Organisasi Guru Penulis dan Budaya Menulis di Kalangan Guru

Friday, 6 March 2009 (10:35) | 597 views | 26 komentar

Oleh Deni Kurniawan As’ari

deniGuru merupakan sebuah profesi yang ‘memungkinkan’ pelakunya untuk melakukan aktivitas menulis. Mengapa? Karena secara kapasitas intelektual memadai, pengalaman mendukung dan dari segi waktu atau kesempatan terbuka lebar. Berbagai topik dapat dipilih untuk menjadi bahan tulisan, mulai dari permasalahan pembelajaran, isu pendidikan, kebijakan pemerintah, sampai menulis buku atau artikel di media massa.

Namun, fenomena memprihatinkan muncul di lapangan, bahwa sebagian besar guru khususnya di Jawa Tengah masih enggan menulis. Data yang dikemukakan Sukartono, S.Ip., MM (LPMP Jawa Tengah, 4/2) saat membuka pertemuan guru penulis menarik dicermati, bahwa persentase guru PNS di Jawa Tengah yang sudah berhasil naik pangkat ke golongan IV-B masih sangat rendah. Untuk guru SD (0,20%), SMP (2,04%), SMA (1,65%), dan SMK (1,46%). Menurut beliau, banyaknya jumlah guru yang mentog pada golongan IV-A disebabkan karena sebagian besar guru masih mengalami kendala dalam mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi melalui penulisan karya ilmiah (Sawali Tuhusetya : http://sawali.info). Nasib serupa dialami sebagian besar guru swasta yang banyak mengalami kegagalan saat mengikuti sertifikasi karena pengembangan profesi berupa karya tulisnya masih kosong-molongpong.

Faktor Penyebab
Ditengarai ada sejumlah faktor yang menyebabkan para guru itu masih enggan menulis diantaranya:
Satu, kesibukan. Sebagian besar guru mengatakan bahwa tugas guru sangat banyak terutama terkait dengan administrasi pembelajaran, ditambah lagi kalau mendapat tugas tambahan sebagai wakil kepala, ketua jurusan, pembimbing ekstra atau wali kelas sehingga konon nyaris tidak ada waktu untuk menulis.

Dua, terjebak rutinitas kerja. Aktifitas mengajar dari pagi sampai siang, bahkan sampai malam bagi sebagian guru yang suka ngelesi (memberi pelajaran tambahan) tanpa sadar telah menjadikan guru terpola, yang hari-harinya diisi hanya untuk mengajar dan mengajar. Tiga, rendahnya motivasi menulis. Barangkali faktor ini yang paling ‘berbahaya’ ketika keinginan untuk menulis memang lemah atau sama sekali tidak ada. Empat, kemalasan. Inilah sesungguhnya yang banyak menjangkiti para guru. Ada perasaan berat dan seolah menjadi beban tersendiri ketika harus menulis. Kemalasan ini tidak hanya dalam aktivitas menulis tetapi juga membaca. Dan, ketika membaca sudah malas maka bagaimana mau menulis. Pelbagai faktor di atas, barangkali masih perlu didiskusikan lebih lanjut. Yang jelas, alasan kesibukan dan pekerjaan sebenarnya dapat disiasati ketika keinginan menulis telah tumbuh dalam diri.

Pentingnya Organisasi Guru Penulis
Salah satu cara untuk mengatasi keengganan para guru untuk menulis adalah perlunya suatu wadah yang secara simultan dan terarah menciptakan iklim dan nuansa menulis yang pada akhirnnya mampu mendongkrak animo guru untuk menulis. Secara umum ada tiga alasan pentingnya wadah guru penulis. Satu, mewujudkan budaya menulis. Organisasi yang secara khusus dan fokus dalam kepenulisan diharapkan akan menciptakan tradisi menulis di kalangan guru. Pengurus dan anggota yang tergabung dalam wadah ini dapat saling berinteraksi satu sama lain untuk mewujudkan budaya menulis.

Dua, memahami dunia kepenulisan. Melalui wadah ini dimungkinkan terbantunya para guru yang sebelumnya masih kesulitan menulis atau bahkan malas untuk mulai menulis. Berbagai kegiatan dan event yang sekiranya mendukung seperti workshop, diskusi, seminar, temu penulis, sharing, atau bedah buku dapat menjadi alternatif yang bermanfaat. Apalagi fasilitas saat ini yang dapat dimanfaakan para guru untuk belajar menulis sungguh sangat banyak, termasuk aktivitas guru ngeblog penyemaian berbagai tulisan.

Tiga, Peningkatan kesejahteraan dan karir. Melalui organisasi guru penulis akan semakin ‘membanjir’ guru yang mau dan mampu menulis. Dampaknya langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap kesejahteraan guru. Misal, ada guru yang menyusun buku dan bukunya best seller sehingga memperoleh royalti yang melebihi gajinya sendiri. Selain itu kenaikan pangkat terutama bagi guru PNS akan berjalan lancar, termasuk guru swasta yang ingin lolos sertifikasi. Tentu saja, kesejahteran dan karir bukan tujuan utama, yang paling penting justru ketika para guru uang konon sekarang telah mendapat gelar baru sebagai insan cendekia dapat memaksimalkan amal sosialnya melalui tulisan-tulisan yang mencerahkan untuk kemajuan pendidikan.

AGUPENA, Antara Tantangan dan Harapan
Salah satu organisas yangi concern di dunia kepenulisan dan di Provinsi Jawa Tengah baru terbentuk adalah Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena). Organisasi ini muncul pertama kali digagas oleh Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Doktor Fasli Jalal, pada tanggal 28 Nopember 2006 (http://agupena.org). Dalam perkembangannya, organisasi ini menghimpun para guru yang memiliki minat untuk mengembangkan diri dalam dunia kepenulisan.

Visi Agupena yaitu “melalui kegiatan menulis dan membaca, membimbing dan mendidik anak didik, menjadi manusia yang cerdas, aktif, kreatif, beriman dan bertaqwa, dan memiliki pola pikir yang cerah dan teratur”. Adapun misinya meliputi dua aspek, yaitu:
A. Aspek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Olah raga, dan Kesehatan yang diisi dengan butir-butir kegiatan, antara lain 1).Pelatihan Penulisan Silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, 2).Pelatihan Penulisan Rencana Program Pembelajaran (RPP), 3).Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah (buku pelajaran, makalah) yang terkait dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Olah raga dan kesehatan, 4).Pelatihan Penulisan Modul Bahan Ajar, 5) Penerbitan jurnal ilmiah, 6).Pelatihan menulis bagi siswa, 7).Lomba menulis dan membaca bagi guru dan siswa, 8).Dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan menulis dan relevan dengan tujuan pendidikan nasional dan pengembangan profesi guru.

B.Agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, dan estetika yang meliputi: 1) Pelatihan Penulisan karya ilmiah yang terkait dengan Agama dan Akhlak Mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, dan estetika, 2) Pelatihan Penulisan karya sastra (fiksi/non fiksi) dalam bentuk novel, puisi, cerpen, dan essay, 3) Pelatihan menulis karya sastra bagi guru dan siswa, 4) Penggalakan dan pemberdayaan majalah dinding sekolah dalam rangka membangun logika siswa lewat membaca dan menulis, 5) Dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan menulis dan relevan dengan tujuan pendidikan nasional dan pengembangan profesi guru.

Dengan mencermati visi dan misi AGUPENA, maka tidak menutup kemungkinan bahwa organisasi ini akan mampu mendorong budaya menulis di kalangan guru. Harapan ini sesungguhnya wajar saja ketika para guru yang terlibat dalam pembentukannya memiliki semangat MEMBANGUN SEMANGAT BERBAGI. Di samping itu, dukungan dari berbagai tokoh dan lembaga terhadap kelahiran organisasi sungguh luar biasa.

Barangkali tantangan yang perlu dihadapi oleh pengurus AGUPENA adalah bagaimana menjaga soliditas dan komitmen untuk selalu bekerjasama dan sama-sama bekerja. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan dan kreativitas pengurus untuk menggali dana, agar organisasi berjalan dengan baik, ketika AGUPENA telah mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi yang independen, mandiri dan lepas dari pelbagai kepentingan pribadi dan politik sekaligus tidak akan menggantungkan diri dari bantuan dana yang bersumber dari pemerintah.

Akhirnya, semoga kelahiran AGUPENA dapat turut serta bersama organisasi lain dalam upaya pembudayaan menulis di kalangan guru dan memajukan dunia pendidikan.

Wallahu a’lam bhisshowab
———————-
Deni Kurniawan As’ari, Ketua Umum Agupena Jawa Tengah

Tulisan lain yang berkaitan:

img AGUPENA Sebagai Organisasi Pelegitimasi Unsur Pengembangan Profesi Guru, Mungkinkah? (27 December 2010, 179 views, 1 respon)
img Pengumuman 5 (Lima) Karya Tulis Terbaik Agupena Jateng 2010 (24 November 2010, 446 views, 13 respon)
img HASIL-HASIL RAKERNAS AGUPENA (9 October 2010, 85 views, 7 respon)
img Agupena Pasca-Munaslub dan Muswilub (7 July 2010, 68 views, 3 respon)
img Kemuliaan Seorang Penulis (14 April 2010, 196 views, 3 respon)
img Achjar Chalil, Agupena, dan Rakernas (14 October 2009, 79 views, 2 respon)
img Hasil Audiensi Agupena, Sekretaris Ditjen PMPTK, dan SEAMOLEC (9 July 2009, 310 views, 4 respon)
img Guru Kesulitan Membuat Karya Tulis (2 April 2009, 184 views, 2 respon)

26 Responses to “Organisasi Guru Penulis dan Budaya Menulis di Kalangan Guru”

  1. ranti on Monday, 16 March 2009 (pukul 9:41 pm)

    Sedih ketika membaca artikel ini. Jangankan menulis untuk kepangkatan, pak, nulis cerpen yang notabene adalah sebuah tulisan fiksi aja udah susahnya minta ampun. Disadari atau tidak kesibukan itu juga yang terkadang mematikan semangat untuk menulis. Di tempat saya pak, guru Bindo terbatas jumlah lokal banyak, jd kami dapat beban mengajar 24 jam seminggu, ditambah dengan tugas tambahan, plus buat ‘ritual’ perangkat lengkap dengan bahan ajar. Pengen sih….nulis cerpen, artikel,tapi gak tahu tuh kapan bisanya….Namun mudah2ah dengan adanya AGUPENA ini niat dan kemauan menulis dapat terus ditingkatkan khususnya bagi bapak dan ibu guru.

    Reply

  2. DENI KURNIAWAN AS'ARI on Tuesday, 17 March 2009 (pukul 6:32 am)

    Boleh saja kita sedih, tetapi jangan berlama-lama ya…
    Ayo bu, gabung dengan AGUPENA untuk mulai melangkah dan -berjalan- bersama.

    Ingat : MEMBANGUN SEMANGAT BERBAGI.

    Ada guru yang senang nulis cerpen silakan, puisi boleh, artikel okey, buku bagus. Pokoknya apa saja, tulisan yang bermanfaat bagi kita dan dunia pendidikan Indonesia.

    Selamat bergabung…
    Makasih

    Baca juga tulisan DENI KURNIAWAN AS’ARI berjudul BEDAH BUKU dan WORKSHOP PENULISAN ARTIKEL ISPI-AGUPENA

    Reply

  3. Sardono Syarief on Tuesday, 14 April 2009 (pukul 1:26 pm)

    Pak Deni,yth…
    Membaca artikel Bapak,saya jadi amat terpacu untuk bisa turut nulis di Agupena Jateng.
    Namun ada yang perlu saya tanyakan pada Bapak nih…!
    Bisakah buku fiksi karya guru yang diterbitkan oleh lembaga penerbitan (anggota Ikapi)diusulkan nilainya sebagai syarat kenaikan pangkat lewat angka kredit, Pak?
    Jika bisa, seberapa besar nilai nominalnya untuk buku yang sudah beredar di tingkat nasional?
    Dan jika tidak bisa,apakah tidak mengurangi semangat menulis bagi guru yang memang cuma terfokus pada tulisan jenis fiksi saja, Pak?
    Gaimana solusinya?
    Trims.

    Reply

  4. DENI Kurniawan As'ari on Tuesday, 14 April 2009 (pukul 7:40 pm)

    Yth.
    Bapak Sardono Syarief

    Makasih atas pertanyaan atau respon Bpk.
    Pertanyaan ini sangat bagus dan bermanfaat.

