Menata Trotoar Kota Wonosobo

Wednesday, 3 June 2009 (05:40) | 174 views | 1 komentar

haryati1Oleh : Haryati TROTOAR jalan menjadi identitas sebuah kota di antara identitas-identitas lain. Memang trotoar jalan kota bisa dipandang sebagai perkara sepele.

Tidak sepenting tetenger tugu selamat datang, alun-alun, taman dan bangunan legendaris lain. Tapi mengabaikan keberadaan trotoar jalan kota yang amburadul, laksana membiarkan “jerawat” dan “bisul” tumbuh di wajah kota.

Betapa tidak? Taman yang indah, wajah kota yang bersih, jalan yang mulus, dan tugu identitas yang gagah, akan terganggu dengan kondisi trotoar jalan yang rusak dan tak terawat.

Di luar itu, trotoar jalan bisa juga menjadi ruang sosial, ruang publik dan celah ekonomi bagi siapa saja. Dari pejalan kaki, penjual keliling, pedagang kaki lima (PKL) hingga kawula muda.

Di sini, trotoar jalan pun menjadi hal penting bagi banyak pihak. Pasalnya, selama ini kita mafhum, trotoar jalan merupakan sarana mobilitas jalan kaki bagi warga yang hendak ke pasar, menuju tempat kerja dan berangkat-pulang sekolah bagi pelajar.

Pada jam-jam tertentu trotoar jadi penuh-seluruh dengan lalu-lalang orang. Tak jarang pula, trotoar jalan jadi pusat kongkow dan tempat rehat kawula muda pada saat senggang. Trotoar jalan benar-benar telah menjelma menjadi sebuah ruang publik. Siapa pun bebas memanfaatkan trotoar jalan tanpa kecuali.

Bisa disebut ruang ekonomi, karena trotoar acap dijadikan tempat mangkal dan transaksi bagi pedagang keliling. Pedagang ayam, penjual makanan, pedagang asongan dan sales kelilingan tiap saat biasa menyusuri trotoar jalan untuk meraup untung.

Pada malam hari, tempat ini juga bukan rahasia umum, jadi jujugan pedagang kaki lima untuk tempat jualan makanan. Sekadar memasang tenda dan menggelar karpet, PKL menjajakan makanan di trotoar-trotoar jalan. Demikian pentingnya sebuah trotoar, bahu jalan ini layak diperhatikan oleh sebuah kota.

Karena itu memoles trotoar kota menjadi agenda mendesak, karena citra wajah kota juga bisa hadir di sini. Pot bunga, iklan komersial, identitas kota dan taman-taman kecil bisa ditata di trotoar jalan. Jika trotoar semrawut, tentu akan mengurangi keindahan dan keasrian wajah kota.

Citra kota yang bersih dan indah dengan bunga dan taman, akan ternoda dengan kondisi trotoar jalan yang “berjerawat” dan “berbisul”. Maka jangan anggap remeh dan sepele eksistensi sebuah trotoar jalan kota.
Perlu Dibenahi
Kota Wonosobo yang tengah merias diri agar lebih cantik, bersih dan indah guna mendukung kota wisata dan proklamasi kota bunga, sudah waktunya untuk menata trotoar-trotoar jalan kota. Sebab selama ini, trotoar jalan kota banyak yang rusak dan kondisinya acakadul.

Lihat saja, trotoar jalan sepanjang Jalan Masjid Kauman, Jalan Dieng Bugangan hingga Kalianget kondisinya rusak parah. Demikian juga trotoar Jalan S Parman, Jalan Bambang Sugeng sampai ke Jalan Raya Mendolo, tak jauh berbeda. Padahal kedua jalur tersebut merupakan jalur vital masuk Kota Wonosobo dari arah timur (Kertek) dan utara (Garung).

Belum lagi trotoar jalan dari arah selatan (Selomerto) yang hanya sampai Kampung Ngampel. Paving blok landasan trotoar banyak yang berantakan. Trotoar jalan jadi berlubang.

Kalau pun masih ada paving yang terpasang kondisinya bergelombang. Taman dan aneka bunga-bunga yang ditanam di dekat trotoar juga merana karena trotoar porak-poranda. Kondisi itu tentu tak sedap dipandang mata dan mengganggu kenyamanan pejalan kaki.

Hanya trotoar di seputar kota dan jalan-jalan protokol yang kondisinya masih kokoh dan relatif baik karena sering dirawat. Jika ada lubang sedikit diperbaharui, kalau ada paving yang copot dipasang lagi.

Kerusakan trotoar jalan di jalur utara dan timur, terjadi karena kurang pemeliharaan. Selain itu arus air yang melimpah karena hujan ikut menggerus trotoar jalan hingga lama-lama rusak. Ini akibat sistem drainase di pinggir jalan yang kurang baik.

Sistem penanaman pohon penenduh di pinggir jalan juga jadi pemicu kenapa trotoar jalan yang ada jadi compang-camping. Akar-akar pohon yang terus mengembang mendesak paving yang dipasang di atasnya. Mestinya ada pengaturan khusus bagi penanam pohon di trotoar jalan.

Biar trotoar aman, pohon perlu ditanam dengan cara membuat lingkaran di sekeliling pohon seperti model menanam beringin di seputar alun-alun kota.

Karena model seperti tidak akan merusak paving yang dipasang di dekat pohon.Drainase juga perlu dipelihara secara rutin, sehingga kalau hujan selokan tidak mampet dan airnya tidak sampai mbludak merusak trotoar.

Pemkab Wonosobo melalui dinas terkait mustinya secara rutin melakukan pemeliharaan trotoar yang sudah ada. Trotoar yang rusak perlu dibangun kembali.

Trotoar ke arah selatan (Selomerto), perlu ditambah lagi, tidak hanya sampai Tawangsari. Tapi dikembangkan sampai pasar Selomerto. Karena jalan tersebut merupakan jalur ramai dan banyak lembaga pendidikan berdiri di sana.

Pemasangan tiang rambu lalu lintas, lampu Penerangan Jalan Umum (PJU), iklan komersial, juga seyogyanya tidak persis di tengah trotoar karena bisa mengganggu kenyamanan pejalan kaki.

Syukur-syukur, seiring hadirnya wacana ini, sudah ada niat pemerintah kabupaten (pemkab) untuk mendandani seluruh trotoar jalan di seputar Kota Wonosobo.

Pasalnya, saat ini jalan dan trotoar sepanjang jalur Sabuk Alu masih dalam proses pengerjaan. Mudah-mudah pembangunan tersebut dilanjutkan ke jalan dan trotoar lain yang telah rusak.

Dengan penataan tersebut, trotoar jalan kota benar-benar menjadi identitas yang layak dibanggakan di antara indentitas lain yang sudah lebih dahulu dipacaki, seperti alun-alun, patung garuda dan taman-taman kota.

Desain trotoar ini, sekaligus sebagai ikhtiar duet Bupati Drs H A Kholiq Arif, MSi dan Wakil Bupati Drs H Muntohar, MM dalam memoles wajah Kota Wonosobo agar tambah asri, cantik dan indah. (35)

Sumber: Suara Merdeka

— Haryati, Sekretaris PC Fatayat NU dan staf Guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Mendolo Wonosobo, Pengurus Agupena Jawa Tengah

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

1 komentar terhadap “Menata Trotoar Kota Wonosobo”

  1. lare ndusun | Wednesday, 2 September 2009 @ 9:57 pm

    setuju banget sama apa yang diwacakan oleh ibu guru saya, ya memang pemkab memperhatikaan hal-hal iani demi terciptanya wonosobo ASRI, katanya AMAN, SEHAT, RAPI, INDAH……..BUKTIKAN

    Reply

Komentar Anda?

CommentLuv Enabled

«
»
Subscribe IP