya, insyallah saya bisa membantu semua permasalahan terkait jurnalistik. Kontak aja saya via email. Dan mari kita susun jadwalnya, karena saya saat ini disibukkan mengelola dua media sekolah yang lumayan besar dan sebuah majalah berita remaja independent.
Salam.
Didik M. Riyadi
Reply
Hery Reply:
June 10th, 2010 at 8:48 pm
Luar biasa pak Didik. Lanjutkan perjuangan.
Reply
frina Reply:
August 8th, 2012 at 8:43 am
@didik m. riyadi,
boleh tau emailnya pak ??
maaf sebelumnya, trimaksih
Reply
agung setyo winarno | Thursday, 10 June 2010 @ 8:36 am
mas saya masih agak kesulitan dalam membuat majlah sekolah padahal di kampus saya ada mata kuliahnya tpi dosennya sllu pergi dan hanya membuat contoh tpi msh bingung tlg solusinya?
Reply
Hery Reply:
June 10th, 2010 at 8:54 pm
Alangkah baiknya kesulitannya lebih khusus dalam hal apa. Apakah cara pembuatannya atau isi majalah atau biayanya? Jika ingin lebih detail, silahkan datang ke kantor.
Reply
rofiatul atiqoh | Wednesday, 14 July 2010 @ 1:48 am
assalamu’alaikum,,
saya pengen bgt bikin majalah sekolah.
tapi saya masih bingung prakteknya gimana?
Reply
hery Reply:
October 12th, 2010 at 12:39 am
setelah membaca artikel di atas, segera dicoba membuat majalah sekolah. Selamat mencoba. semoga sukses…
Reply
dessy rahma aulia | Wednesday, 21 July 2010 @ 9:08 am
assalamualaikum
)
aku ada tugas sekolah, aku juga bingung gmana ngerjain tugas mbuat majalah ini
pake apa yaa ngeditnya yg gampang ?
padahal aku seneng bgt sama tema majalahku
makasih-
Reply
hery Reply:
October 12th, 2010 at 12:41 am
Jangan bingung ya, membuat majalah itu mudah. senang dulu, baca panduan di atas, dan segera buat….
Reply
anjar | Monday, 23 August 2010 @ 1:56 am
lalu anggaran biaya untk membuat mjlh kira2 brapa .?
Reply
hery Reply:
October 12th, 2010 at 12:45 am
tinggal ingin membuat majalah yang seperti apa dulu, berapa halaman, bentuk kertas, berapa oplahnya? Ada barang, ada harga. Tapi jangan khawatir soal dana, bicarakan dengan pihak lain. Kalau ingin hemat pakai kertas buram.
Reply
ROMELAN | Friday, 1 October 2010 @ 7:41 am
Mas,mohon bantuannya sy lagi mau membuat majalah sekolah tapi mau membuat proposalnya sedikit ada hambatan, bisa ngga tolong kirim contoh proposal MEMBUAT MAJALAH SEKOLAH, atas bantuannya terima kasih
Reply
wan | Sunday, 3 October 2010 @ 10:16 pm
selamat..artikelnya sgt membantu..jika boleh minta hantarkan penunjuk cara membuat majalah sekolah yang lebih terperinci kepada saya d emel wanphenomer@yahoo.com..saya merancang untuk membuat majalah sekolah d tempat saya,sabah malaysia..terima kasih..
Reply
hery nugroho Reply:
February 11th, 2011 at 3:23 am
@wan, sebenarnya di artikel tersebut sudah komplit. Lebih komplit di buku saya yang dalam proses cetak di Pusbuk. Semoga tahun ini bisa terbit. Amiin.
Reply
Imam Mukhlasin MT | Tuesday, 26 October 2010 @ 9:59 am
Reply
Adi | Sunday, 21 November 2010 @ 3:40 pm
Pngen Bikin Majalah Sekolah,,minta bantuannya donk,,,
Reply
hery nugroho Reply:
February 11th, 2011 at 3:21 am
@Adi, boleh.
Reply
Irawan Jatmiko | Sunday, 6 February 2011 @ 12:09 am
Bagus sekali, dan terima kasih paling tidak kami bisa memulai apa yang dulu pernah diterbitkan untuk dibangkitkan lagi. Di Malang Jatim ada kumpulan penulis ga ya?
Reply
hery nugroho Reply:
January 4th, 2012 at 3:01 am
@Irawan Jatmiko, Setahu saya ada. silahkan di search di google
Reply
ahmad | Thursday, 16 June 2011 @ 7:33 am
makasih informasinya mas
Reply
hery nugroho Reply:
January 27th, 2012 at 10:49 pm
@ahmad, Ok sama-sama
Reply
tyaaz olala | Tuesday, 22 November 2011 @ 9:49 pm
thanks..sir…..im the second grade of senior high school..kbetulan sy pimpinan redaksi sebuah majalah di skolah.. tp pnglaman sy msh kurang..untung ada info.a….mkasih..
Reply
hery nugroho Reply:
January 4th, 2012 at 3:02 am
@tyaaz olala, Alhamdulilah, There is a will there is a way… selamat mencoba.
Reply
Tutut Sumarjiyana | Sunday, 11 March 2012 @ 8:53 pm
Ada pengalaman menarik ketika ada lomba Majalah sekolah se Soloraya yang diadakan UNS, pesertanya kurang dari 10. Kebetulan sekolah kami ikut dan juara 3. Rata2 pserta lomba ternyata minim pengetahuan tentang pembuatan majalah sekolah. Jadi kesalahan yang muncul secara umum bukan karena tampilannya yang menarik, tetapi karena tidak memenuhi kaidah2 sebuah majalah. Ayo kita galakkan pembuatan majalah sekolah agar kreativitas menulis anak didik kita tersalurkan
Reply
resa | Friday, 1 June 2012 @ 9:28 am
keren ! di sekolah saya ada ekskul jurnalistik nya pak ! dan saya menjadi salah satu anggota dalam setiap pembuatan bulletin sekolah. ketika ingin melakasanakan suatu project yaitu ingin membuat majalah tahunan, kami terbentur oleh dana karena dana tidak keluar dari sekolah dan proposal pun tidak tembus. apa yg harus di lakukan oleh saya dan tim?
Reply