Friday, 6 March 2009 (11:20) | 1,387 views | 32 komentar
Oleh: Zulkarnaen Syri Lokesywara
Akhirnya kesempatan itu datang. Setelah berpuluh tahun. Menjadi kepala sekolah! Tim seleksi sekolah merekomendasikan aku dan salah satu teman untuk mengikuti seleksi kepala sekolah SMA yang lowong karena berbagai hal. Ada yang pensiun, telah menjabat dua periode, dan ada pula yang lowong karena kepala sekolah lama meninggal dunia. Pernah aku sangat berharap ada kepala sekolah yang mengundurkan diri karena merasa gagal dalam tugas, namun harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Berkas-berkas persyaratan seleksi aku siapkan semuanya. Piagam-piagam penghargaan dari berbagai kejuaraan menulis, piagam penataran, surat keterangan dari banyak lembaga tentang keaktifanku dalam kegiatan sosial budaya di masyarakat, dan surat rekomendasi dari LSM yang bergerak di bidang pendidikan tersusun rapi dalam map yang, astaga…!, harus sewarna dengan warna khas parpol kendaraan Bupati baru menuju kursi kekuasaannya!
***
Teman-teman satu sekolah mendoakan kami berdua setelah acara briefing oleh Kepala Sekolah selesai. Bu Dana, yang mengikuti seleksi kepala sekolah tahun lalu tetapi gagal, menghampiriku ketika pembacaan doa usai. Sambil menyalami tanganku, beliau bertanya:
“Sudah siap lahir batin Pak?”
“Yes! Semua syarat yang berhubungan dengan administrasi ada dalam map ini. Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan ada dalam otak saya. Bahkan UU Nomor 20 Tahun 2003 hampir hapal aku Bu!”, jawabku mantap.
“Oalah Pak…, nggak cukup syarat itu. Bapak harus menyediakan juga dana segar agar terpilih menjadi salah satu kepala sekolah. Tanpa duit di tangan…, Bapak hanya buang-buang waktu dan tenaga Pak!”
“Yang benar Bu…? Ini Bupati baru Bu. Ingat kan waktu kampanye dia bilang apa? Beliau berjanji akan menumpas korupsi dan praktik suap-menyuap. Jangan-jangan itu hanya alasan Bu Dana karena kemarin nggak lolos seleksi?”, candaku pada Bu Dana.
Mendadak wajah Bu Dana berubah serius. Aku khawatir Bu Dana tersinggung dengan gurauanku. Dengan suara setengah berbisik, Bu Dana berkata:
“Tahun kemarin Pak, mereka yang lolos menjadi kepala sekolah harus setor ke Bupati antara 70 juta sampai 100 juta rupiah tergantung posisi dan besar kecilnya sekolah. Jadi kalau Pak…”.
“Sebentar Bu…,” aku potong perkataan Bu Dana, “apa Bupati yang kaya tega minta uang dari para calon kepala seperti saya ini Bu? Terus apa ada bukti kalau mereka harus setor puluhan juta itu Bu?”
“Pak Kun ini kura-kura dalam perahu, semua orang juga tahu untuk jadi Bupati beliau harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Mengenai uang setoran memang sulit Pak dibuktikan. Beliau itu kan orang pintar, pasti tidak mau memberi kuitansi setoran tidak sah tersebut. Bunuh diri namanya kalau sampai mau memberi kuitansi. Saya tahu dari pengakuan salah satu calon yang sekarang telah menjabat Kepala Sekolah di SMA ndesa lereng gunung sana. Katanya sih, setoran dia paling kecil di antara calon lainnya, sehingga dia dibuang di sana”.
“Saya kok tidak yakin Bu dengan semua itu. Saya yakin itu issue yang dihembuskan oleh …, maaf ya Bu bukan berarti saya nuduh Bu Dana….., dihembuskan oleh para kandidat yang tidak lolos seleksi. Untuk menutup kelemahannya gitu lho Bu!”
***
Soal-soal seleksi kulahap dengan cepat. Maklum hanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang telah popular selama ini. Begitu pula soal-soal teknis manajemen pengelolaan sekolah. Lancar abis…, kata anak-anak muda sekarang. Tidak ada satu pun soal terlewatkan tanpa jawaban. Makalah yang aku buat juga mendapat pujian dari para penguji ketika presentasi berlangsung, sehingga tidak mengherankan kalau nilaiku tertinggi di antara 22 kandidat kepala sekolah SMA tahun ini. Bayangan kursi kepala sekolah favorit berkelebat di depanku.
Empat hari kemudian, wawancara sebagai seleksi terakhir dilaksanakan. Rumor yang beredar, tahapan inilah yang rawan suap-menyuap selain pertemuan-pertemuan informal antara kandidat dengan decision maker, karena tidak terpantau oleh kandidat lainnya. Masa bodoh dengan segala macam rumor. Aku yakin profesionalitas ada di atas semua itu.
Dalam tes wawancara, sejumlah gagasan baru dalam penyelenggaraan pendidikan coba aku tawarkan. Demokratisasi dalam pendidikan menjadi prioritas programku. Siswa mempunyai hak untuk menentukan kebijakan sekolah melalui pembentukan Dewan Siswa. Dewan Siswa, dalam paparanku di depan penguji, berhak mengkritisi kebijakan sekolah yang dianggap merugikan siswa, seperti pembelian seragam sekolah, penyeragaman buku pegangan, dan kenaikan SPP atau apapun namanya. Bukan kebijakan populer memang, tapi aku yakin akan sangat bermanfaat bagi
peningkatan kualitas bangsa ini. “Itulah sumbangan saya pada dunia pendidikan di kota ini”, jawabku mantap mengomentari pertanyaan terakhir dari penguji.
***
Rencana pengumuman seleksi ternyata mundur untuk yang ke dua kalinya hari ini. Lagi-lagi rumor yang beredar adalah memberi kesempatan kepada para kandidat untuk menaikkan besarnya uang setoran kepada ‘Juragan’. Aku tetap kukuh dengan sikap awalku. Profesionalitas tetap aku junjung tinggi-tinggi, dan terbukti tiga hari kemudian. Aku merupakan salah satu dari tujuh orang yang akan mengisi lima lowongan kepala sekolah di kota ini.
Bu Dana menjadi orang pertama yang memberiku ucapan selamat. Sambil menggenggam tanganku dengan erat, Bu Dana berkata:
“Anda beruntung Pak, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, Pak Kun lolos seleksi tahap-tahap akhir”.
“Terima kasih Bu. Benar kan kata saya, profesionalitas ada di atas segala rumor yang berkembang? Ini sudah final Bu. Tinggal me…”.
“Belum Pak…,” potong Bu Dana cepat, “tahap ini rawan sekali dengan suap-menyuap. Kalau Anda tidak mau memberikan uang setoran, jangan harap dilantik! Bapak cuma dijadikan bemper oleh Bupati. Kalau ada kandidat lain atau wartawan yang mencurigai ada suap dalam proses ini, saya yakin Bapak akan mengatakan bahwa tidak ada, karena Bapak memang tidak setor. Periode kemarin juga begitu, yang nggak mau setor ya cadangan melulu Pak! Mau setor berapa Pak?”
“Sampai kapan pun saya tidak akan mau melakukan suap seperti itu. Tunggu saja tanggal mainnya. Bu Dana akan jadi orang pertama yang saya kabari saat pelantikan nanti. Percaya deh Bu!”, kataku mantap.
***
Motor butut kesayangan sudah kucuci bersih kemarin. Kubeli dari orang tua murid dari tabungan hasil tulisan di koran-koran lokal ditambah hadiah dari lomba menulis. Ini hari pertamaku masuk ke sekolah baru, sebagai Kepala Sekolah! Berbagai skenario sudah kurancang sampai detail, termasuk sambutanku pada upacara perkenalan nanti di lapangan sekolah.
Dengan tenang aku mengatur letak mikropon yang terlalu tinggi bagi tubuhku yang kecil setelah protokol mempersilakan Pembina Upacara menyampaikan amanat. Kumulai dengan perkenalan singkat untuk selanjutnya memperkenalkan program Kepala Sekolah baru, Demokratisasi Pendidikan.
“Bapak Ibu Guru dan Karyawan yang saya hormati, anak-anak yang mudah-mudahan bisa saya banggakan, tanpa demokratisasi pendidikan, pendidikan di negeri ini hanya akan menghasilkan generasi penurut yang tidak punya inisiatif. Generasi bebek! Yang depan belok kanan, bebek di belakang pun belok kanan. Kita ingin bangsa ini punya karakter! Kita semua ingin generasi bangsa ini menjadi generasi jujur, berani berbeda pendapat, antisuap, bertanggung-jawab atas apa yang telah diperbuat. Pendidikan dilaksanakan untuk memerdekakan pikiran. Pendidikan bukan dimaksudkan untuk membuka peluang baru bagi penindasan manusia atas manusia, penindasan siswa oleh guru, ataupun penindasan kepala sekolah kepada guru dan para siswa!”
Para siswa bertepuk tangan sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. Aku semakin bergairah melanjutkan pidatoku.
“Kalian boleh mengkritisi kebijakan sekolah yang kalian anggap merugikan! Lengserkan saya kalau menyalahgunakan keuangan sekolah. Uang itu penting, tapi bagi saya dan mudah-mudahan kita semua, yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita memperoleh uang tersebut!”
Kurasakan jantungku berdegup lebih kencang didorong keinginanku memuntahkan segala unek-unek di dalam hati. Peluh keluar dari seluruh pori-pori tubuhku!
Bentuklah Dewan Siswa! Saya berjanji akan melibatkan dewan ini dalam mengambil kebijakan-kebijakan sekolah. Dewan Murid akan mempunyai kedudukan setara dengan Dewan Guru. Setuju…? Buku pegangan pelajaran tidak harus sama. Setuju…? Seragam tidak harus beli di sekolah. Setuju…? Piknik atau apapun namanya tidak wajib ikut. Setuju…? Memb..…”
Belum selesai aku memuntahkan semua masalah pendidikan yang mengganggu pikiranku, seseorang mencoba maju merebut mikropon dan mencegahku melanjutkan pidatoku:
“Pak, eling Pak. Bangun! Siang hari gini kok mengigau ‘setuja-setuju’. Istighfar Pak, tidak jadi kepala sekolah nggak apa-apa. Saya kan tidak pernah nuntut Bapak harus jadi kepala sekolah”, kata istri menyadarkan aku dari mimpi di siang yang panas ini.
*****




admin | Friday, 6 March 2009 @ 11:21 am
alah, sudah siap2 mau ngucapin selamat, kok, eehhh, ternyata hanya mimpi, kekeke … pak zul bisa aja nih!
Reply
Zulkarnaen Syri Lokesywara Reply:
March 27th, 2009 at 8:26 am
Itulah “perlawanan” yang bisa saya lakukan. Mungkin itu selemah-lemahnya perlawanan, tapi gpp. Siapa tahu dari tulisan ini saya dapat pendukung untuk memberikan perlawanan yang lebih kuat lagi. Semoga.
Reply
Deni | Monday, 9 March 2009 @ 5:46 am
Pak Zul dan Pak Sawali itu sesungguhnya pantas sekali menjadi Kepala Sekolah.
Reply
Sismanan | Monday, 16 March 2009 @ 1:58 am
Saya kira beneran. Moga idealismenya tak luntur, trus dpt bersama2 merealisasikan dalam kehidupan nyata. Jadi kepala sekolah yang profesional untuk kemajuan bangsa!
Reply
Agus W. | Thursday, 19 March 2009 @ 12:12 pm
Lucu dan tragis!
Reply
johan | Sunday, 22 March 2009 @ 4:44 am
Ya begitulah dunia kita. tenang aza, Pak. Tuhan nggak tidur. Jabatan jangan dicari, kesempatan jangan disia-siakan, berprasangka baik jutsru akan menentramkan hati. Sukses tak selalu berjabat dan berpangkat. Sukses adalah “khairunnasii yanfa’uu linnass…” (sebaik-baik manusia yang bermanfaat untuk sesamanya)
Reply
DENI | Sunday, 22 March 2009 @ 6:07 pm
Ya begitulah dunia kita … (Pertanyaannya adalah apakah dunia kita yang seperti itu akan tetap dibiarkan terus berjalan… sampai kapan…
Justru akan bermanfaat bagi kehidupan manusia dan peradaban, kalau kondisi tersebut (baca: anomali pendidikan) diperbaiki, dan itu butuh kesadaran serta kerjasama semua pihak.
Reply
Zulkarnaen Syri Lokesywara | Monday, 23 March 2009 @ 10:46 am
Wiji Thukul bilang: “Hanya satu kata: Lawan!” Idealnya memang kondisi spt dilawan secara frontal!!!
Memang tidak semudah membalik telapak tangan. Meski mungkin ini selemah-lemahnya perlawanan, I got this way! Siapa tahu jalan ini mampu menjadi virus yg segera menyebar!
Tapi, tetap
Reply
tri budiyono | Friday, 27 March 2009 @ 1:52 am
Pengalamanku juga begitu Pak….
Tapi kita nikmati hidup ini. Bahkan kata penguji pernah tanya sama saya .Eh guru muda kamu pingin jadi Kepsek mau ngrampok atau pingin cepat kaya?? Weh lha dalah tak enyek saja tu penuji. Prof. Gajimu itu berapa kok nuduh begitu? wong saya ini dapat royalti tiap bulan 10 juta rupiah saja ngak berani ngomong sembarangan. Nah lho.. ternyata kita ngak mimpi pak yul kita ini memang pantesnya jadi penulis saja. Yah….tho.
Baca juga tulisan tri budiyono berjudul PENGALAMAN GURU MEMBANTU ANAK
Reply
agus waluyo | Monday, 13 April 2009 @ 10:52 pm
Dunia memang sdh tua. Saya berharap semua guru terkena virus baik pak Zul.
Reply
nikmah nurbaity | Wednesday, 22 April 2009 @ 4:16 am
hehehe judulnya langsung tak tembak: baca!!!
karena saya kepala sekolah hehe
tapi sama dengan mimpi pak zul
gak pakai uang speserpun karena di purworejo guru prestasi propinsi hadiahnya kepala sekolah.
bener pak .. enak jadi guru
bebas merdeka
jadi ks ada tanggung jawab yang berat
ada aturan aturan yang membelenggu, tetapi jika sadar bersama bisa juga diciptakan partisipasi yang tinggi dari siswa dan warga:)
saya setujuuuuu:)
selamat pak
kita bangaun pendidikan yang mendidik
salam
selamat ya pak
bangga saya membacanya
Baca juga tulisan nikmah nurbaity berjudul KATAKAN CINTA
Reply
Bambang HS | Thursday, 23 April 2009 @ 7:34 am
Capee … deh. Ga jadi kepala sekolah, bukan berarti mandegnya idealisme. Tetap perjuangkan tujuan itu. Selamat
Reply
nardi 14 butuh | Wednesday, 10 June 2009 @ 8:01 am
Di tingkat lebih bawah juga terjadi demikian. Untuk menjadikan siswa menjadi juara harus dihadang juri-juri yang tak adil. Ada kompetisi tiap sekolah mengirim 3 siswa berprestasi, namun karena khawatir juara jatuh ke sekolah lain, diikutkannya 40 siswa betanding.
sekolah kota malu kalau juara ada di sekolah pinggiran barangkali.
Reply
suprapto | Sunday, 21 June 2009 @ 6:35 am
Siapa berani menurunkan engkau
serentak rakyatmu membela …..
Ya, ibarat Sang Merah Putih
Terus kibarkan profesionalisme dan kebenaran, Pak.
Era otoda memang beda.
Sy KS, sekali bersaing via LPMP ternyata lolos tanpa ini itu.
Reply
ROTO | Sunday, 5 July 2009 @ 6:07 am
ILUSI BAPAK PATUT JADI RENUNGAN BAGI KITA TANPA TERKECUALI.
KITAPUN PERLU MENYADARI BAHWA ILUSI BAPAK TADI TERMASUK AMAL IBADAAH.
SIMPULANNYA BERAMAL DAPAT DILAKUKAN KAPANPUN, GITU PAK HE HE TIDAK HARUS MENJADI KEPALA SEKOLAH. SELAMAT BERILUSI BERIKUTNYA.
Reply
Husnul Chotimah | Tuesday, 11 August 2009 @ 1:13 am
merdeka! biarkan kata merdeka bergema, nyatanya para guru belum merdeka
Reply
Muid | Saturday, 5 September 2009 @ 2:11 am
Kisah di cerita pak Zul beda dengan kisah nyata di tempat saya. Di tempat saya jd KS pada ndak mau, mending jd guru biasa, Pak! Aneh, kan?
Reply
Muhammad Mashadi | Sunday, 13 September 2009 @ 11:14 pm
Terima kasih pak udah menjadi salah satu guru inspirasi buat saya, saya alumni SMA 2 Demak lulus th 2001, sekarang saya kerja di SMA Insan Madani Aceh Selatan, kalo ada orang bilang kesuksesan adalah 1persen ide dan 99persen kerja keras, saya rasa itu ada dalam diri Pak Zul, Semoga “kaleksanan” jadi Kepsek pak. saya juga sudah bisa bayangkan kalo Pak Zul yang jadi Kepsek pasti suasana sekolah makin “hidup” atau siswa bisa komentar Pak Zul memang “Gue bangets”
Reply
Zulkarnaen SL. | Monday, 14 September 2009 @ 9:52 am
@Mashadi: ah……itu dilebih-lebihkan…. Aku biasa aja kok! Selamat ya masuk dalam jajaran pencerdas bangsa! Masih kurus tinggi kaya dl? Salam buat siapa aja!


@Muid: sampe detik ini, aku jg gk pengin kok jd kepsek!
@Husnul C: Setuju! Merdeka dalam segala hal.
@Roto: thanks P. Roto. Bikin adem ati saya…hehehehe…. Aku suka tulisan Anda di Kompas Jateng beberapa hari lalu….
@Suprapto: Selamat P. Prapto! jadikan pendidikan kita lebih berwarna lagi!
@Nardi: Mudah2an itu kasuistik saja. Gk menggejala di lain tempat (…eh ini harapan apa sudah jadi kenyataan ya….? Bingung: Mode On)
@Bambang HS: Setuju!
@Nikmah N: Saya selalu ingat lagunya Pink Floyd, The Wall, sebuah kritik yg sangat pantas direnungkan oleh para guru dan pengelola pendidikan di negeri ini!!!
@Agus W: Amin….
@Tri Budiyono: Penulis itu merdeka
Reply
sutrasno wiryosaputro | Thursday, 29 October 2009 @ 12:53 am
Luar biasa P.Zul jika kepala sekolah seperti Bapak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya Pendidikan di Indonesia akan maju pesat.Bapak adalah Sosok Guru Profesional Sejati. Kata orang Jepang sana kita harus punya mimpi, guru harus punya mimpi dan semoga mimpi Bapak mimpi ” Puspa Tajem “
Reply
Aziz | Friday, 6 November 2009 @ 6:31 pm
Syarat jadi kepsek yang penting harus punya prinsip ” selalu memikirkan orang lain ” …. jangan mikirkan berapa rupiah yang masuk ke kantong kita setiap hari … he.. he.. he..
Reply
Dian W | Tuesday, 17 November 2009 @ 1:01 pm
Hebat Pak mimpinya!
Seharusnya jangan bangun dulu sampai terwujud cita-cita dan idealisme nya.
Pantang mundur!