    Untuk yang pertama, insya Allah nanti akan kami bahas di tingkatan pengurus Agupena Jawa Tengah, termasuk kemungkinan organisasi Agupena memberikan masukan, saran dan rekomendasi kepada pihak-pihak yang terkat agar dunia kepenulisan di kalangan guru lebih optimal, bergairah dan semakin kondusif. Saya sendiri punya visi agar Agupena menjadi wadah yang bermanfaat bagi pengurus, anggota, rekan guru dan kemajuan dunia pendidikan.

    Untuk yang kedua, kalau boleh saya berpendapat bahwa motivasi menulis barangkali tidak hanya sekedar untuk angka kredit atau dapat uang saja ya…Pak, tetapi misal untuk aktualisasi diri, berbagi ilmu atau pengalaman (amal), iku membangun peradaban, memberi pencerahan dan aspek lain yang sifatnya pengabdian. Tentu tidak melupakan seperti apa yang diharapkan Bpk, cuma hal tersebut tidak menjadi motivasi utama.

    Sekali lagi makasih atas pertanyaan dan perhatian Bapak.
    Saya mengajak Bapak Sardono yang telah berpengalaman menulis untuk bergabung di Agupena, tularkan kemapuan dan pengalaman kepada rekan sejawat lain termasuk kepada saya.
    Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan kontribusi atau manfaat bagi manusia lainnya.

    Salam Agupena
    :wink: :wink: :wink:

    Baca juga tulisan DENI Kurniawan As’ari berjudul Sawali, Guru Sastra untuk Semua

    Reply

  5. Diah Zuikaningsih on Thursday, 16 April 2009 (pukul 12:12 am)

    Ythh. Pak Deni
    Artikel ini bisa menggugah semangat para pendidik untuk berkreativitas dalam menulis.
    Keinginan menulis sebuah karya sastra ada dalam benak setiap guru, namun karena kesibukannya mengajar. Jadi, hal penundaan dan kemalasan. Perlu diperhatikan, “marilah budayakan menulis”.
    Ciptakan bahan ajar yang kreatif, inovatif, dan di buat oleh pendidik sesuai bidangnya.
    Terima kasih :grin: :grin: :grin:

    Reply

    DENI KURNIAWAN AS'ARI Reply:

    Alhamdulillah, kalau memang begitu Bu Diah.
    Sesibuk apapun, kalau kita ada minat, insya Allah bisa…
    Makasih udah berkunjung.

    Reply

  6. Sewa Projector Murah on Wednesday, 2 September 2009 (pukul 9:53 pm)

    saya sedih melihat seorang pengajar untuk menulis,jangan menulis untuk naik jabatan,nulis dipapan tulis aja udah malas,karena mengandalkan buku paket

    Reply

    admin Reply:

    @Sewa Projector Murah, Kami juga ikut sedih… :sad:

    Reply

  7. mohamad slamet on Friday, 4 September 2009 (pukul 9:57 am)

    Insyaalloh, semoga teman-teman guru di pati tergugah untuk menulis. Kami ingin sekali bisa menulis yang kreatif, inovatif, dan produktif, hanya sayang wadah atau wahana itu di pati belum ada.

    Reply

    admin Reply:

    @mohamad slamet, Untuk Pati kami sedang mendorong teman-teman untuk membentuk Agupena Cabang Kabupaten Pati.
    Komunikasi dapat dilakukan dengan Bu Izzul Hasanah (SMK Tunas Harapan Pati)

    Reply

  8. mohamad slamet on Friday, 4 September 2009 (pukul 9:58 am)

    :oops: Ya, semoga masih ada semangat menulis teman-teman di Pati.

    Reply

    admin Reply:

    @mohamad slamet, Akan selalu ada semangat itu.

    Reply

  9. Nunik Widiasih on Tuesday, 15 September 2009 (pukul 7:35 am)

    Dengan bantuan organisasi ini, semoga para guru Jateng dapat terpacu tuk menuangkan ide atau gagasannya dalam bentuk tulisan..

    Bravo guru2 jateng……………………….

