Wahai Guru, Menulislah Apa Yang Kalian Bisa !

Thursday, 2 July 2009 (18:16) | 302 views | 3 komentar

Oleh Drs. BUDI WAHYONO (Juara 2 Lomba Penulisan Artikel Agupena Jawa Tengah 2009)
budiMeski setumpuk buku teori tentang kepenulisan sudah diterbitkan, dipajang gagah di toko buku yang berarti juga bisa diakses masyarakat (termasuk guru) – namun kenyataannya buku-buku teori tersebut belum sepenuhnya mampu menggerakkan semangat menulis di kalangan guru. Sungguh tidak beda jauh dengan nasib diklat, workshop, seminar atau apapun kemasannya yang berpuluh kali diselenggarakan – masih belum mampu untuk menghardik rasa malas guru dalam belajar menulis.

Menjadi benar kalau hasil penilaian tim monitoring independen mencatat bahwa hampir 50 % guru umumnya tidak memiliki karya ilmiah yang terkait dengan pengembangan profesi. Temuan ini juga hampir sama dengan temuan dari Tim Sertifikasi Rayon 13 UNNES Semarang yang selama tahun 2006, 2007, 2008 guru-guru yang mengajukan sertifikasi 52 % tidak memiliki karya ilmiah yang memadai (Nugroho, 2009 : 1)

Fenomena yang substansinya sama juga terjadi pada para guru yang belum mampu menulis karya ilmiah untuk pengembangan profesi sebagai tiket kenaikan golongan ke IV/b. Mereka lebih suka pasrah menunggu bertahun-tahun sampai pensiun.

Deretan data di atas rasanya cukup menempelak kepala kita. Mestinya keberanian menuangkan gagasan brilian dalam bentuk tulisan bisa menjadi salah satu penyebab betapa masih banyaknya guru yang tidak lulus sertifikasi. Padahal, kalau kita sudah menekuni dunia tulis-menulis selama beberapa tahun saja, aktivitas menulis akan menjadi tambang emas untuk mengumpulkan skor penilaian. Adagium ini penting untuk meyakinkan bahwa demi penulisan senantiasa mendapatkan penghargaan yang menggiurkan.

Tanpa maksud sedikit pun untuk menyombongkan diri, kenyataannya sebuah artikel milik saya yang dimuat media berakreditasi, bisa meraih skor 10 (sepuluh) karena isinya relevan dengan mata pelajaran yang saya ajarkan. Sedang artikel yang dimuat media lokal bisa memperoleh skor 5. Anda bisa membayangkan : Berapa ratus skor yang bisa kita kumpulkan kalau seorang guru mampu menulis 50 judul artikel selama masa produktifnya. Panen raya skor juga saya nikmati dari perolehan menulis makalah, cerpen, puisi bahkan cerkak dan geguritan (cerita pendek dan puisi berbahasa Jawa). Sungguh sebuah penghargaan yang patut dibanggakan. Pantas kalau kemudian menjadikan guru lain untuk iri dalam pengertian positif.

Kebanggaan semacam ini paling terasakan ketika kemudian membuahkan konsekuensi sosial/intelektual dan ekonomi. Paling tidak saya menjadi lebih dikenal orang, bisa mendapatkan tambahan penghasilan berkat honorarium yang saya terima, sampai memiliki hak untuk mengikuti berbagai pertemuan ilmiah di tingkat nasional. Dan tanpa bermaksud meledek: Kalau dihitung skor sertifikasi saya untuk dua guru pun masih sisa.

Sungguh paradoks dan ironi kalau saya bandingkan dengan nasib teman-teman guru yang usianya sebaya. Termasuk guru bahasa Indonesia yang selama hidupnya barangkali belum pernah menulis sebutir puisi. Betapa mereka harus mondar-mandir, terhuyung-huyung mengikuti beragam seminar, simposium, diklat, workshop hanya demi berburu selembar kertas sertifikat/piagam. Mobilitas kesibukan ini terpaksa ditempuh di tengah-tengah aktivitasnya mengajar, sehinga mau tidak mau akan merampas hak anak-didik yang semestinya mendapatkan proses pembelajaran menjadi terlontarkan.

Di sisi lain, dengan hitungan matematika sederhana, kita juga bisa nakal menghitung : Berapa dana yang harus dikeluarkan, waktu serta fluktuasi kecemasan untuk mendapatkan skor di balik piagam.
Lebih tragis lagi ketika putaran musim sertifikasi sudah dijalani, jika sudah dinyatakan lulus (atau mungkin melalui PLPG) – perburuan piagam begitu mudah dilupakan. Substansi dari sederet pertemuan ilmiah secara intelektual gagal memberikan hikmah.

Dalam tataran konteks semacam ini kita sungguh prihatin : Betapa makin kabur kesadaran guru dalam menggenggam persoalan-persoalan pendidikan lengkap dengan solusi penawarnya.

SEJATINYA kampanye “Mari membudidayakan kegiatan menulis di kalangan guru” tidak pernah berhenti gema kesinambungannya. Berbagai proyek penulisan dengan rangsangan menggiurkan diam-diam ternyata mampu menjadi magnet bagi guru kita. Dari penelitian yang didanai pemerintah hingga pembuatan buku/modul/LKS baik yang dibuat secara individu maupun kolaboratif – paling terasa harum letupan kreativitasnya. Ini sebuah gambaran sekaligus simpulan bahwa ternyata kalangan guru kita mampu melahirkan karya tulis setelah mengalami pemaksaan-pemaksaan persuasif.

Tentu saja kita tidak boleh sinis berkomentar terhadap persoalan ini. Iklim kondusif semacam ini harus kita pelihara ketika kita memahami bahwa para gurulah sosok yang paling mengerti dan memahami kondisi anak-didik di lapangan. Gurulah pihak yang paling tahu tingkat kecerdasan anak-didik termasuk potensi akademik yang dimilikinya. Tugas mulia yang harus melandasi moralitas guru adalah kesanggupan menjaga potensi-potensi yang terpendam tersebut.

Di titik inilah kebernasan menu / materi yang dijadikan makanan pokok / suplemen bagi anak-didik menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan. Berbagai jurus jitu musti diterapkan demi keunguulan pendidikan.
Jika tradisi menulis LKS yang terjaga bobot ilmiahnya sudah menjadi tugas pokok bagi guru, siapa tahu dalam tataran kreatif selanjutnya para guru akan melahirkan buku-buku pendamping yang kualitasnya lebih legitimatif. Pertanyaan yang kemudian muncul : Siapa yang berhak menelusur dan mengukur kualitas LKS karya para guru ?

Di harian Kompas, 5 Februari 2008 saya pernah, menulis agar MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) memiliki kesempatan untuk memproyeksikan acara bedah buku, LKS atau buku paket secara sinergis. Dalam pertemuan itu peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok memperoleh kesempatan untuk mengkritisi isi masing-masing bab. Jika pesta kritik bisa dilaksanakan secara cerdas dan bijak, niscaya kualitas buku konsumsi anak-didik akan senantiasa mengalami peningkatan.

Langkah strategi semacam ini saya pikir akan menjadi dorongan yang tidak main-main untuk menggiring guru menjadi giat menulis LKS bermutu dan suatu saat tergoda menulis buku.

Tetapi impian indah tersebut mustahil terwujud kalau naluri intelektual kita terkesan jalan di tempat. Ada keprihatinan kolektif ketika berhadapan dengan guru dan terlibat diskusi dengan topik kepenulisan. Selalu saja disambut dengan jidat berkerut. Terkesan sekali menulis seolah-olah masih merupakan dunia asing.

Bagi saya menulis lebih merupakan tuntutan intelektual. Pada tahap-tahap awal, tanpa harus merasa malu, sesungguhnya kita bisa belajar menulis apa saja. Senyampang dengan kemajuan teknologi yang mampu menggerakkan anak-anak sampai ibu rumah tangga tergoda menulis di blog / facebook – apa salahnya para guru kita ikut tergoda terlibat di dalamnya ?!

Rasanya tidak ada kata terlambat ketika para guru ditantang untuk belajar menulis dan mempublikasikan pada publik pembacanya. Jika kita masih belum mampu menulis buku atau penelitian setebal bantal – belajarlah menulis naskah yang pendek-pendek dulu. Menulis surat pembaca, tip dari dapur, humor kata, pengalaman berkesan yang lucu maupun menjengkelkan yang hanya setengah folio sampai satu folio panjangnya bisa dicoba. Jika karangan sederhana tersebut kita kirim ke media, dimuat dan dibaca ratusan ribu pasang mata – berarti sudah terbuktikan kalau kita mampu mengarang.

Tentu kita tidak boleh merasa puas sampai di sini. Tantangan menulis yang lebih bergengsi sekaligus berkualitas senantiasa terbentang di hadapan kita. Dan ini harus kita jawab dengan segera. Beberapa gagasan yang melintas atau menyumbat di benak kepala kita harus bergegas disalurkan sesuai dengan kebutuhan yang kita obsesikan. Kita bisa belajar menulis karya kreatif seperti puisi, cerpen, bahkan novel. Kebiasaan berimajinasi semacam ini saya pikir bisa memacu kreativitas kita dalam penulisan karya ilmiah semacam makalah, artikel penelitian sampai buku.

