Guru, Pemilu 2009, dan Sangkar Burung
Sunday, 15 February 2009 (14:47) | 726 views | 11 komentar
Oleh: Zulkarnaen Syri Lokesywara
(Guru SMAN 1 Jatinom-Klaten)
Pemilihan Umum untuk menentukan para wakil rakyat yang akan duduk di kursi parlemen menurut rencana akan diselenggarakan pada bulan April 2009. Janji-janji menarik dihamburkan. Pesan yang ingin disampaikan jelas: Pilih Aku! Agar tidak salah pilih wakil rakyat yang antidemokrasi, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah tidak memilih wakil rakyat yang punya sangkar burung di rumahnya!
Pada masa jayanya, kelompok dagelan Srimulat sempat memopulerkan istilah “perikebinatangan” untuk menyebut individu atau kelompok yang dalam hidupnya memperhatikan hak hidup hewan secara layak. Hanya lawakan memang, tetapi jika ditelaah lebih dalam sungguh bukan sekadar sebuah lawakan. Sentilan khas Srimulat tersebut menghentak kesadaran akan posisi manusia sebagai makhluk paling sempurna di muka bumi. Nilai-nilai kemanusian dijumpai dalam istilah perikebinatangan tersebut, seperti kasih sayang, keadilan, solidaritas, dan juga demokrasi.
Belajar Demokratis
Ketika film animasi Finding Nemo dilepas ke konsumen, sambutan penonton di berbagai belahan dunia sungguh luar biasa. Yang lebih luar biasa lagi adalah dampak negatifnya. Film tersebut mendorong orang untuk menangkap dan memelihara “ikan nemo” (clown fish) dalam akuarium yang ukurannya sangat jauh lebih kecil dibandingkan dengan habitat aslinya di samudera. Untuk memuaskan nafsu manusia, ikan-ikan clown terpenjara!
Nafsu manusia juga yang menyebabkan ribuan bahkan jutaan burung terpaksa hidup di dalam sangkar sendirian. Mereka tidak dapat berinteraksi dengan jenisnya. Tidak dapat terbang atau menarik perhatian lawan jenisnya dengan suara atau keelokan bulu-bulunya. Mereka tidak dapat melampiaskan naluri seksualnya, sehingga membatasi perkembangan generatifnya. Burung-burung pun terpenjara! Burung tidak butuh sangkar. Yang dibutuhkan adalah sarang! Romo Mangun dalam Burung-burung Manyar melukiskan betapa sangat berharganya sebuah sarang bagi burung manyar (Ploceus manyar). Dengan sarangnya, manyar jantan mencari betina pasangannya sebagai ibu bagi anak-anaknya kelak. Jantan akan membangun sarang dari daun alang-alang, tebu, atau daun lain yang panjang dengan arsitektur yang khas. Bermodalkan sarang tersebut, sang jantan memikat manyar betina.
Sekitar tahun 1980-an, suara kicauan prenjak menjadi pertanda akan datangnya tamu bagi empunya rumah. Namun di tahun 2000-an, kicauan prenjak diartikan sebagai “tetangga sebelah beli burung baru”. Sangkar bukanlah rumah burung. Ia adalah penjara yang menyakitkan dan membinasakan! Burung butuh ruang untuk mengekspresikan atau mengaktualisasikan dirinya. Mereka butuh kebebasan menentukan kehidupannya, seperti halnya manusia. Namun, kesadaran semacam ini rupanya tidak populer. Dengan dalih pecinta binatang, burung dan aneka satwa lainnya “dilindungi” dalam sangkar besi berkunci.
Disadari atau tidak, perilaku mengurung hewan dalam sangkar adalah perilaku antidemokrasi. Salah satu pilar demokrasi adalah kebebasan. Jika dalam kehidupannya individu merampas kebebasan kelompok atau makhluk lain, maka hakikatnya ia telah melalaikan salah satu pilar demokrasi. Ia antidemokrasi!
Tidak perlu saling tuduh siapa yang antidemokrasi. Yang paling penting dilakukan adalah belajar menjadi demokratis dalam segala peran yang dimainkan. Guru dapat memainkan peran strategis dalam upaya merubah mindset para siswa, baik melalui pengajaran yang diampunya maupun melalui tingkah laku sehari-hari. Menghargai pendapat siswa, memberikan kesempatan siswa menyampaikan kritik, atau menyerahkan keputusan pembentukan kelompok diskusi kepada siswa merupakan tindakan-tindakan yang mendorong siswa berperilaku demokratis. Tuhan memberikan anugerah akal dan perasaan bukan tanpa tujuan, kecuali digunakan untuk memelihara dunia dan segala isinya.
Untuk mengetahui seberapa jauh demokratisnya para calon legislatif yang akan dipilih pada Pemilu 2009 nanti, ada baiknya track record para calon diteliti lebih detail, agar tidak salah pilih wakil rakyat. Kita pilih caleg yang menghargai dan mampu menegakkan demokrasi, yaitu caleg yang tidak punya sangkar burung! ***
Tulisan lain yang berkaitan:



tulisan yang bagus, mantab, dan mencerahkan, pak zul. sering2 kirim tulisan, ya, pak. terima kasih dan salam agupena.
Reply
Zulkarnaen SL. Reply:
February 18th, 2009 at 10:53 pm
@admin, numpang beken Mas Deni. Tx sudah mau nerima tulisanku. Klo ada tulisan lain, Insya Allah tak duplikasi ke sini.
Reply
semoga bisa dicontoh oleh semua nya yah mas
nice artikel…
Reply
Zulkarnaen SL. Reply:
February 18th, 2009 at 10:51 pm
@harianku, Amin ya Rabbal alamiin. Paling gak berusaha dari diri sendiri dulu. Tx comment-nya.
Reply
Reply
Zulkarnaen SL. Reply:
February 18th, 2009 at 10:50 pm
@Adhi Pras, Katanya, setahun pertama pernikahan, orang tercantik di dunia adalah isterinya. Tahun ke-2 sampai ke-4, semua wanita di dunia cantik. Mulai tahun ke-5, para suami akan bilang, semua wanita di dunia itu cantik, kecuali isterinya! Tp menurutku, dari tahun pertama pernikahan, istriku bukan orang paling cantik, masih ada Tamara B., Luna Maya, dll.
Reply
majulah terus para guru indonesia…
Reply
Zulkarnaen SL. Reply:
February 18th, 2009 at 10:46 pm
@Masenchipz, Gak setuju aku Mas. Lbh baik “para guru” nya dihilangi. Majulah terus Indonesia…
Reply
Semoga gak hanya omdo. Tulisan menarik!
Reply
he poro calon wakil rakyat lan calon presiden
eling-elingen janji-janji suk nek dadi ra mbok tepati akherat menunggumu
byme
Reply
Ngomong2 soal burung dan sangkarnya, itu tidak berlaku hanya di politik lho, mas. Bila kita lihat pendidikan kita juga analoginya sama. Gurunya makin pandai, siswanya jadi burung.
. Tiaphari direcoki dengan teori bla…bla…namun tak pernah kita tanya apa pandangan mereka terhadap sebuah opini yang terjadi di masyarakat. Kapan ya mas pendidikan kita bisa menerima pola pikir bebas namun dijalur kebenaran? kasihan siswa saya disini nih….berapa kali ganti kurikulum ternyata itu tak mampu mengubah cara guru kita mengajar di depan kelas…..betapa menyedihkan……
Reply