Mewujudkan Kota Bunga Wonosobo

Thursday, 14 May 2009 (12:18) | 296 views | 2 komentar

Oleh Haryati

haryatiBUNGA identik dengan keindahan dan keasrian. Kota yang indah dan asri tentu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan beragam bunga yang ditanam di tempat-tempat strategis dan taman-taman kota. Keindahan bebunga memang begitu memikat. Warna-warni aneka bunga hias bisa membuat hati terasa damai dan pikiran segar.

Suasana kota yang gersang, bisa berubah nyaman karena tancapan tanaman bunga.
Kota Wonosobo rupanya tersihir dengan pesona keindahan dan keasrian tanaman bunga. Karena itu, tak heran jika Bupati Drs H A Kholiq Arif MSi berkali-kali terobsesi mengubah daerah yang dipimpin menjadi Kota Bunga.

Cita-cita mewujudkan Wonosobo menjadi Kota Kembang, bukan tanpa alasan. Iklim sejuk dan tanah subur yang dimiliki kota pegunungan ini, menjadi modal sangat berharga bagi budi daya tanaman hias.

Derasnya arus kampanye penanaman bunga di setiap tempat telah mendukung upaya merias wajah kota wisata ini agar kian cantik dan memesona. Jika ini terjadi akan menyedot banyak wisatawan.

Dengan demikian, secara tidak langsung, ikhtiar tersebut ikut turut mendongkrak kemembanjiran kunjungan wisatawan ke tempat-tempat rekreasi yang ada di Wonosobo, seperti Dataran Tinggi Dieng, Agrowisata Tambi, Telaga Menjer, Waduk Wadaslintang dan Taman Rekreasi Kalianget.

Saat ini, tiap sudut kota telah disesaki beragam tanaman bunga dalam pot. Taman Plaza, alun-alun, kompleks Pasar Induk, taman-taman kota di jalan protokol, nyaris tak sejengkal tanah pun tersisa tanpa tanaman bunga.

Suasana kota pun tampak bersih, indah dan hidup. Kebanyakan wisatawan, baik asing maupun domestik, merasa nyaman jika berkunjung ke kota yang juga punya ikon wisata kuliner khas daerah, seperti mie ongklok dan minuman segar carica ini.
Jumat Bersih
Di kanan-kiri, sepanjang jalan masuk menuju Wonosobo, baik dari arah timur (Kertek), selatan (Selomerto), utara (Garung) dan barat (Watumalang), juga telah penuh aneka tanaman hias dan taman-taman kecil. Dalam setiap kesempatan,

“Bugiman” —julukan “Bupati Gila Taman” bagi A Kholiq Arif— tak segan-segan “mengintrogasi” warga untuk gemar menanam bunga hias di sekitar pekarangan rumah, lingkungan sekolah dan kompleks perkantoran. Agar gerakan menanam bunga tidak sia-sia, terutama di dalam kota, tiap instansi diwajibkan memelihara taman bunga sesuai kapling masing-masing di jalan-jalan protokol.

Gerakan memelihara taman diwujudkan melalui program Jumat Bersih. Setiap instansi, hari itu, musti melakukan kerja bakti di taman. Bunga yang mati dan taman yang merana, perlu ditata kembali agar tetap hidup dan bunga terus berkembang.

Tidak hanya itu. Untuk mendukung upaya menjadikan Wonosobo sebagai kota bunga, di kota ini beberapa kali dilakukan pemeran bunga. Dalam pameran tersebut kerap diadakan kontes dan festival beragam jenis bunga hias. Dari jenis sansevieria, anthurium, anglaonema, adenium sampai jenmanii.

Apresiasi penggemar bunga hias di kota ini juga terbilang cukup tinggi. Buktinya, setiap digelar kontes bunga, ratusan kolektor bunga hias, baik dari luar kota maupun Wonosobo sendiri, berbondong-bondong membanjiri arena lomba.

Seolah tak kalah gairah, beberapa petani di Desa Mlandi, Kuripan dan Maron Garung, kini mulai gesit mengembangkan budi daya tanaman bunga krisan. Jenis bunga potong ini ternyata cukup menjanjikan. Para petani bunga mengaku kewalahan memenuhi permintaan pasar yang terus merangkak naik. Tidak saja untuk pemenuhan pasar lokal, tetapi juga untuk dikirim ke luar daerah.

Selain meningkatkan kesejahteraan petani bunga, upaya budidaya tanaman bunga potong ini sekaligus bisa mensuport terwujudnya Wonosobo sebagai kota bunga.
Efek Ekonomi
Upaya mendorong Wonosobo menjadi kota bunga, tidak hanya membuat kota jadi indah dan asri. Tapi bagaimana agar Kota Bunga memberi efek “bunga” lain bagi peningkatan ekonomi warga. Pasalnya, bunga kini tak sebatas untuk hiasan tapi juga punya nilai ekonomi tinggi. Efek ekonomi di dunia kembang ini, diharapkan tidak saja mengalir ke kolektor bunga, tapi juga merembes ke petani dan pedagang bunga.

Jika dikembangkan lebih serius, bukan tidak mungkin budidaya bunga bisa menjadi alternatif lain di sektor pertanian. Apalagi komoditas hasil pertanian di Wonosobo, berupa tananam kentang, sayuran dan buah-buahan, harganya cenderung fluktuatif, turun-naik.

Warga dan Pemrintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo, paling tidak, bisa ngangsu kawruh dari keberhasilan petani bunga di Kota Kembang, Bandung, Bandungan, Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Ternyata, hanya karena membudidayakan bunga petani setempat bisa maju dan tiga kota tersebut bisa tersohor di mana-mana. Jika kota lain saja bisa memberdayakan potensi bunga, kenapa Wonosobo yang beriklim sejuk dan bertanah subur, tidak bisa melakukan hal serupa?

Ini adalah pertanyaan yang bisa menjadi renungan bersama, agar cita-cita menjadikan Wonosobo sebagai Kota Bunga bisa segera terealisasi. Peluncuran Wonosobo sebagai Kota Bunga yang dilakukan Ketua Tim Penggerak PKK,

Aina Liza Kholiq Arif, beberapa waktu lalu, rupanya perlu didukung semua pihak. Dukungan tersebut sangat berarti agar Wonosobo tidak saja indah dan asri, tapi warganya makmur dan sejahtera karena bunga.

Celakanya, di tengah gencar penggalakan kampanye Wonosobo sebagai Kota Bunga, sentra pasar bunga yang ada di daerah ini masih terbatas.

Hanya ada di sepanjang jalan Kalierang Selomerto, Kertek dan beberapa tempat di Kota Wonosobo. Karena keterbatasan itu, sudah saatnya pemkab segera memfasilitasi pendirian sentra pasar lelang bunga yang lebih representatif.

Tulisan lain yang berkaitan:

2 komentar terhadap “Mewujudkan Kota Bunga Wonosobo”

  1. Dody | Sunday, 13 December 2009 @ 10:19 am

    Setuju Ibu…Mari segera kita wujudkan secara SWADAYA kota tercinta kita Wonosobo ASRI ini sebagai sentra penghasil tanaman hias..khususnya Sansevieria…Okey…?

    Reply

  2. irwanadi churrochman | Friday, 3 September 2010 @ 8:24 am

    Setuju… sebagai orang asli Wonosobo, saya siap dukung. Btw, kalo beli krisan, calalili, dsb di wonosobo sentranya dimana ya?? syukur2 kalo punya alamat/ no HP petaninya ;-)

    Reply

Komentar Anda?


«
»
IP