PEMBELAJARAN BERBASIS FITRAH: Sebuah Tawaran Di Ladang Gersang
Saturday, 28 March 2009 (10:46) | 404 views | 0 komentar
Oleh: Teguh Trianton, S.Pd.
(Moderator Bedah Buku AGUPENA Jateng)
Kondisi dunia pendidikan di Indonesia terkini telah memasuki fase paling menyedihkan. Hampir setiap minggu kasus kekerasan yang mencoreng dunia pendidikan terus terungkap. Mulai kasus perkelahian antar pelajar dalam satu kelas, satu sekolah, tawur antar pelajar hingga kekerasan oleh guru pada siswanya. Banyaknya kasus tersebut dengan serta merta menimbulkan kecurigaan. Jangan-jangan apa yang tercover di media massa merupakan fenomena gunung es. Artinya dalam kenyataannya kasus yang terjadi justru jauh lebih parah dari itu.

Lalu, siapa yang sebenarnya harus bertanggungjawab? Dalam banyak diskursus, terungkapnya kasus kekerasan di dunia pendidikan sesungguhnya merupakan tanggungjawab bersama antar seluruh elemen penting pendidikan. Tak ada yang bisa cuci tangan atau lepas tanggungjawab dalam permasalahan ini.
Pendidikan adalah sebuah proses yang tak berkesudahan yang sangat menentukan karakter bangsa pada masa kini dan masa datang, apakah suatu bangsa akan muncul sebagai bangsa pemenang, atau bangsa pecundang sangat tergantung pada kualitas pendidikan yang dapat membentuk karakter anak bangsa tersebut.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia, karakter ialah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Karakter satu bangsa sangat dipengaruhi oleh kultur dasar bangsa tersebut.
Dalam pandangan Achjar Chalil dan Hudaya Latuconsina dalam buku Pembelajaran Berbasis Fitrah disebutkan bahwa; fenomena tindak kekerasan yang terjadi di duni pendidikan merupakan bentuk pengingkaran atas tujuan awal pendidikan. Menurut keduanya; sebagaimana mengutip Al Qur’an sesungguhnya manusia diciptakan oleh Alloh SWT dengan fitrahnya. Manusia adalah mahluk yang suci sehingga pendidikan mestinya diupayakan untuk mengembalikan manusia kembali pada posisi awal tersebut. Nah, untuk kembali pada fitrahnya, kedua penulis buku yang diterbitkan Balai Pustaka (2008) tersebut menawarkan sebuah alternatif jalan yang dapat ditempuh. Jalan tersebut merupakan jalan menuju kesucian.
Dzikir dan Pikir
Pada uraianya, dalam acara Bedah Buku Pembelajaran Berbasis Fitrah yang dihelat Agpena Jawa Tengah kerjasama dengan ISPI Banyumas, Achjar Chalil yang hadir sebagai nara sumber mengungkapkan bahwa inti pembelajaran berbasih fitrah adalah mengajak peserta didik dan semua elemen yang terlibat dalam dunia pendidikan untuk menegakan dzikir dan pikir.
Keduanya harus berjalan seimbang, sehingga pendidikan tidak lagi mengalienasi hakekat manusia dari dirinya. Sebab selama ini elemen dzikir sebagai manifestasi dari peribadatan dan penghambaan atas eksistensi Alloh STW sering dilupakan. Pendidikan terlalu berorientasi pada logika dan menafikan keberadaan Dzat yang maha dzat.
Sementara itu, Drs Subur M.Ag, Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto yang bertindak sebagai pembedah memberikan beberapa kritik atas sejumlah terminologi yang digunakan dalam oleh penulis dalam bukunya. Menurut analisis Subur terminologi Guru Fitrah itu kurang pas, sebab dalam buku tersebut yang dimaksudkan guru yang fitrah adalah guru yang kompeten.
Kompetensi Pribadi
Sementara komponen pembentuk guru kompeten sendiri di dalamnya telah memuat syarat guru yang memiliki kompetensi pribadi. Dalam bahasa Drs Subur, di sini terjadi kerancuan, sebab kompetensi pribadi sesungguhnya adalah fitrah guru itu sendiri. Artinya guru yang kompeten adalah guru yang cakap atau memiliki kepribadian. Kepribadian pada hakekatnya adalah fitrah.
Namun demikian Subur sependapat dengan hakekat pendidikan yang harus dikembalikan pada fitrah manusia.
Dalam pembelajaran berbasis fitrah sesungguhnya seluruh elemen yang terlibat di dalamnya harus menyadari hakekat masing-masing. Di sini penulis buku membaginya dalam tiga elemen penting yaitu fitrah guru, fitrah siswa dan fitrah manusia. Fitrah manusia inilah yang menjadi landasan hubungan antara guru dan siswa, guru dengan guru dan siswa dengan siswa.
Buku Pembelajaran Berbasis Fitrah yang telah ditelaah pada Bedah Buku di Aula SMA Negeri 2 Purwokerto pada Kamis 26 Maret 2009 itu, merupakan sebuah alternatif. Sebuah tawaran jalan keluar yang dapat digunakan untuk mengembalikan hakekat pedidikan yang sesunggunya.
Simpulan
Sesungguhnya yang dimaksud pembelajaran berbasis fitrah bukanlah model pembelajaran yang harus diterapkan seperti kurikulum. Pembelajaran berbasis fitrah bukanlah seperangkan satuan kurikulum. Pembelajran berbasis fitrah dapat diaplikasikan kapan saja di mana saja dan pada mata pelajaran apapun. Hasil ahir pembelajaran berbasis fitrah ini bukan pada perolehan angka atau nilai yang tinggi saja. Melainkan bagaimana peserta didik dan guru menyadari bahwa ilmu pengetahuan yang ia pelajari dan kuasai merupakan hanya sebagian kecil dari kekuasaan dan basyirah Alloh SWT.
Manusia hanya diberi sedikit basyirah oleh Alloh, ini adalah dalam rangka mengenali hakekat manusia. Hasil ahirnya adalah manusia yang sadar akan hakekatnya, tidak menjadi hamba logika, melainkan mampu mengelola logika untuk mengenali yang maha pemilik logika, atau yang maha di atas logika.
Pembelajaran berbasis fitrah merupakan tawaran model pembelajran yang tidak hanya mengedepankan ilmu pengetahuan atau mengunggulkan kecerdasan intelektual. Pembelajran berbasis fitrah merupakan elemen penyeimbang sehingga manusia mengenal hakekat penciptaannya. Praktek-praktek pendidikan yang selama ini diterapkan di sekolah cenderung mengabaikan sisi fitrah manusia. Pendidikan hanya diarahkan pada proyek pembentukan sumber daya manusia sebagai tukang yang menguasai keterampilan dari pada sebagai kaum intelek yang mengetahui hakekat manusia diciptakan.
Purwokerto, 26 Maret 2009
Acara Bedah Buku Agupena Jawa Tengah dan ISPI Cabang Banyumas 2009
Tulisan lain yang berkaitan:



Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!