Tuesday, 17 March 2009 (10:15) | 207 views | 2 komentar
Laut
laut itu, sejuta kenangan telah tercecer
di sepanjang pantai
ketika kuingat: pantaimu masih saja seperti dulu
dalam landainya ombak
yang selalu meninggalkan buih
dal laut, selalu kurindu itu
ketika tanganmu terentang menggapai kapal
dan batas cakrawala
malam, telah sama kita dengar bait lagu
di antara gemuruh dan mendung yang bergayut
lautmu beriak di antara pantai-pantai
yang selalu saja mendeburkan ombak
apa kabar angina yang dating dari barat?
(tangismu masih disini), ketika kumerasa bahwa
kita telah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan
yang kita sukai. kita kembali ke kehidupan
semula. monoton
dan kita tak menyadarinya
seperti laut, ombak dan riak selalu tak berarti
membosankan
seperti laut, baying-bayang cahaya selalu membuat kita bertanya
kesetiaan
seperti laut kita adalah bayangan-bayangan
yang tak pernah mengerti dan mau memahami
mengapa laut harus beriak
Manusia Pergi
di kehidupan pengembaraan, perjalanan sunyi
adalah ekstase kerinduan untuk bertamu
di ruang rahimMu. gejolak darah memenjara diri
di pekatnya suasana. suara-suara gaduh luruh
meninggalkan lelaki pemimpi di kenyataan yang lirih
saat perhentian tinggal kerjapan, awal pencarian
berkabarkan hening. perjalanan ingin di dunia lain
:adakah diri akan selalu pergi?
di ketukMu, rahasia mawar menjadi tiada
akhir kedatangan hanyalah awal keberangkatan
ke tabir gelapMu yang membuka
akankah rahasia kegaiban Kau buka tirainya?
–kerdipan lilin dan ruang yang tiada
membawa diri ke perjalanan kedua
saat langkah terantuk, saat tujuan hilang bentuk
keriangan diri menggapai keriuhan
di pintuMu yang penuh rahasia
andai kudatang menuai kenangan
akankah mimpi jadi kenyataan baru
di pintu ketukMu?
Menunggu
–headline: megawati, 27 juli
menunggu, suatu penantian tanpa batas
bertemankan nanar dan bayang-bayang gelisah
matahari telah senja, sementara mimpi berbuah tangis
di perjalanan miris dan gerimis
selaksa udara mengabarkan duka
di sebuah dunia – entah di mana
menunggu, alangkah sulitnya berjaga
huru-hara menggeletarkan nyali di ujung senapan
berperang kebenaran – bermainkan keadilan
hingga tiada lagi waktu membaca peta
meninjau jarak, dan membuka diktat-diktat berdebu
menunggu, akhir yang melelahkan
kita bertarung di meja perjudian; menjadi bidak-bidak catur
dan ikut teriak turun ke jalan
tanpa mampu menyederhanakan arti sesungguhnya
dari kebenaran yang ciutkan nyali
dan menangisi diri dari kealpaan merefleksi
akan hari-hari yang jauh berlari
menunggu, alangkah sulitnya menjawab segala tanya
tentang damai yang didamba
dari hati yang terbelah
Pada Halte Kau Tunggu Bus Kota
setiap kali lewat selalu saja kau duduk di halte
menunggu jemputan bus kota yang selalu penuh
dengan tatap kosong; kau tundukkan wajah
pada halte kau tunggu bus kota
yang kan berangkat dalam kerjap gelisah
dan lambaian atau umpatan kasar kondektur
terdengar menggaung dan menggeletarkan telinga
di halte pukul satu sudah
dan kau bertanya: masihkah bus kota ada
yang kosong untuk satu tempat duduk saja
dan itu pun hanya dalam hati
(debu berkibar asapnya bertebar)
di halte setiap kali lewat bus kota kau gembira
namun kecewa akhirnya
setelah luka dan bisa lebih menusuk
seperti sembilu yang ditorehkan
di sini, halte tua yang tak mampu membendung panas
seribu bayang-bayang membias
pada titik peluh yang menetes
Pada Pesisir yang Lengang
juga seperti hari-hari kemarin, apalagi yang akan kau
ceritakan? pesisir telah lengang, kecuali suara ombak
sesuatu telah hadir begitu saja tanpa kita bisa
menghentikannya. atau mungkinkah ini sebuah pengecualian
yang terlukis dengan asingnya?
tiada lagi siapa-siapa. nelayan telah pulang sejak siang
sementara kapal-kapal pun enggan singgah di pelabuhan
haruskah kau membuang tangis di antara kesunyian
yang ada? padahal kau tahu, pasir pantai tak pernah
membuat pertemuan kita menjadi semakin mesra
barangkali semua impian belaka. pertemuan-pertemuan
yang tercipta hanyalah menjadikan kita kian
tak mengerti dan asing. dan kita mengeluh
atau saling menyalahkan
padahal kita sama mengerti, arti kekerasan-kekerasan
hati, yang senantiasa kita pertahankan
:mungkinkah masih ada rentetan kata
sebagai sesuatu yang dipercaya
Pekalongan
Catatan Lelah si Suatu Kota (1)
dan kita ciptakan sepasang keresahan
saat jendela jumpa membuka di antara kembara
kemarau di kota ini membara lewat nafas
yang kau alirkan di sapa tersisa
tiada kata pasti, tak pernah kita urai masa lalu
sementara cerita kita terus menggemuruh
mengingatkan hari yang tak pernah berlari
kau tahu hidup ini apa, nie
saat gamangku berpijak, pijarmu pun menyelinap
:apa arti tatap, saat kurenangi laut wajahmu?
(barangkali ini ekstase yang tak selesai
ataupun renjana yang tak pernah usai)
dan jalan yang selalu kita tempuh
masih saja kulalui
selangkah di antara deru kota yang berdebu
matahari membakar dalam getar riuh udara yang menguap
:kapan gerimis kita usung di sejuknya cuaca?
Pekalongan
Catatan Lelah di Suatu Kota (2)
dan juga seperti hari-hari kemarin, apalagi
yang tersisa di pagi ini? jendela-jendela
tetap menutup, sementara kerinduan berbuah tangis
dan dalam kemurungan, hanya tersisa
dendam dan harap yang pengap
kemana lagi bisa mencari damai yang didamba?
sri, angin kotamu masih saja berkabar kemarau
dan cerita duka telah terbingkai di perjalanan hari
:adakah pelangi lain berbinar, bila murungmu
kau kunci di penjara hati?
(sementara angin dingin melintas di pagi subuh)
barangkali hidup hanya harapn yang terpisah
lewat gamang dan remangnya langkah
kemarau kian mengeringkan hati; sementara mendung
tak lagi menyerap makna hujan
sri, di matamu kemarau teramat sunyi
sementara curiga dan ketakutan begitu menghantunya
mengantarkan melodi sedih di sebuah kota
Tulisan lain yang berkaitan:



luar biasa……………..
kapan berbagi untuk memberi motifasi teman-teman menuliskan karyanya ke sebuah media, pak.
Reply
ko kawan lamo di taraju rasonyo
Reply