Guru sebagai Peneliti

Saturday, 14 February 2009 (05:08) | 212 views | 3 komentar

Oleh: Sawali

Ketika Depdiknas meluncurkan model penelitian berbasis tindakan kelas (PTK), predikat guru pun bertambah. Guru tak hanya sebatas menjadi “tukang ajar” yang ruang geraknya dibatasi empat dinding ruang kelas, tetapi diharapkan juga menjadi seorang peneliti. Melalui PTK yang dilakukan, guru diharapkan menjadi “pionir” sekaligus “inovator” pembelajaran yang mampu menciptakan atmosfer pembelajaran secara menarik dan memikat sehingga siswa didiknya merasa nyaman dan menyenangkan ketika mengikuti proses pembelajaran.

FIGPTK sangat memberikan peluang kepada para guru untuk melakukan hal itu. Mereka memiliki kebebasan secara kreatif untuk mengujicobakan berbagai pendekatan, strategi, metode, media, atau bahan ajar ke dalam proses pembelajaran yang dikelolanya. Ibarat dokter, gurulah yang tahu persis “penyakit” yang diderita “pasien”-nya. Berdasarkan diagnosis yang dilakukan, guru diharapkan dapat memberikan obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan sang pasien.

”Naluri” seorang guru sudah pasti akan terus berupaya untuk mencari cara-cara yang tepat agar siswa didiknya tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang cerdas, kreatif, kritis, dan mandiri; terbebas dari cengkeraman berbagai macam ”penyakit” akut. Sayangnya, cara-cara yang diterapkan guru dalam kegiatan pembelajaran seringkali berlangsung secara dadakan, tidak terencana dan terpola, berlangsung sesaat, dan (hampir) tak ada tindak lanjutnya. Itulah sebabnya, gagasan-gagasan brilian dari para ”mahaguru” dari generasi ke generasi tak bisa terwariskan kepada para guru yang lahir kemudian. Mereka tak bisa belajar dari pengalaman dan sejarah masa silam akibat parahnya proses dokumentasi dan minimnya akses informasi terhadap cara-cara jitu dalam mengelola pembelajaran secara menarik dan menyenangkan. Tidak berlebihan jika dinamika pembelajaran dalam dunia pendidikan kita tampil begitu stagnan dan membosankan. Imbasnya, generasi yang lahir dari ”rahim” dunia pendidikan kita (nyaris) gagal menjadi sosok yang cerdas dan berkarakter.

FIG2Atmosfer pembelajaran yang stagnan dan membosankan semacam itu agaknya mendapatkan banyak respon dari para pakar, pengamat, dan pemerhati dunia pendidikan. Harus ada perubahan paradigma dalam pengelolaan pembelajaran; dari pengelolaan yang serba dadakan dan tak terpola menjadi pengelolaan pembelajaran yang terencana, terprogram, dan jelas tindak lanjutnya. Oleh karena itu, guru perlu terus dirangsang untuk menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran yang lebih kontekstual dan selaras dengan semangat zamannya.

PTK sejatinya merupakan upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengelola pembelajaran secara menarik dan menyenangkan sehingga memiliki imbas positif terhadap lahirnya generasi masa depan yang cerdas, kritis, dan berkarakter melalui kegiatan perencanaan, pelaksanaan aksi (tindakan), observasi, dan refleksi berdasarkan prosedur ilmiah. Setiap perubahan yang terjadi, baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun hasil-hasilnya, perlu didokumentasikan dengan baik, untuk selanjutnya dianalisis dan direfleksi sehingga memiliki kejelasan alur dan penalaran dari sisi keilmuan.

Namun, harus diakui, meraih predikat guru sebagai peneliti agaknya juga bukan perkara gampang. Selain dukungan kebijakan, apresiasi, dan finansial yang masih minim, juga belum kondusifnya budaya meneliti di kalangan guru. Ini artinya, perlu ada kesadaran kolektif dari segenap komponen pendidikan untuk menciptakan atmosfer yang benar-benar kondusif agar predikat guru sebagai peneliti itu tak terjebak ke dalam slogan belaka. ***

Tulisan lain yang berkaitan:

img Guru Ngeblog: Mengapa Tidak? (12 May 2009, 154 views, 7 respon)
img Peningkatan Keterampilan Mendengarkan (Bagian I) (8 May 2009, 3,792 views, 17 respon)
img Sertifikasi Model Portofolio dan Profesionalisme Guru (13 April 2009, 364 views, 3 respon)

3 komentar terhadap “Guru sebagai Peneliti”

  1. Rusiyah | Wednesday, 2 December 2009 @ 9:35 pm

    PTK sebaiknya di lampiri dokumen yang jelas,riil berupa foto atau vidio sehingga teman guru dapat melihat langsung bukan hanya ewat tulisan yang kadang belum sesungguhnya.

    Reply

  2. maz guru | Tuesday, 9 March 2010 @ 12:29 am

    bagaimana cara mengetahui sebuah PTK itu datanya benar-2 berasal dari pemelajaran yang sudah dilaksanakan bukan dari menjiplak?bisa saja to…sekaliber lomba nasional saja dibuat dari data palsu?

    Reply

  3. Noni | Monday, 31 May 2010 @ 11:21 pm

    ide untuk melekukan PTK ada.karena ternyata dilapangan yang namanya permasalahan pasti ada. tapi saya terkendala dengan bagaimana cara mengembangkan kalimat. kadang kalimat suka berulang ulang ada di pendahuluan .permasalahan maupun pemecahan masalah. bagai mana cara mengembangkan kalimat yang baik?

    Reply

Komentar Anda?


«
»
IP