Tanya-Jawab Seputar Dunia Penulisan Bersama Setiawati Intan Savitri (Bagian III)

Sunday, 26 April 2009 (08:51) | 84 views | 1 komentar

Mbak I-Je yang cantik, katanya kan nyari ide buat ditulis tuh susah, tapi aku tuh sebenarnya gampang dapat ide. Masalahnya, aku susah banget ngembangin ide tersebut menjadi tulisan yang menarik. Gimana ya? Minta saran Mbak dong! (Sri Astuti, Bogor)

savitriAstuti yang banyak ide.
Wah, luar biasa jika kamu adalah seorang yang banyak ide, karena itu menandakan kamu seorang yang kreatif. Tetapi, berhenti pada ide saja tanpa berusaha mengembangkannya menjadi ide yang menarik, akan mubazir jadinya..
Nah, jika permasalahannya adalah bagaimana mengembangkannya, mari kita bahas bersama-sama ya.
Astuti, sesungguhnya modal awal dari seorang penulis adalah menuliskan apa yang Ia ketahui. Dengan MENGETAHUI apa yang akan ia tulis, tentu ia tidak akan kesulitan untuk mengembangkan ide. Sehingga sebelum kita membahas bagaimana cara mengatasi kemacetan dalam mengembangkan ide, pastikan dulu bahwa kamu telah MEMILIKI PENGETAHUAN yang cukup terhadap apa yang akan kamu tulis. Bagaimana caranya? Membaca, wawancara, riset untuk MENGETAHUI segala sesuatu yang akan kamu tulis.

Baiklah, mari kita bahas bagaimana mengatasi ide yang macet atau mengembangkan ide. Secara teori ketika menulis kita bisa dibantu mengembangkan cerita dengan cara menulis kerangkanya terlebih dahulu. Kerangka cerita ini secara normatif terdiri dari pembuka, konflik, puncak ketegangan, penyelesaian dan penutup. Meskipun alurnya bisa saja alur maju atau alur kilas balik, tetapi secara normatif demikianlah kerangka cerita. Kerangka cerita menjelaskan seperti apa cerita itu akan kamu tuliskan. Ada juga penulis yang tanpa menuliskan kerangkanya terlebih dahulu, ia telah mengetahui seperti apa cerita yang akan ia tuliskan, sehingga ia memulai tulisannya dengan MENULIS, MENULIS, MENULIS. Seperti dalam film Finding Forrester, sang tokoh yang novelis tidak pernah menulis kerangka cerita, melainkan langsung menuliskannya begitu saja. William Forester sang tokoh dalam Finding Forester memberi tips yang hebat dalam masalah ini ”Menulislah –pada saat awal- dengan hati. Setelah itu perbaiki tulisan dengan pikiran. Kunci pertama menulisi bukan berpikir melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan”
Tetapi bagi penulis pemula menulis kerangka cerita akan memudahkan kita untuk mengembangkan cerita, meskipun, kita tidak boleh terlalu kaku dalam mentaati kerangka tersebut. Bisa saja, ketika kamu sudah mulai menuliskan ceritanya, kamu sekaligus mengubah atau mengembangkan kerangkanya.

Nah, setelah kerangka cerita kamu tulis. Kamu bisa mulai mengisinya dengan memulainya satu persatu, misalnya pikirkan tokoh-tokohnya terlebih dahulu, karakter tokoh-tokohnya seperti apa, manakah tokoh yang akan kamu tempatkan sebagai tokoh protagonis, dan mana yang akan menjadi tokoh antagonis. Tuliskan nama tokoh-tokoh tersebut berikut karakternya dan peran yang akan diperankannya dalam cerita, tempelkan di sekitar tempatmu menulis.
Misalnya tokoh utama: Rosana, seorang wanita setengah baya yang menduduki posisi puncak di sebuah perusahaan, ia berambut ikal, wajahnya tirus, matanya lebar, setiap kali berpikir keras ia selalu menggerakkan bola matanya kearah sudut kanan kelopak matanya
Lalu setelah itu, kamu pikirkan latar dari cerita, jika kamu belum menguasai latar ceritanya, misalnya kamu memilih latar cerita di luar negeri yang kamu belum pernah tinggal di sana, kamu bisa mengumpulkan referensi dan mulai membacanya dengan detil.

Nah, setelah kamu mengimajinasikan tokoh-tokohnya dan juga mengumpulkan bahan tentang setting atau latar dari ceritamu, kamu bisa memulai untuk menuliskannya. Gunakan imajinasimu sebaik-baiknya, gunakan diksi atau pilihan kata yang tepat agar tulisanmu mampu menyebabkan pembaca benar-benar melihat merahnya darah yang tertumpah, mencium masin air laut, dan merasakan kerasnya guncangan kendaraan yang dikendarai sang tokoh!

Demikian Astuti,
Hal yang sebenarnya paling mudah untuk mencegah macetnya ide adalah segala sesuatu yang kamu tulis adalah berasal dari dirimu sendiri. Menulis yang paling mudah adalah, menulis pengalamanmu sendiri, kenanganmu sendiri, mimpimu sendiri, dan imajinasi-imajinasimu sendiri. Tokoh-tokoh yang kamu tulis bisa jadi kamu pinjam dari tokoh-tokoh nyata yang dekat dengan dirimu sendiri. Boleh jadi, mengapa Laskar Pelangi begitu indah dituliskan oleh Andrea, disebabkan Ikal adalah Andrea, dan segala sesuatu yang dituliskannya adalah pengalaman hidupnya. Seperti kata Marcel Proust ”Semua bahan untuk karya sastra tidak lain adalah kehidupan masa lalu saya”
Jadi seperti itu ya.. semoga tips sederhana ini bisa membantumu mengembangkan ide.
Salam

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

1 komentar terhadap “Tanya-Jawab Seputar Dunia Penulisan Bersama Setiawati Intan Savitri (Bagian III)”

  1. Hanna Ari Tri Noeryanti,S.Sos | Friday, 12 June 2009 @ 7:36 pm

    Salam kenal Ibu Setiawati Intan Sawitri dari Solo,
    Saran ibu untuk menulis dengan hati sangat inspiratif dan memotivasi saya kembali untuk menulis.Sebenarnya waktu masih kuliah tulisan saya pernah di muat di kompas dan jawa pos, tapi entah mengapa setelah itu tulisan saya kayaknya tulisan saya gak ampuh lagi karena sejak menikah sepertinya saya tidak beruntung lagi.Bahkan kalo saya punya karya saya serahkan penerbit juga ditolak.wah….mengapa ya? sejak itu saya malas menulis lagi sampai sekarang.Semoga saya bisa menulis lagi oleh sebab itu saya nge’charge’ semangat dengan ikutan seminar.semoga usaha saya berhasil dalam memulihkan semangat dan inspirasi ya bu ? bagaimana menurut ibu?
    Bu Hanna Ari Tri N
    SMA Regina Pacis Ursulin, Surakarta

    Reply

Komentar Anda?

CommentLuv Enabled

«
»
Subscribe IP