PEREMPUAN PENGHITUNG HUJAN

Wednesday, 22 April 2009 (09:56) | 165 views | 0 komentar

OLEH: NIKMAH NURBAITY

Lihat! Hujan turun lagi. Perempuanku masih duduk di teras rumah itu. Tangannya menengadah ke langit, membiarkan butir butir air hujan membasahi tangannya. Matanya menerawang jauh, mengamati butir butir hujan yang jatuh dari langit. Kakinya dibiarkan terjulur ke tepi teras dan menjuntai di tanah, seolah ia ingin hujan merasuk ke dirinya lewat pori pori tubuhnya, membasahi jiwanya, Selalu ia begitu, menghitung air hujan..
***

”Yang, hujan turun lagi ”, aku biasa mengatakan itu kepada perempuanku saat hujan turun. Kadang lewat sms atau saat kami bersama, langsung kubisikkan di telinganya. Ia akan mencubitku dan tertawa karena ia geli, ucapan itu adalah petikan lagunya Obie Mesakh tahun 80-an. Perempuanku selalu berseri seri senang saat aku menggodanya dengan ucapan itu. Dan hujan selalu mengingatkan aku dan perempuanku akan pertemuan kami pertama kali, saat berkenalan karena hujan dan basah, dan aku menawarinya payung. Dan ia perempuanku, sekarang sedang menghitung air hujan, seperti saat itu, saat terakhir kami bersama, bukan saat kami berkenalan dalam hujan, tapi saat hujan membuat perjalanku dan perempuanku sampai seperti ini….
***

Saat itu hujan turun, kami ingin detik detik henti saja biar waktuku dan waktunya tidak berjalan. Saat kami menghitung air hujan bersama, saat air hujan membasahi jendela mobil dan aku terkurung bersamanya di dalam mobil.

“Hujan!’ kataku seperti orang bodoh karena tidak tahu harus berbuat apa. Aku baru saja meninggalkan restaurant untuk makan siang bersama perempuanku sehabis menghadiri seminar itu.

“Ya” jawab perempuanku tanpa memintaku menghentikan mobil atau melaju kencang karena hujan semakin deras. Seharusnya aku segera mengantarnya pulang ke kotanya kalau tidak ia akan sampai kotanya terlalu larut.

“Hujan!” aku terbengong, kaca mobil sudah semakin suram, jarak pandang hanya beberapa meter.

“Ya” kata perempuanku memandangku ragu. Aku tak yakin melanjutkan perjalanan dengan hujan deras seperti itu. Dan perempuankua tak juga memaksaku melanjutkan perjalanan itu. Dan kami akhirnya berhenti, menepi di pinggir jalan yang lengang.

“Honey” perempuanku tetap duduk di mobil, meringkukkan kakinya di jok mobil, kedinginan. Ada tersirat rasa takut di matanya. Ah perempuanku! Ingin sekali ku rengkuh tubuh mungilnya, kubelai rambut panjangnya. Aku menyayanginya, mencintainya dengan sepenuh hatiku. Tak ingin aku menyakitinya. Tapi……

“Honey, kalau hujan tak juga berhenti bagaimana?”katanya.

“Kita akan di sini, sampai hujan berhenti’ jawabku sekenanya, karena sumpah, aku juga tidak tahu harus menjawab apa. Mengajak perempuanku ke hotel? Ha ha ha, ide gila! Aku tidak yakin bisa bertahan untuk tidak melakukan apa apa. Padahal beberapa ratus meter di depan kami aku hafal ada sebuah hotel yang bisa untuk kami berteduh dan menunggu sampai hujan agak reda. Melanjutkan perjalanan dalam hujan sederas ini? Dengan jalan berliku dan curam? Aku tak berani bertaruh dengan nyawa perempuanku.

“Honey!” perempuanku menatap mataku dalam dalam. Aku tahu yang dicarinya. Ia selalu menatapku dalam dalam dan lama, yang terkadang membuatku jengah antara bahagia karena ia begitu memperhatikan aku, dan risih karena pasti aku ingin memeluknya atau menciumnya. Aku tahu yang dicarinya, dia selalu mengatakan ingin melihat kebenaran di mataku. Ia selalu bilang melihat kebenaran dari mata seseorang bukan dari kata katanya. Dan perempuanku yang selalu memanggilku ”honey”, menatap mataku lama, dalam. Aku mebiarkannya, biarlah ia mendapatkan apa yang ia cari. Aku tak pernah berbohong, aku mencintainya dengan tulus.

“Honey. Kita akan di sini sampai besok? Di sini?” tanyanya.

“Ya, kita akan menghitung air hujan” jawabku.

“Ya honey, kita akan menghitung air hujan” dan dia mempererat meremas jemariku. Ini adalah ke sekian kali aku bertemu perempuanku. Perempuan manis yang aku kenal dalam seminar beberapa tahun lalu yang kemudian manjadi bagian dari hidupku. Mengisi hari-hariku dengan mimpi dan rindu. Sebatas mimpi dan rindu. Sebatas mimpi dan rindu saja. Dan saat menghitung air hujan itulah, perempuanku menikmati hujan yang membasahi kaca jendela, tubuhnya meringkuk kedinginan, dan pertama kali akhirnya ia biarkan aku benar benar merengkuh tubuh mungilnya, membelai rambutnya, menciumnya. Aku ingin detik detikku berhenti saja saat itu, biar waktu tak bergerak, dan perempuanku biar tetap menghitung air hujan dan aku menikmati hadirnya bersamaku, menikmati harum rambutnya, tapi tiba tiba…
***

“Ya aku disini, Ma. Segera pulang. bagaimana?” Ani istriku! Istriku terbiasa sekali meneleponku saat aku pergi. Ia tahu jadwalku dengan detail. Bahkan menit menitku. Tidak menjawab teleponnya berarti mala petaka. Ia seperti sekretaris pribadiku yang mengendalikan setiap langkahku.

“Honey ? dari istri?” tanya perempuanku sedih. Beberapa kali bertemu dan menyusun waktu untuk berdua beberapa jam saja dengan perempuanku, selalu Ani istriku, meneliti tiap menit menitku. Aku tak berdaya. Aku terpenjara. Aku menatap perempuanku. ia sedíh sekali.

“Ya. Ia meminta aku segera pulang.” aku membuang muka. Aku pengecut. Kenapa tidak kumatikan saja HP ku dan menikmati waktuku bersama perempuanku?

“ Honey, pulanglah! Antar aku ke taxi, dan aku ambil taxi saja.” katanya penuh duka. Ia mencoba tersenyum. Pedih.Kuraih jemarinya, kutumpahkan cintaku disana, di mata indahnya, kucurahkan rinduku di tatapnya…
***

Saat ini hujan. Perempuanku selalu duduk disana, menghitung air hujan, satu satu. Dan aku tahu benar yang dipikirkannya. Ia memikirkan aku. Perempuanku selalu menghitung air hujan, kemudian ia akan berjalan ke depan komputernya, duduk dan menuliskan cerita. Cerita cerita tentang dia dan aku. Ia tak pernah merasakan kehadiranku, padahal setiap saat aku di sampingnya, aku mengetahui semua kegiatannya. Apa yang dilakukannya. Kapan dia tidur, kapan dia bangun, kapan dia menangis dan memanggilku honey, kapan dia menulis cerita tentang aku, kapan ia menghitung air hujan satu satu.

Aku tahu semua karena aku selalu di sampingnya. Tapi ia tak pernah bisa melihatku. Bahkan ketika aku dengan lembut memeluknya dari belakang dan mebisikkan kata rindu. Ia tak pernah tahu. Bahkan ketika aku duduk di sampingnya dan ia menghitung air hujan satu satu, ia tak pernah melihat kehadiranku.Bahkan ketika aku menemaninya berjam jam di malam yang sepi dan dia tidak sama sekali memicingkan mata karena memikirkan aku. Aku ingin sekali memanggil medium atau perantara seperti Whoopy, yang bisa mempertemukan dua kekasih dalam film Ghost, tapi aku tak mampu. Aku ingin sekali berbicara lagi dan menggoda perempuanku dengan ”Yang hujan turun lagi”dan melihatnya tersenyum malu. Tapi aku tidak bisa. Padahal aku di dekatnya setiap saat.

Saat ini, perempuanku duduk di depan komputer, ia sedang mengetik cerita pendek tentang aku, tentang perjalananku setelah mengantarnya naik taxi dan aku terburu buru pulang karena istriku marah, tentang kecelakaan dalam hujan yang merenggut nyawaku.Tentang smsnya yang tak pernah terbalas berhari hari kemudian karena aku tidak bisa membalasnya dan smsnya terbaca istriku. Tentang akhir semua pertemuan sembunyiku dengannya. Tentang rasa rindu yang semakin sesakkan dada.

Saat ini aku di sampingnya, kubelai rambut panjangnya, kunikmati indah matanya yang berduka. Ah perempuanku seandainya tidak terjadi kecelakaan itu, aku tak kan pernah bisa menunggumu setiap saat seperti ini. Istriku tak kan pernah membiarkan nya.Tidak akan pernah.

Perempuanku, aku sangat mencintaimu dan akan selalu menjagamu di sini, di sampingmu dan menemanimu menghitung air hujan satu satu….

Purworejo january 2007
Why u never say good bye

Tulisan lain yang berkaitan:

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP