Thursday, 26 February 2009 (04:22) | 75 views | 1 komentar
Oleh Teguh Trianton
(Staf edukatif SMK Widya Manggala Purbalingga)
Sebenarnya dunia tulis-menulis termasuk jurnalistik adalah wilayah yang tidak asing bagi guru, juga siswa. Hakikat jurnalistik adalah budaya literasi atau baca-tulis. Tradisi yang sangat familiar bagi dunia pendidikan atau akademik. Namun, dalam kenyataanya masih banyak guru yang merasa asing dengan dunia jurnalistik. Konon, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi kendala rendahnya tradisi literasi di kalangan pendidik. Alhasil, banyak guru yang harus menyesali nasib, menjadi manusia yang telat informasi. Selain itu, mahalnya kertas sebagai materi pokok untuk membuat bahan bacaan (buku, majalah, koran) juga menjadi faktor penghambat keintiman guru dengan dunia jurnalistik.
Memasuki abad ke-21, kita dikejutkan oleh pertumbuhan teknologi komunikasi dan informasi yang bergerak sangat cepat. Internet menjadi piranti utama pendobrak kebuntuan saluran informasi yang selama ini didominasi perangkat cetak.
Praktik-praktik jurnalistik juga mulai mengadopsi konsep cyber journalism atau jurnalistik dunia maya. Konsekuensinya, pertukaran informasi nyaris bebas kendala. Semua informasi dapat diakses dalam hitungan detik.
Setali tiga uang, dunia pendidikan juga menghadapi tantangan yang sama. Kemudahan akses informasi membuat distribusi ilmu pengetahuan jadi gampang. Materi ajar sangat mudah didapatkan. Kini, tak ada alasan lagi bagi kalangan pendidik untuk tidak mengenal dunia jurnalistik.
Belakangan, konsep jurnalisme maya mulai mengenalkan bentuk baru neo-jurnalisme yang disebut citizen journalism atau jurnalisme warga. Konsep ini member peluang yang sama besar pada seluruh penduduk dunia, termasuk guru untuk melakoni praktek kerja jurnalistik.
Bentuknya bermacam-macam, mulai dari yang sangat sederhana seperti blog, facebook, forum mailing list, hingga yang cukup rumit yaitu website pribadi. Alternatif lain, kita bisa mendaftar sebagai member pada penyedia portal berita on line secara gratis. Di situ kita bisa berinteraksi, aktif menyumbangkan informasi tanpa dikenai biaya.
Siapa pun, di mana pun, dengan dukungan perangkat (hardware-software) yang tersedia, dapat menjadi seorang jurnalis, tak terkecuali guru. Ia dapat menciptakan varian baru jurnalisme warga. Dengan mengadopsi konsep yang sama guru dapat melahirkan jurnalisme guru.
Jurnalisme guru banyak memberikan manfaat, di antaranya, pertama sebagai media pertukaran informasi, kedua sebagai media berekspresi, ketiga sebagai sarana belajar, mengajar dan meng-up date ilmu pengetahuan. Dan keempat, sebagai sarana latihan menulis profesional.
Dengan mengembangkan jurnalisme. guru maka kebekuan dan kekakuan hubungan guru dengan dunia dan wacana literasi dapat teratasi. ***




endang | Friday, 25 December 2009 @ 9:33 pm
Trima kasih, Pak Teguh.
Info Pak Teguh bermanfaat sekali, saya ingin belajar menulis.
Reply