Friday, 26 June 2009 (23:35) | 88 views | 4 komentar
Burung yang Bertengger Sendiri di Ranting Tua
burung yang bertengger sendiri di ranting tua membisu.
angin menghilang entah kemana senja kian menua.
di pantai nelayan mulai pulang di kandang, sapi pun telah dipautkan langit menguak,
purnama datang malu-malu katakan: apa warna hidup abadi sejarah, tambo, atau industri?
burung yang bertengger sendiri di ranting tua menghitung jarak,
yang lalu dan yang akan datang :sejarah, tambo, atau industri?
(yang kutahu lewat sejarah kita hanya bisa menjarah lewat tambo
penuh intrik hero dan industri membuat kita sepi?
kemana hendak pergi?
Air Kolam yang Diam
di belakang halaman sebuah taman
ada kolam tak ada ikan hanya suara ilalang
angin pun hilang di balik awan bersama,
menatap matahari yang marah
air kolam yang diam bertanya: kemana ikan?
dan lumut pun sepertinya heran
menatap bayang-bayang teratai membisu menahan luka
Air Tergenang di Halaman
ada air tergenang di halaman
setelah hujan tadi siang warnanya bening berkilau
ditimpa cahaya matahari yang menguak awan di pengujung sore
air tergenang di halaman
di antara kerikil berserakan membisu
diam-diam sementara angin menyibak awan
dan pergi membawa luka
Burung Bul-bul
ada burung di tengah kota terbang rentangkan sayapnya
burung bul-bul, namanya ada burung hinggap di atas atap rumah membisu,
menahan tiupan angin berbau serbuk dan mesiu
ada burung di puing hangus terbakar
burung bul-bul, namanya
menatap dan tak percaya pada elang,
telan manusia di bumi afrika
ada burung di senja buta terbang dalam muram
dan berduka kabarkan tentang darah
dan bau mayat melingkup penjuru kota semrawut dan sekarat
ada burung di tengah kota
burung bul-bul, namanya
tak berkicau seperti biasa
tak melayang seperti biasa
tak berkejaran seperti biasa
pasangannya diambil tentara yang terbang seperti dirinya
Burung-burung pun Mengubur Nyanyi di Kepak Sayap
burung-burung pun mengubur nyanyi di kepak sayap
lengang membentang
di tengah ladang setangkai kamboja gugur.
awan menepi di sini hanya sepi, dan dera yang tertunda
ada luka yang memancurkan darah
ketika burung-burung terdiam di ranting tua tak mengepak,
nyanyinya hilang di rimbun daun yang gugur dan tidur di tangkai kematian
burung-burung pun mengubur nyanyi di kepak sayap udara tak lagi bertiup,
hanya lengang dan tiap menatap,
hanya ada ratap kemudian hilang,
sesaat ada sipongang ketika episode berakhir,
siang menepi ke pinggir malam
Hujan di Ladang
hujan di luar.
menderas kelopak tebu basah berayun di sana,
seorang tua bergegas memikul ketela
adakah ia merasa retak hujan?
langit kian mendung; angin berlari hari telah siang;
mengapa kita masih terdiam di huma ini,
hujan meretas atap hanya sepi;
sementara basah kian melindas
bagai sebuah nyanyian karang luka
kita takkan terbasuh oleh hujan
Tulisan lain yang berkaitan:




Deni | Friday, 26 June 2009 @ 11:52 pm
Saya tunggu kiriman puisinya yang lain, Pak Zul…

makasih udah ngirim….
Deni´s last blog ..Guru Bisa Jadi Penulis Terkenal
Reply
Zulmasri | Saturday, 27 June 2009 @ 1:26 am
terima kasih pak deni. tapi baris-baris puisinya jadi nggak pas. ada yang harusnya berada pada baris berikutnya, tapi bersambungan begitu saja.
Zulmasri´s last blog ..Pertemuan
Reply
Deni | Saturday, 27 June 2009 @ 2:18 am
gimana sekarang bos…

Deni´s last blog ..PUISI ZULMASRI
Reply
Zulmasri | Saturday, 27 June 2009 @ 10:33 pm
he he, lumayanlah. trims
Reply