Kejujuran Guru

Sunday, 7 June 2009 (20:43) | 464 views | 2 komentar

pasadimineditOleh Sadimin GURU adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru profesional memiliki empat kompetensi, antara lain kompetensi kepribadian.

Kepribadian guru meliputi beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, jadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. Juga objektif mengevaluasi kinerja dan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

Sudahkah semua guru bersikap begitu? Akhir-akhir ini kejujuran dan sportivitas guru meluntur.

Contohnya, dalam ujian nasional SMA/SMK/MA, SMP/MTs sederajat, dan UASBN SD/MI beberapa saat lalu, ditengarai banyak pelanggaran oleh guru, siswa, dan kepala sekolah.

Misalnya, kebocoran soal sampai penyebaran kunci jawaban lewat SMS atau terang-terangan oleh guru di ruang ujian.

Bisa dipastikan semua itu untuk mendongkrak persentase kelulusan agar citra sekolah membaik. Kecurangan tak hanya oleh individu, tetapi secara sistematis dan melibatkan banyak pihak, baik pejabat daerah, pejabat pendidikan, kepala sekolah, maupun guru.

Pejabat menekan pejabat pendidikan, pejabat pendidikan menekan kepala sekolah, dan akhirnya kepala sekolah menekan guru. Itu seharusnya tak terjadi jika siswa dan guru jujur dan sportif.

Jika guru tak jujur dan tak sportif, bisa dipastikan pendidikan tak menghasilkan generasi muda bermartabat. Justru muncul generasi penipu yang kelak menghancurkan bangsa ini.

Dampak krisis multidimensi sejak 1997/1998 masih kita alami saat ini. Karena itu semestinya kita tak memperparah keadaan dengan meninggalkan kejujuran dan sportivitas saat mendidik anak-anak bangsa.

Proses pembelajaran yang berkualitas mendidik siswa dengan keikhlasan, kejujuran, sportif, dan penuh tanggung jawab. Itu akan berdampak positif untuk menyiapkan anak didik menghadapi ujian nasional.

Guru harus jujur dan tulus serta berani menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Guru harus berpandangan positif soal keberadaan, kemampuan, dan potensi anak didik. Juga menghargai keberadaan dan integritas dalam pembelajaran serta memiliki harapan positif yang realistis demi pertumbuhan dan keberhasilan siswa. (53)

–– Sadimin SPd, SSos, SIPem, MEng, guru SMA Negeri 3 Brebes Pengurus Agupena Jawa Tengah

Sumber: Suara Merdeka, 8 Juni 2009

Tulisan lain yang berkaitan:

2 Responses to “Kejujuran Guru”

  1. Sardono Syarief on Monday, 8 June 2009 (pukul 9:16 am)

    Saya amat setuju pada pendapat Pak Sadimin. Kalau kejujuran tak lagi dimiliki oleh seorang guru, bagaimana murid-muridnya ya, Pak?

    Reply

    Admin Reply:

    @Sardono Syarief, Ya, saya juga setuju dengan Pak Sardono. Pak Sadimin rajin nulis terkait pentingnya kejujuran untuk seorang guru. Guru (digugu lan ditiru) masihkah bisa dipertahankan?

    Semoga Agupena bisa ikut mengawal agar para guru bisa tetapu jujur…
    Amin :razz:

    Baca juga tulisan Admin berjudul Kejujuran Guru

    Reply

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP