TIDAK MAU KALAH DENGAN MIE: PTK PUN BISA DIPESAN INSTAN
Sunday, 17 May 2009 (06:35) | 304 views | 8 komentar
Oleh Mulyati Rachman
Bulan ini mungkin menjadikan bulan tersibuk bagi sebagian guru, karena bulan ini sebagian besar guru mendapat panggilan sertifikasi jalur portofolio tahun 2009. Meski sudah bukan barang baru, sertifikasi menjadi topik yang tak pernah usang dan tetap saja membuat banyak guru yang mendapat jatah tahun ini kebingungan. Saya jadi teringat beberapa penggalan kalimat geguritan Susilowati S Harjono yang pernah saya posting di blog saya. Sertifikasi telah membuat guru “Obahe kaya mili kenter, kaya ora keduman, sapa kanca sapa lawan”. Sertifikasi sudah membuat “guru-guru padha mbingungi, adhem panas rina wengi”.
Benar apa yang digambarkan oleh geguritan itu, sertifikasi telah membuat guru-guru sibuk ke sana kemari. Bukan saja guru yang telah mendapat giliran, tetapi juga semakin membuat gusar mereka yang belum mendapat giliran. Apalagi dengan adaya Peraturan Pemerintah (PP) 74 tahun 2008, yang mengakomodasi guru-guru yang belum S1 berumur lebih 50 tahun dan masa kerja lebih dari 20 tahun untuk ikut sertifikasi. Hal ini banyak menyebabkan guru-guru yang sudah merasa S1 tergeser dengan rekannya, karena kuota yang ada jatuh pada guru-guru tersebut.
Meski secara lahir mereka berusaha menutupi kegusaran mereka. “Ah, Saya santai saja, kapan-kapan. Ndak pa pa…”. Namun jelas dari perilakunya menunjukkan bahwa mereka sebenarnya juga ingin segera mendapatkannya. Nyatanya juga banyak yang menggerutu, “Pak Ini Sudah, Bu ini sudah sedangkan saya kok belum padahal jadi gurunya duluan saya”.
Yang dapat giliranpun tidak kalah heboh. Sibuk ke sana ke mari. Sudah hal biasa juga ketika para guru rela meninggalkan tugas mengajar karena sibuk melengkapi dokumen portofolionya. Dan rasanya kecurangan demi kecurangan dan tindakan kurang terpuji sudah hal biasa dilakukan sebagian rekan-rekan guru hanya untuk melengkapi dokumen portofolionya. Meski di antara mereka masih ada yang menjunjung tinggi idealisme dan kejujuran namun rasanya pada satu sekolah bisa dihitung dengan jari.
Salah satu kecurangan yang sering dilakukan adalah pada poin pengembangan profesi. Juga bukan barang baru jika guru-guru yang pasif asal mengajar dan diam saja tahu-tahu berkas setifikasi setumpuk berisi sertifikat-sertifikat pelatihan dan karya ilmiah penelitian. Tidak kalah dengan mie, sertifikat dan hasil penelitian pun saat ini dapat dipesan secara instan.
Sekarang ini banyak lembaga termasuk PT Swasta dan Kaki Lima yang di era sertifikasi ini mengaku peduli dengan guru, bisa menyediakan berbagai keperluan sertifikat tersebut. Ibarat gayung bersambut, animo guru tidak makin berkurang. Meski semakin lama semakin mahal tetap saja banyak diminati. Entah mengikuti kegiatan secara kebetulan atau hanya titip identitas dan uang sertifikat bisa langsung di terima, tanpa si guru datang.
Meski budaya instan di masyarakat sudah lumrah, namun di kalangan guru baru menggejala dan terus mewabah bak virus di era sertifikasi ini. Dan ternyata iming-iming tunjangan satu kali gaji sudah meracuni mental guru, yang digugu dan ditiru. Banyak guru ternyata juga mendidik dirinya menyukai yang serba instan, tidak perlu susah payah, dengan sekali kerja yang penting tunjangan segera cair. Mungkin di antara mereka sudah lupa, bahwa tiap hari mereka selalu mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak malas dan rajin belajar agar memperoleh prestasi bagus.
Bukan hanya sertifikat yang bisa diperoleh secepat kilat, karya ilmiah hasil penelitian pun sekarang bisa dipesan secara instan. Jangankan sekedar karya ilmiah dokumen (pustaka), jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pun bisa diperoleh dalam tempo sesingkat-singkatnya, tanpa perlu melakukan tindakan apapun. Banyak guru tanpa rasa bersalah dan malu bisa pesan penelitian di mana saja dan kapan saja. Ibarat menjahitkan baju, mereka bisa memesan sebuah penelitian satu minggu, 2 hari, atau bisa saja langsung beli datang tinggal pilih.
Sepertinya sekarang ini jual beli penelitian tidak hanya di kalangan mahasiswa saja tetapi masuk ke ranah guru. Dan ternyata ada gula ada semut, banyak guru yang merasa mampu dengan hanya sedikit pengetahuan penelitian menyediakan jasa pesanan ini, yang sangat diminati guru. Mereka tanpa modal buku referensi, hanya modal koleksi beberapa penelitian, otak-atik sedikit, copy paste, bisa langsung terjual laris manis.
Saya pernah juga mendapat “order” dari seorang rekan. “Bu saya bisa nggak dibuatkan PTK”. Ketika saya jawab: “Saya nggak pernah membuatkan PTK atau penelitian bu, teman-teman yang ke saya itu biasanya sudah punya ide dan konsep, minta bimbingan. PTK itu harus dilakukan sendiri. Ibu, coba punya ide dan tindakan apa, nanti saya bantu kasih masukan”. Beliau malah menjawab: “Teman saya guru mapel X bisa pesan, 2 minggu jadi 4 lho bu”. Akhirnya saya jawab juga: “Ya, silahkan pesan aja ke temannya bu, siapa tahu seminggu bisa lima”. Akhirnya telponnya ditutup.
Pengalaman lain, saya punya kenalan seorang Kepala Sekolah di lain Kota. Ketika beliau berdiskusi tentang pengolahan data di rumahbeliau pernah nyeletuk. “Mbak, penjenengan mbok kaya anak buahku itu lho, pinter nggawe PTK, laris banget (Kacang goreng kali ….). Dua tahun sudah bisa beli kijang”. Saya jawab: “Kalau saya mau, mungkin tidak hanya bisa beli kijang pak, tapi beli harimau”….
Saya pernah berkenalan juga dengan seorang sopir taksi, lulusan sebuah akademi swasta 1 tahun yang lalu. Mengeluh cari kerja yang sesuai susah. Cerita ngalor ngidul, setelah si sopir tahu saya guru akhirnya dengan bangga menceritakan bapaknya yang guru IPA. Selama 2 tahun sejak gaung sertifikasi didengungkan, sudah berhasil membuatkan berkas sertifikasi (penelitian) puluhan judul. “Lumayan lho bu, lebih besar dibanding gaji Bapak” Sampai bisa membiayai kuliah dia di akademi selama 2 tahun terakhir… Saya hanya berpikir dalam hati. Barangkali, karena Bapaknya dapat biaya kuliah dari cara-cara yang salah, tidak berkah bagi keluarganya. Anaknya susah dapat kerjaan hingga harus jadi sopir taksi.
Barangkali pengalaman saya, hanya secuil potret perilaku sebagian kecil guru saat ini. Saya masih optimis banyak rekan-rekan guru yang masih menjujung tinggi etika keguruan dan idealisme. Dan semoga harapan yang dicanangkan pada upacara puncak peringatan Hari Guru 2008 di Lapangan Tennis Indoor Senayan (2 Desember 2008) yang pernah saya ikuti dapat terwujud. Guru Profesional, Sejahtera, Bermartabat dan Terlindungi. Bukan guru yang menuntut sejahtera dengan cara-cara yang tidak bermartabat. ***
——————–
NB: Tulisan ini hanyalah bahan refleksi saya atau buat rekan-rekan guru lain yang masih peduli terhadap mulianya profesi guru. Kalau dibilang nyindir, ya bolehlah. Bukankah tunggal guru tidak boleh saling mengganggu tapi sesama guru wajib saling mengingatkan satu sama lain.
Tulisan lain yang berkaitan:


SUCIPTO | Wednesday, 27 May 2009 @ 3:50 pm
ok, aku sangat setuju, jagi guru ya harus dapat digugu dan ditiru!
perilaku sebagian kecil guru dalam hal pembuatan PTK instan merupakan dampak negatif sertifikasi portofolio, jadi usulku dengan waktu pengabdian saja secara otomatis. misaLNYA 20 KE ATAS DST.
Reply
inok binawa | Wednesday, 27 May 2009 @ 5:01 pm
Astaga…! Kata ini untuk kesekian kali terucap. Saya dulu juga pernah ditawari untuk masuk sindikat pembuat karya ilmiah. Dalam waktu tiga bulan ditarget 11 judul untuk diselesaikan. Imbalannya menggiurkan! Hampir saja saya larut dalam permainan itu. Alhamdulilah, saya bisa menepisnya. Penyebabnya; kutatap wajah polos anak-anakku, seolah mereka menolak harta kotor. Haruskah mereka kuberi makan dari uang yang mungkin tidak barokah? Sahabat, bagaimana kita bisa memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia jika kita turut serta dalam pengotoran sistem ini? Salam Agupena!
Reply
raufel | Wednesday, 10 June 2009 @ 4:00 am
ibu memang bener PTK bisa dipesan secara instant, sehingga mutu guru jadi taruhan.
yang sangat saya sayangkan adalah : sertifikasi kok buat guru yang sudah PNS kok bisa.
saya tdk suudzon……
pada biasanya guru yang sudah PNS tuch maunya gaji gede kerjaan ringan n laen laen
kasian guru honorer yang seharusnya ikut sertifikasi terhambat gara gara guru yang PNS ikut sertifikasi…..
dah gitu PTKnya cari yang instant….
apa kata dunia ya bu…..
Reply
raufel | Wednesday, 10 June 2009 @ 4:09 am
bu……………

kira kira bisa gak ya…..
kalo sertifikasi hanya untuk guru swasta aja…….
soale kalo guru yang dah PNS kan gajinya dah jelas tiap bulan…..
kalo guru swasta kan gajinya berkala…..
maksud saya kala jam pelajarannya banyak ya gajinya banyak
kala jam pelajarannya sedikit gajinyapun sedikit…..
kasian ya para pahlawan tanpa (tanda) jasa….
biarlah sertifikasi hanya untuk guru swasta….
biar PTKnya ga campur mie instant campur kopi n pasta (maksudnya copy paste)
maaf ya bu…..
saya bukan guru tapi saya miris liat nasib guru swasta yang slalu merana…..
Reply
raufel | Wednesday, 10 June 2009 @ 4:12 am
oh iya bu ada lagi……
berkaitan kejujuran guru……..
kok kalo murid ujian nyontek di sangsi berat ga boleh ujian…
tapi kalo gurunya nyontek alias copy paste kok ga malu ya bu…..
semoga TUHAN selalu menuntun kita pada kejujuran
Reply
syfa | Wednesday, 10 June 2009 @ 5:08 am
gampang kok, agar g usah ( dan g bisa) pake copi, pasta dan mie instant, termasuk sertifikasi bohong itu, syaratnya gunakan tulisan ilmiah populer yg ada di media cetak. ini efektif mengurangi copi dan pasta tadi. termasuk syarat guru sblm jadi PNS, dia musti pandai dan cerdas nulis artikel, nuangin ide, gagasan di media masa (cetak), jurnal, dll dan bukan PTK yg paket telor itu…
asal tau aja, PTK dan anak cucu-nya itu, dan tante” sertifikat seminar untuk dok portofolio itu… boong-boongan…
aku juga ga sepakat lo sertifikasi itungannya cuma usia ato masa kerja, lha wong banyak guru yg masa kerja-nya lama, usianya tua, tapi ya tua-tua bangka… moso mo dipredikati guru profesional…
haalaaah jannnn…
Reply
sabar | Friday, 20 November 2009 @ 9:01 am
menurut saya PTK instan itu biasa aja kok bu asal jangan mahal2,
kenaikan pangkat atau sertifikasi itu merupakan program pemerintah!!?? yang harus diteliti lagi dan masih terkesan semu dan terkesan merepotkan!!!
yang namanya guru sudah terbiasa dengan mengajarnya, saya insayallah yakin mereka dapat mengatasi dilema yang ada dikelasnya atau disekolahnya.
Saya kurang setuju dengan PTK, saya lebih setuju kalau guru yang mau disertifikasi atau naik pangkat itu bukan PTK yang diutamakan melainkan berbudipekerti luhur dan ketulusan hati yang disertai keimanan dan ketakwaan serta memiliki rasa cinta tanah air !
marilah kita cari alat untuk mengukur semua itu !
Reply
Bass Tuners | Friday, 4 June 2010 @ 12:23 am
Many thanks for the informative article. My wife’s calling me for dinner So I need to run off without having reading as much as I’d like. But I put your weblog on my RSS feed to ensure that I can read a lot more.
Reply