Dengan latihan terus-menerus tanpa rasa kendor nyatanya beberapa naskah saya bisa memenangi sayembara baik tingkat lokal maupun nasional. Yang lebih menggembirakan lagi dengan memiliki kompetensi menulis saya bisa mendapatkan tiket untuk mengikuti kegiatan ilmiah tingkat nasional yang dihadiri guru-guru cerdas dari penjuru tanah air. Bahkan beberapa teman yang puluhan tahun silam tidak pernah saya terima kabarnya, tidak jarang saya temukan dalam forum ilmiah bergengsi semacam ini. Rasanya seperti sebuah keajaiban yang benar-benar menjadi kenyataan.

Jangan Andalkan Bakat Tetapi Kerja Keras
Jujur saja, dunia tulis menulis adalah dunia yang mampu melambungkan impian saya pada tataran realitas. Kita bisa mereguk kepuasan batin yang sulit digambarkan ketika tulisan demi tulisan kita bisa berebut muncul di media. Jika mood baru memanjakan kita, bukan tidak mungkin dalam semalam bisa kita rampungkan beberapa judul tulisan. Sungguh kontradiktif, kalau saya bandingkan proses kreatif seorang kawan yang harus memakan waktu selama berminggu-minggu untuk merampungkan sebuah artikel.

Ah! Ini bakat yang tidak setiap orang bisa memilikinya. Kalimat menyakitkan ini selalu saja muncul sebagai tindakan advokatif ketika seseorang ingin menutupi aib kreativitasnya. Tentu saja kita harus belajar menumbangkan persepsi psikologis yang salah kaprah tersebut. Kita harus punya keyakinan penuh bahwa pada prinsipnya setiap orang punya kemampuan menulis.

Lalu, kalau dirunut lagi, setiap orang pasti selalu kaya akan kepemilikan gagasan. Kalau anak-didik tingkat SLTA sudah bisa menulis laporan sepanjang puluhan halaman, sarjana bisa merampungkan skripsi berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus halaman, mengapa kita yang sarjana tidak pernah bercermin pada potensi kemampuan yang kita miliki?! Inilah magma terpendam yang harus segera kita ledakkan. Menulis artikel sepanjang 5 (lima) sampai dengan 10 (sepuluh) halaman semestinya tidak perlu menjadi keluhan.

Untuk meyakinkan bahwa bakat bisa disingkirkan oleh kerja keras. Orang bijak berkata bahwa bakat tidak lain adalah minat dan ambisi yang terus-menerus berkembang. Tidak beda jauh dengan nasihat yang pernah dilontarkan penyair dan eseis yang tekun dari Ngawi bahwa untuk menjadi penulis yang baik, salah satunya harus mampu menanamkan pada diri sendiri kalau sesungguhnya menulis tidak tergantung dengan bakat. Untuk menguatkan ketahanan kalian dalam menulis, disarankan : Jangan terlalu menuntut kesempurnaan. Jika merasa sebuah resensi, esei, artikel, cerpen, puisi harus sempurna – sikap ini bisa menyingkirkan kreativitas. Bahkan menghasilkan kelumpuhan besar bagi penulis… (Widarmanto, 2007: 39).

Betapa Malu Kalau Guru Tidak Menulis
Menulis pada tataran yang lebih humanis bisa disebut sebagai kegiatan yang mampu mengakomodasi kepentingan berekspresi. Di sana sangat tercermin adanya aktualisasi berpikir secara demokratis.Tidak peduli apa disiplin ilmu kita / mata pelajaran yang kita ajarkan. Dengan kemampuan menulis, pembaca (termasuk anak-didik kita) akan semakin paham sejauh mana wawasan intelektual kita. Barometer ini sangat penting untuk memberi pencitraan positip betapa guru sangat dituntut bisa menulis.

Melengkapi paparan ini rasanya kita perlu bercermin pada tokoh-tokoh yang berjajar di lapis intelektual kritis. Mereka menjadi melambung namanya tentu tidak bisa lepas dari kepiawiaannya menulis. Sekadar menyebut, lihatlah, Todung Mulya Lubis yang esei-esei hukumnya bagus, ternyata juga kampiun menulis puisi. Eep Saifullah Fatah, kolumnis politik ini bisa menulis cerpen dengan baik. Termasuk Hendrawan Nadesul, Faisal Basri, Yudi Latif serta sederet nama lain – tulisan-tulisannya terus mengalir.

Kita tentu bisa memiliki mimpi besar sehebat mereka. Kalau pun tidak sehebat mereka, kita bisa menulis semampu kita demi menghindari rasa malu kepada anak-didik kita. Coba bayangkan kalau suatu saat kita hanya puas menjadi agen LKS, menagih cicilan LKS untuk konsumsi anak-didik kita. Lalu salah satu anak-didik kita yang kritis membuka sampul LKS dan menanyakan kepada kita kalau nama gurunya tidak ada… Mau ditaruh di mana wajah terbelah kita?!

Pengandaian mengerikan ini bukan bermaksud menakut-nakuti. Kita perlu kesiapan mental untuk segera menjawabnya. Kalau kita sudah membuktikan keberhasilan dalam bidang kepenulisan, giliran berikutnya adalah menularkan ilmu yang kita miliki kepada mereka. Jika gurunya saja terbata-bata merangkai kata-kata, mana mungkin anak-didiknya bisa?

Pertanyaan naif ini tentu saja tidak layak dilontarkan. Di sekitar kita sudah tidak terhitung, berapa banyak anak-anak mampu menulis puisi, cerpen bahkan novel! Sebelum kita digilas habis oleh kecanggihan berpikir mereka, tentu kita tidak perlu terlalu merenung berlama-lama. Saya sudah membuktikan sendiri bahwa murid dari desa yang saban hari bergelut dengan cangkul dan lumpur pun kalau diajari menulis puisi – di luar dugaan: Ternyata juga mampu menulis baris-baris puisi secara menakjubkan. Murid lain yang saban hari harus mengayuh sepeda ke sekolah pun, bisa menulis tanggapan/ opini untuk kemudian saya kirimkan ke koran. Semua seperti di luar dugaan.

Sampai suatu saat, saya pernah tersenyum: Tersebar ke mana murid-murid saya yang dulu pernah meloloskan puisinya di di rubrik Kaki Langit majalah Horison, tabloid Trend hingga koran Kedaulatan Rakyat dan semacamnya? Saya ingin suatu saat mereka tergugah menulis karena sudah yakin bisa. Saya sangat berharap keyakinan serupa juga digenggam dengan mantap oleh para guru kita. Jika tidak, silakan meladeni judul menggoda dari tulisan saya: Wahai Guru, Tulislah Apa Saja yang Kalian Bisa. ***

Rujukan
Nugroho. Strategi Menulis Artikel Ilmiah Poluler. Makalah Dalam Workshop Penulisan Karya Tulis Guru di LPMP Jateng tanggal 18 – 20 Mei 2009.
Wahyono, Budi. “Hukum Karma – dalam LKS. Kompas 5 Februari 2008 hal. D.
Widarmanto, Tjahjono. “Menulis Resensi Buku”. Buletin Pusat Bahasa Depdiknas. Vol. 13 Edisi Juli – Desember 2007.

_________________________
BUDI WAHYONO
Guru SMK NEGERI 7 SEMARANG
JL. SIMPANG LIMA SEMARANG 50241

Tulisan lain yang berkaitan:

3 Responses to “Wahai Guru, Menulislah Apa Yang Kalian Bisa !”

  1. sita on Thursday, 29 October 2009 (pukul 3:28 am)

    menurut saya apa yang ditulis Bapak Budi benar sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada guru saat ini yang mengenai ironisnya guru yang tidak bisa menulis baik Karya Tulis Ilmiah dan Menulis buku.. Ayoo… para guru yang ada di Indonesia, semangatlah untuk menulis buku atau Karya Tulis Ilmiah jika mau naik sukses…..

    Reply

  2. Ida Choll on Thursday, 16 September 2010 (pukul 6:31 am)

    Hallo Pak, saya salah satu guru yang sudah menghasilkan buku lho…
    baca ya Pak buku perdana saya “Curhat Abis Bu Guru Kita”. Ada di gramedia atau tiga serangkai. Pesen saya juga boleh, heheheh…. :lol:

    Reply

  3. Ida Choll on Thursday, 16 September 2010 (pukul 6:33 am)

    Hallo Pak, saya salah satu guru yang sudah menghasilkan buku lho…
    baca ya Pak buku perdana saya “Curhat Abis Bu Guru Kita”. Ada di gramedia atau tiga serangkai. Pesen saya juga boleh, heheheh….

    Reply

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP