Kemampuan Menulis Para Guru Minim
Friday, 19 June 2009 (04:31) | 95 views | 1 komentar
SEMARANG- Salah satu kendala guru untuk meraih predikat profesional adalah kemampuan menulis. Padahal, karya tulis ilmiah adalah bagian dari pengembangan profesi guru. Naifnya, banyak guru terkendala dengan pembuatan karya tulis ilmiah.
’’Buktinya sebagian besar guru sekolah negeri, terhenti sampai ke golongan IVa.
Sedangkan guru swasta belum banyak terjamah dengan pembinaan karya tulis ilmiah,’’ kata Ketua Divisi Karya Tulis Ilmiah Populer Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jateng, Hery Nugroho.
Menurut dia, penyebab utama kondisi ini, karena pemerintah belum serius membina guru dalam pembuatan karya tulis ilmiah atau penelitian tindakan kelas.
Dibandingkan dengan dosen, pembinaan pembuatan karya tulis ilmiah masih kalah jauh, termasuk penghargaannya.
’’Banyak lembaga donor, baik pemerintah maupun swasta, yang memberi bantuan penelitian untuk dosen. Tapi untuk guru masih sangat terbatas.’’
Kalaupun ada, kata dia, itu diperuntukkan bagi guru golongan IVa. Ke depan, pemerintah harus memperbanyak bantuan dana untuk pengembangan karya tulis ilmiah bagi guru, tanpa melihat golongan dan status antara negeri dan swasta.
Selisih Gaji Kendala tidak hanya dari faktor eksternal, namun juga internal. Banyak guru yang merasa sudah puas jika meraih golongan IVa. ’’Misalnya bisa naik golongan menjadi IVb, selisih gaji tidak besar. Akibatnya, motivasi untuk naik golongan IVb kurang. Selain itu, kebiasaan lisan lebih mendominasi guru daripada tulisan,’’ katanya.
Dunia tulis menulis, sebenarnya sangat berhubungan erat dengan guru. Hal ini bisa dilihat ketika mereka mengajarkan siswa menggunakan buku panduan. Selama ini yang terjadi, buku tersebut beli dari percetakan umum.
Karena itulah, tegas Hery, Agupena Jateng akan menggelar seminar nasional tentang penulisan buku dan karya tulis ilmiah pada 25 Juni di LPMP Jateng.
Pembicara Ahmad Thohari (budayawan dan penulis) dan Dr Mulyadi HP MPd (Ketua Asosiasi Widyaiswara Indonesia dan Tim Penilai Karya Ilmiah). (H11-18)
Sumber : Suara Merdeka/Semarang




hamba murid | Tuesday, 4 August 2009 @ 10:01 pm
memang……..tapi ironisnya banyak yang tidak menyadari. kemalasan untuk berkarya adalah penyebab utamanya. ada juga yang tidak mampu, tetapi tidak merasa, sok tahu, dan tidak mau belajar karena arogansinya. yah, itulah relita pendidikan kita
Reply