    Reply

    admin Reply:

    @Nunik Widiasih, Insya Allah, Bu Nunik. Makasih atas support ibu. :razz:

    Reply

  10. slamet widiantoro S.Pd on Wednesday, 30 September 2009 (pukul 10:25 pm)

    wah ingin aku ikut organisasi ini gimana carannya? bisa kontak telepon? katanya mau ada di kabupaten pati…
    minta nomor teleponya ya!
    saya ngajar di SMP negeri 1 Gabus Pati
    .-= slamet widiantoro S.Pd´s last blog ..simbol-simbol dalam plastik =-.

    Reply

    admin Reply:

    @slamet widiantoro S.Pd, Boleh Pak Slamet.
    Komunikasi dengan Bu Izzul Hasanah (Guru SMK Tunas Harapan Pati)
    Nomornya saya harus ijin dulu ke beliau.

    makasih

    Reply

  11. SlaMET WIDIANTORO, S.Pd on Sunday, 11 October 2009 (pukul 2:01 am)

    WAH SAYA SUKA MENULIS TAPI SEDIKIT MEDIA DI SINI UNTUK MENULIS TOLONG minta info media untuk menulis ….sAYA MASIH BARU DI jATENG.
    UNTUK KIRIM TULISAN GIMANA CARANYA ??

    Reply

    Admin Reply:

    @SlaMET WIDIANTORO, S.Pd, Media untuk menulis banyak banget, mdia cetak maupun elektronik.

    Mau kirim tulisan langsung aja ke agupena64@gmail.com dilampiri photo yang paling keren.

    Reply

  12. Dian W on Tuesday, 17 November 2009 (pukul 1:12 pm)

    Salam kenal,
    saya guru juga, tinggal di jakarta.
    Wah, salut saya dengan pengorganisasian guru penulis seperti ini.
    Sekali-sekali saya menulis cerpen untuk anak-anak saja, sebagian sempat diterbitkan di majalah CnS Junior Jakarta (short stories).
    Tidak sengaja, saya ketemu blog ini.
    Seorang teman berujar menulis itu bersumber dari hati.
    Jadi kesadaran dari hati para bapak/ibu guru dulu yang harus muncul untuk menulis, walaupun dengan banyak menulis dapat meningkatkan pangkat guru dalam struktur PNS.

    Semoga tercapai idealisme Agupena Jateng.

    Salam,
    DW

    Reply

    admin Reply:

    @Dian W, Makasih atas apresiasi dan dukungan bapak. Kami masih belajar dan belajar.

    Tulisan bapak, boleh dishare ke blog ini agar lebih bermanfaat…

    Menulis bagi guru masih harus terus diperjuangkan…..

    Reply

  13. Istikumayati on Tuesday, 22 June 2010 (pukul 8:19 pm)

    Bagus sekali….saya sangat mendukung adanya agupena…
    Tapi kok hanya ada di Jawa Tengah saja ya?
    Saya harap di Jatim juga segera dibuka….Saya bersedia ikutan…

    Salam inspiratif
    Istikumayati
    SMAN 1 Krian-Sidoarjo

    Reply

    Deni Reply:

    @Istikumayati, Makasih. Untuk Jatim sudah ada pengurus wilayahnya. Silakan hubungi Bu Dra. Khusnul dengan alamat SDN Jangur Kecamatan Sumberasih.

    Selamat bergabung :grin:

    Reply

  14. Istikumayati on Tuesday, 22 June 2010 (pukul 9:13 pm)

    Dimana saya harus menghubungi ibu Khusnul?? Saya tidak tahu tentang SD yang dimaksud. Apa tidak ada email atau alamat yg lain??

    Reply

    Deni Reply:

    @Istikumayati, No HP BU KHUSNUL, 081553195888. mks ya…selamat bergabung!

    Reply

  15. asep saepullah on Wednesday, 7 July 2010 (pukul 10:21 pm)

    Salam kenal,
    saya guru juga, tinggal di cirebon.
    wah,saya salut dengan pengorganisasian guru penulis seperti ini.
    apakah di cirebon sudah ada pengurusnya?

    Salam,

    Reply

    Deni Reply:

    @asep saepullah, salam kenal kembali. Wah, makasih atas support Pak Asep…kami jadi lebih semangat nih…hehe.. :roll:

    Jabar sudah ada, Cirebon silakan diatanyakan kepada ketuanya, Pak Erwan Juhara (Guru SMA N 1o Bandung)

    :shock:

    Reply

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP