Monday, 27 April 2009 (10:19) | 83 views | 0 komentar
Oleh Kak Sardono Syarief
Dio murung. Ia duduk mematung di lincak bambu. Sebuah lincak tua peninggalan alamarhum ayahnya 8 tahun silam. Lincak yang kini terbalut debu menyendiri di ruang tengah. Ruang sepi yang jarang disentuh suasana ramai pemiliknya. Karena memang penghuni rumah tua itu cuma Dio dan ibunya berdua.
“Kenapa kau murung begitu, Dio?”tegur ibunya begitu dilihatnya Dio tak ceria. “Tumben, pulang sekolah kau tak seperti biasa,”ujar ibunya lebih lanjut. “Biasanya,”masih omong Bu Maryam, ibunya. “Pulang sekolah cepat-cepat kautaruh buku di meja. Kemudian ambil wudlu untuk menunaikan sholat Dhuhur. Usai sholat, kaubuka tutup saji, kemudian makan. Tetapi yang Ibu lihat siang ini, berbeda. Sejak pulang tadi, kau terus murung begitu. Kiranya ada apa? Apa sebenarnya yang tengah kaupikirkan, Anakku?”
Dio tidak segera menjawab. Anak lelaki itu bingung. Mau dicurahkan beban batin yang selama itu dirasakan, ia khawatir. Jangan-jangan begitu mendengar isi hati yang ia katakan, akan kambuh penyakit jantung ibunya. Oleh sebab itu, Dio pilih sikap diam.
“Ada apa sebenarnya, Dio? Apakah di sekolah tadi kau dinakali teman-temanmu? Atau dimarahi Guru?”selidik ibunya, ingin segera tahu jawaban Dio.
“Ah….!”Dio mengehela napas panjang. Digeleng-gelengkan kepalanya berulangkali. Kemudian diangkat mukanya pelan-pelan. Lalu ditatapnya sang ibu dengan pandangan teduh.
“Bagaimana, Dio?”desak ibunya.
“Sebenarnya, sebenarnya, saya bingung, Bu,”jawab Dio agak ragu.
“Apa yang kau bingungkan, Nak?”suara ibunya lembut. Dielus-elusnya rambut ikal Dio dengan jemari tuanya.
“Saya, saya, saya sungguh sangat bingung, Bu,”ucap Dio agak tersendat. “Mesti dari manakah Ibu bakal mampu membayar uang ujian sekolah saya, Bu?”
Mendengar itu, Bu Maryam sedikit mengerutkan kening.
“Kiranya berapa rupiah engkau harus membayar, Dio?”
“Seratus ribu rupiah,Bu.”
“Kapan kiranya uang tersebut engkau butuhkan?”
“Kurang lebih sebulan lagi,Bu. Karena dalam waktu sebulan lagi, ujian bakal segera tiba.”
Kini gantian Bu Maryam yang terdiam agak lama. Ibu setengah baya itu agak bingung juga tampaknya. Bakal dari mana ia memperoleh sejumlah uang yang dibutuhkan Dio, anak tunggalnya? Sedangkan keadaannya sendiri nyaris pas-pasan. Tidak punya binatang ternak, apalagi emas permata yang bisa dijualnya.
“Bu……,”dengan suara lembut, akhirnya Dio mengusik keterdiaman ibunya.
“Ya?”seraya menoleh ke arah Dio, Bu Maryam menyahut lirih.
“Apakah kiranya Pak Haji Basir mau menerima tenaga saya,ya, Bu?”
“Maksudmu?”tanya ibunya ingin tahu lebih jauh.
“Maksud saya,”sahut Dio. “Apakah Pak Haji yang terkenal dermawan itu bersedia menerima tenaga saya,ya?”sambung anak itu. “Jika bersedia,”lanjut Dio. “Saya rela menjadi penjaga tokonya setiap pulang sekolah, Bu. Di sana saya bersedia menjadi pelayan pada mesin foto copy millik Pak Haji, Bu.”
“Oh………,itu maksudmu?”
“Iya, Bu,”jawab Dio seraya mengangguk-angguk.
“Kalau begitu,”sahut ibunya. “Coba, akan Ibu tanyakan kepada Pak Haji Basir. Sementara, di rumah lekas-lekas kau laksanakan sholat Dhuhur. Nanti terlambat!”
“Baik, Bu,”Dio menurut perintah ibunya. Anak itu dengan cepat turun dari lincak bambu tempatnya tadi termangu. Lalu menuju ke ruang dalam. Setelah ditaruhnya tas berisi buku pelajaran kelas 6 di atas meja, pergilah anak itu ke pancuran belakang rumah. Rupanya Dio hendak mengambil air wudlu untuk sholat Dhuhur.
Tak lebih dari seperempat jam, sholat Dio selesai. Sementara itu, ibunya pun sudah tiba kembali dari rumah Pak Haji Basir.
“Dio!”seru Bu Maryam, begitu dilihatnya lincak bambu yang diduduki Dio telah kosong.
“Ya, saya,Bu!”Dio bergegas memburu ibunya. “Bagaimana kabar dari Pak Haji, Bu?”
“Baik,”jawab ibunya singkat. “Pak Haji mau menerima maksudmu. Bahkan beliau berharap, agar mulai siang ini pula kau boleh datang ke tokonya. Tentunya untuk melayani para pelanggan foto copy Pak Haji yang amat laris dan berjubel itu, Dio.”
“Apakah Ibu tanyakan juga kepada Pak Haji, berapa rupiah dalam seminggu saya mau dibayar, Bu?”
Ibunya mengangguk. “Pak Haji bersedia menggaji kamu Rp 25.000,00 per minggu, Dio.”
“Wah! Kalau begitu, dalam satu bulan saya bakal bisa menerima upah dari Pak Haji Basir
Rp 100.000,00 ya, Bu? Dengan demikian berarti saya akan dapat membayar uang ujian,”ujar Dio dengan wajah ceria.
Bu Maryam mengiyakan sembari tersenyum lega. Maka, seusai makan siang, langsung saja Dio mohon diri kepada ibunya.
“Saya mau ke toko Pak Haji Basir sekarang juga, Bu.”
“Akan kau awali siang ini juga, Dio?”
“Ya, Bu. Agar Pak Haji tidak terlalu lama menunggu-nunggu saya, Bu.”
“Baiklah!”ucap ibunya. “Kalau begitu, berangkatlah kau sekarang dengan hati-hati !”
“Terima kasih, Bu.”
Dio berangkat ke toko Pak Haji Basir. Letak toko tersebut tak begitu jauh dari rumahnya. Hanya dua atau tiga ratus meter di sebelah utara rumah Dio saja.
Setiba di sana, anak itu langsung menghadap Pak Haji Basir. Pak Haji menerima Dio dengan senang hati. Maka ditunjukkanlah tugas apa saja yang mulai bisa dikerjakan anak itu. Mulai dari mengenal jenis kertas, hingga cara mengoperasikan mesin foto copy.
“Tuhan! KepadaMu aku bersyukur. Ternyata Kau telah memberikan jalan keluar dari kesulitan yang aku hadapi. Tuhan! KepadaMu aku tetap bersujud. Amin…….!”Dio menengadahkan kedua telapak tangannya di atas dada.*
———————–
Kak Sardono Syarief
Jl.Raya Domiyang Rt.01/Rw 02 No.116
Domiyang – Paninggaran
Pekalongan 51164
E-mail: sardonosyarief@yahoo.co.id
Tulisan lain yang berkaitan:



Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!