Salam,
DW
Reply
ELBISRY | Saturday, 5 December 2009 @ 5:57 pm
P. Zul…saya guru, 2009 diangkat jadi PNS. yg mengantar saya jadi PNS karena saya wartawan juga penulis.Sejak kuliah saya aktif di jurnalistik lokal pada akhirnya saya menerbitikan majalah sendiri yang bertajuk pendidikan, samapi saat ini masih aktif dan smg bisa teus eksis.
saya mmbc tulisan P. zul pas edidi ini kami angkat teman”generasi bebek”. wah…tulisan bapak sama dg semangat saya…
bisakah saya kenal leih jauh dan beljar menulis pada bapa?
Reply
Zulkarnaen SL. | Wednesday, 9 December 2009 @ 8:41 pm
@Elbisry: terlalu berlebihanlah kayanya klo belajar nulis kok ke saya. Lebih tepat kita share mungkin. Saya yakin orang2 muda seperti Anda punya energi liar yang lebih dahsyat!! Oke, karena saya gak tau email Anda, Anda bisa buka kontak via email saya: zulkarnaensl@yahoo.com
@Dian W dan Azis: terima kasih.
@Sutrasno: Heeehehe…saya guru biasa yang suka nulis aja kok…, termasuk nulis sms aja…..
Reply
sigit karya | Saturday, 12 December 2009 @ 7:53 pm
masih mimpikah ? akupun demikian pernah memimpikan ada seorang kasek yang terbukti tak mampu sudi mengundurkan diri. tapi nyatanyaaaaaaa?
Reply
Zulkarnaen SL. | Monday, 14 December 2009 @ 9:52 am
@Sigit Karya:
Reply
sabdo spd | Tuesday, 19 January 2010 @ 5:53 am
gampang jadi ks tapi juga sulit, awalnya ngatur satu orang sekarang sepuluh orang. belum yang lai-lainnya ?
Reply
kiram | Wednesday, 27 January 2010 @ 8:56 am
udah berhasil blm perlawanannya Pak cakepsek? salut,terus perjuangannya
Reply
sudiyono | Thursday, 28 January 2010 @ 11:59 am
Pak Zul,aku setuju banget pada program di mimpi bapak,tidak harus jadi KS pak untuk merubah pendidikan ini lebih maju. Selamat pak mudah-mudahan sekarang bapak sudah jadi kepala sekolah beneran! “tanggungjawabe luweh gedhe gajine gur selisih satusan ewu,durung yen guru-gurune dha rese diajak maju gak respon,puyeng jadinya”
Reply
Zulkarnaen SL. | Monday, 1 February 2010 @ 8:26 am
@ Sabdo, S.Pd. : sementara jd kepala rumah tangga aja, ngatur 5 orang aja…
@ Kiram : Sudah! Saat tulisan saya sudah terbaca orang lain, saya merasa telah berhasil pada 1 step!!
@ Sudiyono: KS bukan target saya kok Mas!! Cuman ngeluarin unek-unek aja!! Nuwun perhatiannya!!
Reply
ria | Tuesday, 23 February 2010 @ 8:43 am
Saya guru biasa dr SMP pinggiran kab.Kebumen dan skrg jd KS lewat seleksi yg ketat dan tanpa uang sepeserpun…..Teman2 guru klo memang punya niat yg tulus ingin mengabdi jd KS,cobalah…..Insyaalloh dg niat tulus dan tentu sj kompetensi yg sesuai tentu BISAAAAAA…..SIAPA TAKUT…?
Reply
Zulkarnaen SL. | Monday, 8 March 2010 @ 9:11 am
@Ria: Selamat mbak/bu Ria…atas pengangkatan sebagai kepala sekolah.
Di tangan kepala sekolah seperti mbak Ria inilah, seharusnya manajemen diberikan!!
Selamat kepada Kebumen yang telah melaksanakan seleksi KS dengan fair!!! Smoga Klaten, Demak, Boyolali, Tegal, dan daerah-daerah lain akan berbuat hal yang sama dalam proses pengangkatan kepala sekolah.
Reply