Siti Hajar dan Kesadaran Pentingnya Pendidikan

Monday, 15 June 2009 (06:03) | 242 views | 0 komentar

Oleh Deni Kurniawan As’ari

dialogMiris, sedih dan marah. Itulah ungkapan hati saya sore kemarin saat menyaksikan percakapan antara Siti Hajar (seorang TKW yang disiksa) dengan kakak serta putra sulungnya. Melalui siaran langsung di Liputan 6 Petang SCTV ditunjukkan kondisi Siti yang lebam dan babak belur. Kasus ini dan seperti kasus lainnya yang sering terjadi menunjukkan betapa nasib warga Indonesia yang sedang bekerja di luar negeri itu sangat rentan siksaan. Fenomen ini menambah daftar panjang adanya ketidakberesan dalam pengelolaan dan perlindungan para TKI.

sitiSiti Hajar, seorang TKW asal Garut Jawa Barat itu harus meninggalkan suami, anak dan sanak familinya demi mencari pekerjaan di negeri orang. Namun niat baik itu justru membawa petaka baginya. Tiga tahun bekerja di Malaysia bukannya diberi gaji sesuai ketentuan malah mendapat siksaan yang kejam berupa pukulan dan siraman air panas. Patut dipertanyakan kepada pemerintah dan BNP2TKI sejauhmana perlindungan para pahlawan devisa itu saat bekerja di luar negeri.

penderitaanYang lebih membuat saya pilu, ungkapan Siti Hajar kepada anaknya, “ Toni, kunaon ibu jadi kieu?” (Maksudnya: Toni, kenapa ibu jadi begini) sambil menangis terisak-isak. Dan Toni, putra sulungnya tidak sanggup berbicara sepatah kata pun melihat gambar ibunya yang terlihat jelas di layar kaca sangat lebam dan penuh luka. Namun, ada yang menarik dari ungkapan Ibu Siti Hajar kepada putranya, “ Udahlah, Toni jangan memikirkan ibu terus, yang harus selalu Toni pikirkan adalah sekolah,” Kemudian beliau melanjutkan pesannya, “ Ibu bekerja adalah untuk Toni, agar Toni bisa terus sekolah sampai SLTA,” Ungkapan ini bagi saya begitu dalam maknanya. Perjuangan seorang ibu untuk menyekolahkan anaknya sungguh luar biasa, bahkan harus ditebus dengan siksaan. Di satu sisi saya prihatin dan sedih akan nasib yang menimpa Siti Hajar itu, namun di sisi lain terselip rasa bangga betapa ibu paruh baya ini memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya pendidikan. Kapankah, biaya pendidikan di negeri ini akan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya oleh orang kaya saja. Sehingga ke depan tidak perlu ada lagi Siti Hajar yang lain yang mengalami nasib serupa.

Wallahu A’lam bhissowab.

Sumber gambar: http://berita.liputan6.com

Tulisan lain yang berkaitan:

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP