Kepemimpinan: Keniscayaan dan Tantangan
Wednesday, 1 April 2009 (06:34) | 212 views | 0 komentar
Oleh: Mi’raj Dodi Kurniawan
Nabi Musa alaihissalam, nabi pemilik tongkat mukjizat itu, konon pernah mengeluh kepadaNya. “Tuhan, kenapa aku yang harus menanggung amanat ini?!” demikian kurang lebih, sang nabi mengadu kepada Rabb-nya, beberapa saat setelah didaulat Tuhan untuk mengemban amanat kerasulan: membimbing klan Bani Isra’il dan Fir’aun ke jalan yang benar.
Baginda Nabi Musa bingung sekaligus kesal, tidak saja dalam menghadapi umatnya, Bani Isra’il, yang bebal luar biasa, melainkan ketika mengatur strategi mendakwahi Fir’aun, seorang Raja Mesir yang mengaku Tuhan itu. Maka meledaklah kekesalannya, tentu dengan penuh cinta, pada Sang Pemberi Amanat, meski lalu ia kembali reda dan dengan sabar, akhirnya, melanjutkan mengemban tugas sebagai rasulullah.
Nabi Musa merupakan sosok pemimpin umat di zamannya. Beliau seorang manusia pilihan Tuhan. Bukankah apa yang disandangnya ini sebuah posisi yang menggiurkan. Rasul adalah jabatan prestisius. Tetapi kenapa beliau mengeluh seperti tidak terima menjadi orang pilihan dan pengemban amanat Tuhan. Mudah saja jawabannya.. Karena beliau seorang rasulullah. Beliau tak mempan tergoda oleh harta, wanita, dan tahta. Jabatan bukan tujuannya, tapi berkhalwat dengan Tuhan itu sendiri yang hendak dicapai.
Lain lagi dengan Umar ibn Khattab. Ketika beliau didaulat mengganti Abu Bakar asSidiq menjadi khalifah, beliau malah merasa sedih bukan main. Satu dari empat khulafaur rasyidin ini takut jika kelak menjabat khalifah, tidak mampu menjalankan amanat kekhalifahan. Bukannya kata alhamdulillah dengan tawa menggelegar yang keluar dari mulutnya, melainkan beliau berucap astaghfirullah. Di matanya, jabatan khalifah bukan singgasana untuk melepas hasrat terhadap harta, tahta, dan wanita, namun arena untuk melaksanakan amanat kekhalifahan, melanjutkan tugas kenabian.
Kontras dengan dua contoh tadi, sebagian orang sekarang, entah hanya oknum atau kebanyakan, bukannya mengeluh atau berucap istighfar manakala diminta mengemban jabatan publik, melainkan malah bersyukur dan tertawa ngakak, saking senangnya. Dalam pandangan orang sejenis ini, menjadi pemimpin adalah kebahagiaan dan tiada beban.
Kepemimpinan mereka definisikan sebagai singgasana kekuasaan untuk memenuhi hasrat bernilai rendah. Mungkin orang sejenis itu beristighfar dan mengeluh dengan jabatannya, namun bukan karena takut mengemban amanat, melainkan lantaran yang disandangnya bukan jabatan basah, tetapi jabatan kering: dari harta, wanita, dan tahta. Orang jenis itu juga menilai Nabi Musa dan Khalifah Umar ibn Khattab sebagai abnormal.
Kepemimpinan adalah satu lingkup kenyataan. Namun pandangan orang terhadapnya bisa berbeda. Pandangan nabi terhadap hakikat kepemimpinan berbeda dengan seorang khalifah, terlebih dengan orang yang memiliki tingkat integritas yang rendah. Maka produk kepemimpinan dari ketiganya pun berbeda pula. Kepemimpinan nabi dan khalifah menghembuskan pencerahan, sedangkan kepemimpinan orang jenis ketiga memberikan nestapa dan stagnasi.
Disadari atau tidak dan diakui atau tidak, sia-sia saja menolak kenyataan bahwa tiap orang sesungguhnya adalah pemimpin: pemimpin bagi dirinya dan pemimpin bagi lingkungan di sekitarnya, taraf sempit atau luas. Pemimpin bukan saja Sekjen PBB, Presiden, Ketua Partai Politik, atau gubernur, bupati, camat, dan lurah, melainkan sajatining manusia adalah pemimpin. Setiap orang, kendati kadar yang dimilikinya berbeda, punya kekuasaan menentukan sejumlah hal.
Baginda Rasulullah Muhammad SAW lantas bersabda, “Kepemimpinan itu adalah amanat dan sesuatu yang akan menjadi sesal yang tak habis-habisnya di hari kiamat, kecuali bagi orang-orang yang bertanggung jawab dengan sebenar-benarnya dan mau bertekad memenuhi semua yang diamanatkan”. Kepemimpinan adalah amanat yang kelak harus dipertanggungjawabkan ke hadapan Tuhan. Jika dalam pertanggungjawaban duniawi, sejumlah pimpinan dapat berkilah, kolusi, dan membohongi anggotanya, maka kelak di akhirat, semua itu raib.
Pemimpin Individu dan Publik
Aneh luar biasa, tentu saja, apabila membandingkan cara pandang dan fenomena kepemimpinan di tangan kaliber rasul dan khalifah berbanding dengan realita banyaknya kerumunan orang-orang belakangan ini yang mengitara kursi kepemimpinan dan meminta jabatan, bagai semut mengendus manisnya gula. Kepemimpin bukan sesuatu yang ditakuti, melainkan malah menjadi sesuatu yang sangat diharapkan untuk dimiliki. Entah ini mencerminkan kepercayaan diri mereka akan mampu mengemban amanat, atau nilai amanat itu sendiri menjadi demikian tidak terhormat.
Tidak henti kita berharap, semoga hal itu bukan lantaran substansi amanat telah dilemparkan ke keranjang sampah, melainkan karena orang-orang ini adalah mereka yang bertanggung jawab dengan sebenar-benarnya dan mau bertekad memenuhi semua yang diamanatkan. Sebab kalau tidak, kecelakaanlah yang diperoleh diri dan lingkungannya. Azab akan datang, sekarang atau nanti, tentu hakikatnya sama saja: sesuatu yang menyengsarakan.
Namun akan menjadi blunder juga pada akhirnya, jika tiap orang mangkir dari posisi pemimpin. Bagaimana pun juga, Allah SWT telah berfirman dalam Al Qur’an bahwa tiap manusia adalah khalifah (pemimpin). Bagaimana pun juga, kehidupan ini harus berjalan, dan sudah barang tentu perlu kepemimpinan. Dengan sedikit menurunkan tensi beban dan gradasi kualitas masyarakat dalam zamannya, kemudian Baginda Rasulullah Muhammad SAW menegaskan bahwa pilihlah pemimpin yang paling tinggi keimanan dan ketakwaannya. Kalau pun tiada, setidak-tidaknya pilihlah yang sangat kecil keburukannya.
Penulis yakin, selama kehidupan masih berlangsung, nilai-nilai kebaikan masih eksis. Kiamat berarti raibnya orang-orang baik. Selama masih ada orang baik, meski satu orang, kehidupan masih akan berjalan. Selama kehidupan masih berlangsung, itu menunjukkan bahwa orang baik masih hidup di dunia ini. Tantangannya adalah, bagaimana caranya agar orang baik tetap hidup. Tentu yang lebih baik, menemukan cara membentuk masyarakat terbaik. Sebuah masyarakat yang cukup syarat untuk disebut sebagai ummatan wahidan atau umat pilihan.
Betapa pun kualitas pemimpin mencerminkan kualitas orang-orang yang dipimpinnya, langkah perubahan bisa dilakukan dari struktur atas atau struktur bawah.. Ia bisa terjadi dengan menggunakan kekuasaan struktural, kekuasaan kultural, atau menempuh kedua langkah ini sekaligus. Akhirnya membentuk orang-orang baik sebanyak-banyaknya, tidak saja sebagai pemimpin bagi individu dirinya, akan tetapi juga pemimpin publik terasa sangat penting dan mendesak. Kita perlu mendirikan pabrik pencetak pemimpin yang sama tingginya kualitas kepemimpinan individunya dan dalam mengarahkan massa .
Ialah intelektual, intelegensia, atau cendekiawan sebagaimana definisi Nowak Leszek. Dalam Intellectuals in The Age of Revolution: The Case of the Socialist World, Nowak Leszek menegaskan bahwa intelektual berada di tengah-tengah massa , membangkitkan kesadaran sosial massa dan menciptakan nilai-nilai budaya, serta mengendalikan roda sejarah bangsanya.[1] Sebab seperti yang diutarakan sejarawan Arnold J. Toynbee, “manusia hidup dalam sejarah dan membuat sejarah”. Terlepas sejarah yang dibuatnya baik atau buruk, intelektual akan menghadiahkan sejarah yang baik bagi diri dan masyarakat.
Mohammad Hatta, Proklamator Indonesia merdeka dan Wakil Presiden RI pertama yang populer sebagai seseorang yang cerdas dan bersahaja itu pernah menyatakan:
“Kaum intelegensia tidak bisa bersikap pasif, menyerahkan segala-galanya kepada mereka yang kebetulan menduduki jabatan yang memimpin dalam negara dan masyarakat. Kaum intelegensia adalah bagian dari rakyat, warga negara yang sama-sama mempunyai hak dan kewajiban. Dalam Indonesia yang berdemokrasi, ia ikut serta bertanggung jawab tentang perbaikan nasib bangsa. Dan sebagai warga negara yang terpelajar, yang tahu menimbang buruk dan baik, yang tahu menguji benar dan salah dengan pendapat yang beralasan, tanggung jawabnya seperti yang saya katakan tadi adalah intelektuil dan moril”.[2]
Pendek kata, kepemimpinan adalah keniscayaan dan tantangan. Ia niscaya dimiliki dan menantang kualitas kemanusiaan kita. Lantaran tiap orang adalah pemimpin: untuk diri dan yang lainnya, maka tak satu pun pemimpin yang diam saja menjadi obyek dalam sejarah. Tiap orang, di mana pun ia hidup dan apa pun jabatan formal dan kultural yang dipegangnya, patut menjadi subyek sejarah – betapa pun, menjadi obyek sejarah itu kemustahilan, karena dengan berperilaku pasif pun ia telah menjadi subyek sejarah yang melakukan pembiaran terhadap keberlangsungan sejarah.
Akhirnya, kenyataannya pemimpin dan yang dipimpin terlibat aktif dalam proses kepemimpinan. Keduanya saling terkait berkelindan dalam lingkaran kepemimpinan. Jika pemimpinnya baik, maka baik pulalah yang dipimpinnya. Sebaliknya, apabila pemimpinnya buruk, maka buruk pulalah yang dipimpinnya. Manakala orang-orang yang dipimpin baik, maka pemimpinnya adalah orang baik. Sebaliknya, bila orang-orang yang dipimpin bebal, maka pemimpinnya adalah seorang yang bebal. Bukankah sekawanan domba akan memilih pemimpin dari kalangan domba? ***
————————–
Penulis: jebolan Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kini mengajar di Sekolah Menengah Pertama di Cianjur Jawa Barat.
Tulisan lain yang berkaitan:



Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!